Siri Kajian Hadith: Kelebihan Berdoa Ketika Berbuka Puasa

Hadith yang sering diriwayatkan dalam bab ini ialah:

إنّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ

“Sesungguhnya saat berbuka, orang yang puasa memiliki doa yang tidak akan ditolak” (HR. Hakim dan Ibnu Majah)

Nashiruddin al-Albani dalam beberapa kitabnya, seperti Shahih wa Dhaif al-Jami’ ash-Shaghir(hadits nombor 4775), Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah (hadits nombor 1753) dan lain-lain mengatakan, bahawa hadits ini adalah dhaif. Kemudian penilaian ini pun diikuti oleh Salafi Wahabi lainnya dengan tidak mengendahkan sama sekali penilaian para huffazh dan pakar hadits terdahulu yang jauh lebih berautoriti dan kritikal berbanding al-Albani.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Mereka beralasan, bahwa dalam silsilah sanad hadits di atas terdapat perawi yang bernama Ishaq bin Ubaidillah, seorang perawi yang dinilai “majhul”, sehingga haditsnya layak dianggap dhaif.

Menurut saya, penilaian dhaif disebabkan majhulnya perawi tersebut sangatlah tidak tepat. Justeru hadits di atas adalah shahih atau paling tidak adalah hasan, kerana Ishaq bin Ubaidillah al-Madini yang dianggap majhul tersebut, menurut al-Hafizh az-Dzahabi adalah seorang yang “shaduq”. Al-Hafizh Ibnu Hibban memasukkan-nya dalam kitabnya, ats-Tsiqat. Al-Hafizh an-Nasai mengatakan “Ia tidak masalah”. Dan al-Hafizh Abu Zur’ah al-Iraqi menilai ia adalah “tsiqah”.

Al-Hafizh Ahmad bin Abi Bakar al-Bushiri al-Kanani dalam Mishbah az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah (II/81) berkata:

هَذَا إسْنَادٌ صَحِيْحٌ رِجَالُهُ ثِقاَتٌ رَوَاهُ الحَاكِم فِي المُسْتَدْرَك… قَالَ عَبْدُ العَظِيْمِ المُنْذِرِي فِي كِتَابِ التَّرْغِيْبِ وإسْحَاقُ هَذا مَدَنِيٌّ لاَ يُعْرَف قُلْتُ قَالَ الذَّهَبِيّ فِي الكاَشِف صَدُوْق وَذَكَره ابنُ حِبَّان فِي الثِّقَاتِ لِأنَّ اسْحَاق بنَ عُبَيْد الله بنِ الحَارِث قَالَ النَّسَائِي لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ وَقاَل أبُو زُرْعَة ثِقَةٌ وَبَاقِي رِجَالِ الإسْنَاد عَلَى شَرْطِ البُخَاري

“Sanad ini adalah shahih, perawi-perawinya adalah tsiqah yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak. Abdul Azhim al-Mundziri dalam Kitab at-Targhib berkata: “Ishaq ini adalah bernisbat Madani, ia tidak diketahui”. Aku (al-Kanani) berkata: “Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kasyif ia adalah “shaduq”, Ibnu Hibban menyebutkannya dalam ats-Tsiqat, kerana Ishaq bin Ubaidillah bin al-Harits dikatakan an-Nasai tidak mengapa. Abu Zur’ah menyebutnya “tsiqah”. Dan perawi-perawi sanad hadits selainnya adalah sesuai syarat al-Bukhari”

Al-Hafizh as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir (hadits nombor: 2385) juga memberikan rumus hadits “shahih”.

Anehnya dalam kajian Salafi Wahabi tersebut, kenapa sampai tidak mengetahui banyaknya huffazh hadits yang menilai perawi di atas “tsiqah” atau “shaduq” atau “maqbul”. Tentu saja sistem pengkajian dan penelitian hadits mereka patut dipertanyakan. Atau justru mereka terjebak dengan fanatik buta kepada al-Albani? Wallahu A’lam. Seharusnya, jika mereka membaca kitab Faidh al-Qadir (II/622) misalnya, al-Hafizh al-Munawi sudah sangat jelas mengutip perkataan al-Hakim yang memberikan pilihan yang jelas:

قَالَ الحَاكِم : إنْ كاَنَ إسْحَاقُ مَوْلَى زَائِدَةَ فَقَدْ رَوَى لَهُ مُسْلِمٌ وَإنْ كاَنَ ابْنَ أَبِيْ فَرْوَةَ فَوَاهٍ

“Al-Hakim berkata: “Jika Ishaq adalah bekas budak Zaidah, maka Imam Muslim meriwayatkan darinya. Jika ia adalah Ibnu Abi Farwah, maka ia sangat lemah”

Ertinya, hanya ada dua pilihan antara Ishaq adalah perawi hadits shahih atau perawi hadits sangat lemah. Dan dua tawaran pilihan ini seharusnya sudah menghilangkan sifat majhul yang didakwa oleh Salafi Wahabi diatas. kerana majhul adalah perawi yang tidak diketahui sifat ke-tsiqah-annya. Dan sesuai dengan pernyataan al-Hafizh al-Bushiri diatas, Ishaq yang dimaksudkan adalah Ishaq bin Ubaidillah, perawi hadits shahih. Dengan demikian hadits di atas adalah hadits shahih dengan tanpa ada keraguan sama sekali.

Selain dari pada itu, hadits di atas juga mempunyai syahid (penguat), iaitu hadits:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang doanya tidak ditolak, yaitu: imam yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doanya orang yang teraniaya”(HR. Tirmidzi dan Baihaqi)

Hadits yang dinilai ”hasan” oleh Imam Tirmidzi ini, menurut al-Hafizh al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (III/394) merupakan penguat hadits di atas.

Ditulis oleh Ustaz Nur Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *