Siri Kajian Hadith: Jihad Besar (Ramadan)

Matan yang terdapat diriwayatkan:

رَجَعْنَا مِنَ الْجـِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجـِهَادِ اْلأَكْبَرِ

“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”(HR. Khathib al-Baghdadi)

Dari pendapat-pendapat ustadz Salafi Wahabi yang pernah saya baca, sebahagian dari mereka ada yang menilai hadits diatas dengan munkar dan sebagian yang lain menilainya palsu. Entah manakah pendapat mereka yang bisa dipedomani. Satu yang dapat dipastikan, mereka mengkritik sanad dan juga isi matan hadits diatas.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Hadits ini memang identik dengan puasa, karena puasa adalah menahan nafsu atau memerangi hawa nafsu. Karenanya, hadits ini dikategorikan hadits-hadits yang popular seputar Ramadhan karena hadits di atas terkadang disampaikan oleh para khathib saat khutbah shalat jum’at dibulan Ramadhan.

Hadits yang masyhur dan popular tersebut, menurut al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tasdidul Qausadalah ucapan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang tabi’in Syam yang diriwayatkan dalam al-Kuna oleh an-Nasai.

Tetapi, menurut al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, sebagaimana disebutkan al-Hafizh al-Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ (I/425), hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Tarikh[XIII/493] dari shahabat Jabir dengan redaksi lengkap berikut:

قَدِمَ الـنَّبــِيُّ صلى الله عليه وسلم مِنْ غَزاةٍ لَهُ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدِمْتــُمْ خَيْرَ مقدَمٍ، وَقَدِمْتــُمْ مِنَ الْجـِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجـِهَادِ اْلأَكْبَرِ، قَالُوْا وَمَا الْجـِهَادُ اْلأَكْبَرِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari sebuah perang, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada shahabat-shahabat beliau: “Kalian datang dengan datang yang baik, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang besar”. Shahabat bertanya: “Apakah gerangan jihad besar itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun menjawab: “Berperangnya hamba melawan hawa nafsunya”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Zuhd, dan ia mengatakan sanadnya dhaifSenada dengan itu adalah al-Muhaddits al-Fattani dalam Tadzkirah al-Maudhu’at.

Al-Hafizh al-Iraqi dalam Takhrij Hadits Ihya, sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa’ (I/426), berkata:

رَوَاه بِسَنَدٍ ضَعِيْفٍ عَنْ جَابِرٍ وَرَوَاهُ الخَطِيْبُ فِي تَارِيْخِهِ عَنْ جَابِرٍ

“Diriwayatkan dengan sanad dhaif dari Jabir, dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dalam Tarikh-nya dari Jabir”.

Imam al-Bairuti dalam Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib (hadits nombor 989) yang mengutip dari Imam al-Azizi juga mengatakan sanadnya dhaif.

Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim berkata dalam Syarah al-Arbain an-Nawawiyyah:

وَهُنَاكَ كَلاَمٌ فِي جِهَادِ النَّفْسِ لِبَعْضِ العُلَمَاءِ، وَيَسْتَدِلُّوْنَ بِحَدِيْثٍ يَتَّفِقُ العُلَمَاءُ عَلىَ تَضْعِيْفِهِ (رَجَعْنَا مِنَ الْجـِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجـِهَادِ اْلأَكْبَرِ) وَهُوَ جِهَادُ النَّفْسِ.وَالمَعْنَى صَحِيْحٌ

“Dan disini ada pembicaraan dalam jihad nafsu oleh sebagian ulama. Mereka berdalil dengan hadits yang disepakati dhaif oleh ulama: ““Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar” “ yaitu jihad nafsu. Dan maknanya shahih”.

Sebenarnya jika kita tilik lebih jauh, ada penguat hadits jihad nafsu di atas. Yaitu hadits shahih:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Apakah aku tidak menunjukkan amal yang Allah dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan dapat menaikkan derajat-derajat? Shahabat berkata: “Iya wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ saat hati merasa tak suka (musim penghujan yang dingin), banyak langkahnya menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat yang lain. Itulah ribath (siap dan persiapan menghadapi musuh)”. (HR. Muslim)

Al-Muhaddits Ibnu Alan as-Shiddiqi dalam Dalil al-Falihin syarah Riyadh as-Shalihin (II/57), setelah mensyarahi hadits Muslim diatas, berkata:

وَفِي هَذَا أَعْظَمُ تَأْيِيْدٍ لِخَبَرِ رَجَعْنَا مِنَ الجِهَادِ الأصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ

 “Dan dalam ini adalah penguat besar hadits ““Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”.

Adapun dari sisi makna hadits diatas yang juga dipersalahkan oleh kalangan Salafi Wahabi, bahwa bagaimana boleh jihad perang melawan orang kafir dianggap kecil, maka jawabnya adalah, selain ucapan Syaikh Athiyyah di atas bahwa makna hadits jihad nafsu adalah shahih, juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma’ad (III/5) berikut:

[ جِهَادُ أَعْدَاءِ اللّهِ فَرْعٌ عَلَى جِهَادِ النّفْسِ ]وَلَمّا كَانَ جِهَادُ أَعْدَاءِ اللّهِ فِي الْخَارِجِ فَرْعًا عَلَى جِهَادِ الْعَبْدِ نَفْسِهِ فِي ذَاتِ قَالَ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّهُ عَنْهُ كَانَ جِهَادُ النّفْسِ مُقَدّمًا عَلَى جِهَادِ الْعَدُوّ فِي الْخَارِجِ وَأَصْلًا لَهُ فَإِنّهُ مَا لَمْ يُجَاهِدْ نَفْسَهُ أَوّلًا لِتَفْعَلَ مَا أُمِرْت بِهِ وَتَتْرُكَ مَا نُهِيت عَنْهُ وَيُحَارِبُهَا فِي اللّهِ لَمْ يُمْكِنْهُ جِهَادُ عَدُوّهِ فِي الْخَارِجِ

“((Jihad terhadap musuh-musuh Allah adalah cabangan jihad nafsu)). Ketika jihad terhadap musuh-musuh Allah kenyataannya adalah cabang dari jihadnya hamba atas dirinya sendiri dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “mujahid adalah orang yang jihad melawan dirinya sendiri dalam taat kepada Allah, dan muhajir adalah orang hijrah dari apa yang dilarang Allah”, maka jihad nafsu adalah didahulukan atas jihad musuh dalam kenyataannya dan dijadikan pondasi dalam itu. Maka sungguh yang tidak berjihad melawan dirinya sendiri untuk supaya ia melaksanakan yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan yang ia diperintahkan meninggalkannya dan memeranginya dalam jalan Allah, maka ia tidak akan mampu jihad melawan musuhnya dalam kenyataannya”.

Perkataan-perkataan ini merupakan tamparan buat mereka yang kerap mudah sekali menyalahkan makna hadits ini hanya karena sanadnya mereka anggap palsu atau munkar.

Dengan itu semua, pernyataan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa (XI/197) bahwa hadits diatas adalah “la ashla lahu” (tidak bersanad) tidak dapat saya setujui melihat pernyataan al-Hafizh as-Suyuthi, al-Iraqi, al-Azizi dan lain-lain di atas.

Yang aneh adalah salah satu Salafi Wahabi yang tidak bisa membezakan antara “la ashla lahu” dengan “maudhu’” ketika menilai pernyataan Ibnu Taimiyyah tentang hadits jihad nafsu di atas. Mereka memvonis palsu berdasar penilaian Ibnu Taimiyyah tersebut.

Ada perbezaan antara derajat maudhu’ dengan derajat “la asla lahu”. Dan perbezaan mendasarnya adalah, bahwa hadits maudhu’ tidak boleh dibuat dalil secara mutlak. Bahkan juga tidak boleh terangkat derajatnya sama sekali. Sedangkan hadits “la asla lahu”, sekira ada banyak hadits semakna yang diriwayatkan, maka derajatnya naik menjadi hadits dhaif biasa, bahkan boleh dibuat dalil dalam fadhailul amal.

Imam Jamaluddin al-Qasimi dalam Qawaidut Tahdits, sebagaimana juga dikatakan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam al-Manhal al-Lathif (hal.50), berkata:

يَرْتَقِى بِمَجْمُوْعِهِ عَنْ كَوْنِهِ مُنْكَراً أوْ لاَ أَصْلَ لَهُ وَرُبَّمَا كَثُرَتْ الطُرُقُ حَتَّى أَوْصَلَتْهُ إِلَى دَرَجَةِ المَسْتُوْرِ وَالسَّيِّىءِ الحِفْظِ

Himpunannya bisa menaikkan dari derajat munkar atau “la asla lahu”. Dan terkadang banyak riwayat hingga sampai naik ke derajat perawi mastur atau jelek hafalannya (hadits dhaif)”.

Wallahu A’lam.

Ditulis Oleh Ustaz Nur Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *