Takhrij Hadith Bulan Ramadhan Permulaannya Adalah Rahmat, Pertengahannya Adalah Ampunan Dan Akhirannya Adalah Pembebasan Dari Neraka

Salah satu hadits yang kerap dipersoalkan di bulan Ramadhan adalah hadits tentang permulaan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirannya adalah pembebasan dari neraka.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Ada dua redaksi (matan) hadits tentang ini.

Hadits Pertama:

أوَّلُ شَهْرِ رَمَضانَ رَحمَةٌ وأوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Bulan Ramadhan permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirannya adalah pembebasan dari neraka”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan (I/14), Ibnu Asakir dalam Tarikh (XXIIV/19), Khathib al-Baghdadi dalam al-Muwadhdhih (II/149), al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa al-Kabir (III/437) dan lain-lain dari shahabat Abu Hurairah.

Hadits ini memang lemah. Letak kelemahannya adalah perawi yang bernama Maslamah bin Shalt yang tidak dikenal, dan perawi yang bernama Sallam bin Sulaiman bin Siwar menurut Ibnu Adi dianggap munkarul hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan (VI/33) berkata, bahwa Masalamah bin Shalt adalah matruk haditsnya. Ia juga menukil dari al-Azdi dan menilai bahwa Maslamah adalah dhaif serta haditsnya tidak boleh dibuat hujjah.

Al-Khathib al-Baghdadi mengomentari Sallam bin Sulaiman sebagai orang yang lemah haditsnya.

Dengan demikian hadits ini adalah dhaif sekali.

Hadits Kedua:

Terkandung dalam hadits yang panjang dan di dalamnya terdapat lafazh hadits berikut:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“(Ramadhan) adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirannya adalah pembebasan dari neraka”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (III/191) dengan isyarat lemah, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (III/305), al-Haitsami dalam Bughyah al-Bahits (I/412), dan Ibnu Adi dalam al-Kamil (V/293).

Sebagaimana dalam Syuab al-Iman-nya al-Baihaqi, hadits ini diriwayatkan melalui jalur Ali bin Zaid bin Jud’an dari Tabi’in Said bin al-Musayyab dari Shahabat Salman al-Farisi.

Terkait hadits ini, al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ al-Kabir (I/26822) berkata:

قَالَ الحَافِظُ ابنُ حَجَرٍ فِى أطْرَافِهِ : مَدَارُهُ عَلَى عَلِىِّ بنِ زَيْد بنِ جُدْعَان وَهُو ضَعِيْفٌ وَيُوْسُفُ بنُ زِيَادٍ الرَّاوِى عَنْه ضَعِيْفٌ جِدًّا وَتَابَعَهُ إِياَسٌ بنُ عَبْدِ الغَفَّارِ عَنْ عَلِىّ بنِ زَيْد عِنْدَ البَيْهَقِى فِى شُعَبِ الإيْمَانِ قَالَ ابنُ حَجَر : وَإِياَسٌ مَا عَرَفْتُهُ.

“Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Athraf berkata: “Letak kelemahan dalam hadits tersebut adalah perawi Ali bin Zaid bin Jad’an dan dia dhaif, dan Yusuf bin Ziyad yang meriwayatkan darinya yang dhaif sekali. Dan dia dikuatkan (muta’baah) oleh Iyas bin Abdul Ghaffar dari Ali bin Zaid dalam riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dan Iyas aku tidak mengenalnya”.

Dengan ini dapat difahami, status hadits di atas mula-mula sangat dhaif tetapi kerana adanya mutaba’ah (salah satu penguat), maka haditsnya naik menjadi dhaif biasa.

Menurut Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhami dalam tahqiq-nya terhadap Shahih Ibni Khuzaimah, bahwa hadits ini dhaif karena Ali bin Zaid bin Jud’an adalah lemah.

Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Ahwadzi (III/449) berkata, bahwa banyak ulama yang menilai Ali bin Zaid bin Jud’an adalah perawi lemah tetapi dinilai “shaduq” oleh Imam Tirmidzi. Sedangkan derajat “shaduq” jika yang mengatakan adalah Imam at-Tirmidzi, menurut Ahmad Syakir, sebagaimana dikutip Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam al-Manhal al-Lathif (hal. 130), adalah indikasi perawi hadits hasan.

Imam Badruddin al-Aini dalam Umdah al-Qari (X/278), setelah menyampaikan hadits tersebut, berkata:

وَلاَ يَصِحُّ إسْنَادُهُ وَفِيْ سَنَدِهِ إِياَسٌقَالَ شَيْخُنَا الظَّاهِرُ أَنَّهُ ابنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ صَاحِبُ ( المِيْزَان ) إِيَاسُ بن أبِي إِيَاسٍ عَنْ سَعِيْدٍ بن المُسَيَّبِ لاَ يُعْرَفُ وَالخَبَرُ مُنْكَرٌ

“Sanadnya tidak shahih dan didalam sanadnya terdapat Iyas. Guru kami (al-Iraqi) berkata: “Yang zhahir, Iyas adalah Ibnu Abi Iyas. Penulis kitab al-Mizan berkata: “Iyas bin Abi Iyas dari Said bin Musayyab tidak dikenal. Dan haditsnya munkar”.

Hadits yang dinilai munkar oleh Badruddin al-Aini ini adalah hadits riwayat Harits bin Usamah dalam Musnad-nya dengan perawi yang berbeza dengan perawi Ibnu Khuzaimah, meski semua meriwayatkan dari jalur Said bin Musayyab dari Salman al-Farisi. Dengan demikian, riwayat yang dinilai munkar haditsnya hanya riwayat dari Harits bin Usamah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan (I/475) menulis tentang Iyas:

إِيَاسُ بن أبِي إِيَاسٍ عَنْ سَعِيْدٍ بن المُسَيَّبِ لاَ يُعْرَفُ أيْضًا وَخَبَرُهُ مُنْكَرٌ وَذَكَرَهُ العُقَيْلِيّ فَقَالَ مَجْهُولٌ وَحَدِيْثُهُ غَيْرُ مَحْفُوْظٍ

“Iyas bin Abi Iyas dari Said bin Musayyab tidak dikenal juga, dan haditsnya munkar. Al-Uqaili menyebutkannya dan berkata: “Ia majhul dan haditsnya tidak mahfuzh”

Lalu apa yang dimaksud dengan “munkar” tersebut? Apakah ia masuk kategori hadits yang sangat dhaif sebagaimana maklum dalam ilmu mushthalah hadits hingga tak dapat lagi diamalkan sama sekali dalam hal apapun? Mari kita kaji lebih lanjut.

Hadits munkar adalah hadits dengan perawi yang kesalahannya terlalu banyak, atau banyak sekali kelalaiannya, atau terlihat jelas kefasikannya. Pertanyaannya, apakah Iyas bin Abi Iyas demikian adanya? Tidak sama sekali. Dia hanya perawi yang majhul dan tidak sampai pada level seperti itu. Jika keadaan dia seperti itu tentu ulama tidak akan menilainya majhul lagi, karena jelas ia cacat.

Atau menurut definisi sebagian ulama, hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan perawi dhaif yang menyelisihi hadits yang diriwayatkan perawi tsiqah. Pertanyaannya, manakah hadits dengan perawi tsiqah dalam masalah ini yang diperselisihi hadits diatas? Adakah ulama yang mengatakan demikain? Tidak ada sama sekali kecuali analisa sebagian pengkaji yang hanya berusaha meraba-raba maksud dari Imam Badruddin al-Aini saja. Apalagi tidak ada ayat atau hadits yang secara sharih (jelas) diperselisihinya yang itu merupakan indikasi munkar dalam matannya.

Jika Iyas bin Abi Iyas tidak masuk dalam dua definisi diatas, lalu apa maksud istilah haditsnya munkar diatas? Coba kembali kita fahami dengan seksama ucapan al-Aini. Ia hanya mengatakan “Haditsnya munkar” dan itu sifatnya perawi bukan sifatnya hadits. Dan kemungkinan besar, maksud dari munkar tersebut ialah istilah yang disebutkan ulama mutaqaddimin, bahwa munkar adalah hadits yang diriwayatkan perawi yang hanya meriwayatkan satu hadits saja. Maksudnya, Harist bin Abi Utsamah dalam Musnad-nya, dari Abdullah bin Bakr dari  Iyas bin Abi Iyas dan Iyas tersebut hanya meriwayatkan satu hadits itu saja.

Imam Abdul Hayyi al-Luknawi dalam ar-Raf’ wa at-Takmil (hal. 201) berkata:

قَالَ الزَّيْنُ العِرَاقِيّ فِي تَخْرِيْجِ اَحَادِيْثِ احْيَاء العُلُوم كَثِيْرًا مَا يُطْلِقُونَ المُنْكَرَ عَلىَ الرَّاوِي لِكَوْنِهِ رَوَى حَدِيْثًا وَاحِدًا

“Zain al-Iraqi dalam Takhrij Ihya berkata: “Banyak sekali ulama mengucapkan istilah munkar untuk perawi karena dia meriwayatkan satu hadits saja”.

Dan apa yang dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar di atas terdapat indikasi kesana. Dan jika ini benar, maka hadits ini bukan terkategorikan munkar yang masuk peringkat sangat dhaif, tetapi dhaif biasa disebabkan majhulnya perawi.

Dan mungkin inilah maksud Ibnu Arraq dalan Tanzih asy-Syari’at (II/57) yang menyebutkan istilah munkar boleh diamalkan dalam fadhail amal:

والمُنْكَرُ مِنْ قِسْمِ الضَّعِيْفِ وَهُوَ مُحْتَمَلٌ فِي الفَضَائِلِ

“Dan munkar adalah termasuk bagian hadits dhaif. Dan ia dimaafkan dalam fadhilah amal”

Kesimpulan

Hadits pertama statusnya sangat dhaif. Sedangkan hadits kedua berstatus dhaif biasa tidak sampai masuk peringkat dhaif sekali. Andaipun hadits yang kedua ini juga dhaif sekali, tetapi karena terdapat riwayat lain yang sederajat, maka sesuai dengan kaidah yang dicetuskan al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh as-Suyuthi, derajatnya naik menjadi dhaif biasa, sehingga dapat diamalkan dalam fadhilah amal, targhib wa tarhib dan lain-lain.

Sayyid Alawi al-Maliki dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail (hal. 248) berkata:

قَالَ الاِمَامُ الرَّمْلِيّ الأحَادِيْثُ الشَدِيْدَةُ الضُّعْفِ اذاَ انْضَمَّ بَعْضُهَا اِلَى بَعْضٍ يُحْتَجُّ بِهَا فِي هَذَا البَابِ

“Imam Ramli berkata: “Hadits-hadits yang sangat dhaif ketika dikumpulkan sebagian darinya ke sebagian yang lain, maka dapat dibuat hujjah dalam bab ini (fadhail amal dll)”.

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi (I/177) yang mengutip pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar berkata.

بَلْ رُبَّمَا كَثُرَتْ الطُرُق حَتَّى أَوْصَلَتْه إلىَ دَرَجَةِ المَسْتُوْرِ والسَّيّءِ الحِفْظِ بِحَيْثُ إذَا وُجِدَ لَهُ طَرِيْقٌ آخَرُ فِيْهِ ضَعْفٌ قَرِيْبٌ مُحْتَمِلٌ ارْتَقَى بِمَجْمُوعِ ذَلِكَ إلىَ دَرَجَةِ الحَسَنِ

“Bahkan, terkadang banyaknya jalan riwayat hingga sampai kepada derajat perawi mastur dan yang jelek hafalannya, yang jika ditemukan jalan riwayat lain yang tidak sangat dhaif, maka ia naik ke derajat hasan sebab perhimpunannya”

Ulama Wahabi Membenarkan Kandungan dan Beramal Dengan Hadith Ini

Yang sedikit agak aneh adalah, kandungan hadits ini ternyata digunakan juga oleh ulama untuk menerangkan keutamaan Ramadhan, bahkan termasuk ulama Salafi Wahabi, seperti Sholih al-Munajjid dalam mukaddimah Fatawa-nya, Utsaimin dalam Fatawa Nur (I/216) juga dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail dan lain-lain. Tidak hanya itu, dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (kitab fatwa ulama Salafi Wahabi) nombor fatwa 29683, hadits di atas masuk kategori boleh diamalkan dalam fadhilah amal. Fatawa Lajnah Daimah (Arab Saudi) fatwa nombor 4145 juga menegaskan hadits tersebut dhaif biasa.

Ditulis oleh Ustaz Nur Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *