Imam Al- Ghazali dan Ilmu Hadith

Mengawali kajian ini, mari kita semak terlebih dahulu pujian ulama-ulama besar terhadap Hujjatul Islam al-Ghazali.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Al-Hafizh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ (XIX/322) berkata:

الغَزَالِي الشَّيْخ الاِمَام البَحْر، حُجَّةُ الاِسْلاَم، أُعْجُوْبَة الزَّمَان، زَيْنُ الدِّيْن أبُو حَامِد صَاحِبُ التَّصَانِيْف، وَالذَّكَاء المُفْرِط

“Al-Ghazali adalah syaikh (mulia), panutan, ilmunya bak lautan, hujjatul Islam, seseorang yang mengagumkan zaman, hiasan agama, Abu Hamid, pemilik banyak karya cipta dan kecerdasan yang luar biasa”

Al-Hafizh Abdul Ghafir, dikutip Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah (VI/204), berkata:

أبُو حَامِد الغَزَالي حُجَّة الإسْلامِ وَالمُسْلِمِيْن إمَامُ أَئِمَّةِ الدِّيْن مَنْ لَمْ تَرَ العُيُوْنُ مِثْلَهُ

“Abu Hamid al-Ghazali, hujjatul Islam dan muslimin, imam-nya para imam-imam agama, seseorang yang mata tak pernah melihat orang semacam dia”

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah (XII/214):

وَبَرِعَ فِيْ عُلُوْمٍ كَثِيْرَةٍ، وَلَهُ مُصَنَّفَاتٌ مُنْتَشِرَةٌ فِيْ فُنُونٍ مُتَعَدِّدَةٍ، فَكَانَ مِنْ أَذْكِيَاءِ العَالَمِ فِيْ كُلِّ مَا يَتَكَلَّمُ فِيْهِ

“Al-Ghazali unggul dalam banyak ilmu, dia mempunyai karya cipta yang tersebar dalam kajian fan yang bermacam-macam, ia adalah termasuk orang cerdasnya alam ini dalam setiap yang ia katakan”

Puja-puji dari para ulama agung kepada Hujjatul Islam al-Ghazali tersebut memang sudah selayaknya, karena ia adalah ulama yang ulung dan unggul dalam berbagai fan ilmu agama.

Terkait dengan kitab Ihya’ Ulumiddin, ada cerita menarik yang dikutip oleh Syaikh Yusuf an-Nabhani dalam Syawahid al-Haq (hal. 420). Ada seorang ulama Maghribi, bernama Syaikh Kabir Abul Hasan Ali al-Faqih, yang ingkar terhadap kitab Ihya’ dan memerintahkan supaya dibakar. Kemudian Syaikh tersebut dalam mimpinya melihat Rasulullah yang memalingkan wajah darinya. Dan Rasulullah pun menitahkan supaya Syaikh tersebut dilepas bajunya dan dicambuk. Ketika bangun, ia melihat bekas cambukan tersebut masih membekas di bahagian lambungnya dan tidak pernah dapat hilang sampai ia meninggal dunia. Sebelum meninggal, Syaikh tersebut bertaubat dan memerintahkan supaya kitab Ihya’ ditulis dengan tinta emas.

Tetapi, dengan segala keunggulan dan kelebihan yang dimiliki Hujjatul Islam al-Ghazali tersebut, ia pun tak lantas sepi dari kritik, khususnya kemampuannya dibidang ilmu hadits.

Ada tiga argumentasi yang dijadikan oleh orang-orang yang mengkritik al-Ghazali terkait dengan itu.

Pertama:  Ihya Ulumiddin Banyak Menggunakan Hadits-Hadits Lemah dan Batil

Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah (VI/249) berkata:

وَأَمَّا مَا عَابَ بِهِ الإحْيَاءُ مِنْ تَوَهُّنِهِ بَعْضَ الأحَادِيْثِفَالغَزَاليّ مَعْرُوفٌ بِأَنَّهُ لَمْ تَكُنْ لَهُ فِي الحَدِيْثِ يَدٌ بَاسِطَةٌ وَعَامَّةُ مَا فِي الإحْيَاءِ مِنَ الأخْبَارِ وَالآثاَرِ مُبَدَّدٌ فِيْ كُتُبِ مَنْ سَبَقَهُ مِنَ الصُّوْفِيَةِ وَالفُقَهَاءِ وَلَمْ يُسْنِدْ الرَّجُلَ لِحَدِيْثٍ وَاحِدٍ وَقَدْ اعْتَنَى بِتَخْرِيْجِ أحَادِيْثِ الاحْيَاءِ بَعْضُ أصْحَابِنَا فَلَمْ يَشُذَّ عَنْهُ إلاَّ اليَسِيْرَ

“Adapun cacat dalam Ihya’ yang sebagian hadits-haditsnya lemah, maka hal itu karena al-Ghazali diketahui bukan seorang pakar dalam bidang hadits. Kebanyakan hadits dan atsar dalam Ihyaterpencar-pencar dalam kitab-kitab ulama sebelumnya, baik dari kalangan sufi atau faqih, dan tidak pula ia memberinya sanad. Dan sungguh telah melakukan takhrij hadits-hadits Ihya’ oleh sebahagian ashhab kita dan tidak ada yang syadz kecuali sedikit ”.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Talbis al-Iblis (hal. 190) berkata:

صَنَّفَ لَهُمْ كِتَابَ الاِحْيَاءِ عَلَى طَرِيْقَةِ القَوْمِ وَمَلَأَهُ بِالْأَحَادِيْثِ البَاطِلَةِ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ بُطْلاَنَهَا

 “Dia memenuhi kitabnya (Ihya’ Ulumiddin) dengan hadits-hadits batil yang dia sendiri tidak mengetahui kebatilannya”.

Dengan perkataan itu, orang yang dihatinya memendam kebencian kepada sufi, menjadikan al-Ghazali sebagai objek penghinaan, bahwa kemampuan dan kwalitas al-Ghazali dalam bidang ilmu hadits dianggap sangat lemah dan remeh.

Kedua: Pengakuan al-Ghazali yang Lemah Hadits

Tuduhan diatas semakin lengkap dengan pengakuan al-Ghazali sendiri dalam Qanun at-Ta’wil(hal. 12), bahwa ia tidak mahir dibidang hadits.

Al-Ghazali berkata:

وَبِضَاعَتِيْ فِيْ عِلْمِ الحَدِيْثِ مُزْجَاةٌ

“Kekayaanku dalam ilmu hadits sangat sedikit”

Ketiga: Akhir Hayatnya al-Ghazali Belajar Hadits

Mereka yang menganggap remeh pengetahuan al-Ghazali dibidang hadits juga berhujjah dengan cerita tentang al-Ghazali yang dimasa akhir hayatnya mendalami ilmu hadits.

Al-Hafizh Abdul Ghafir, murid al-Ghazali, berkata:

وكَانَتْ خَاتِمَةُ أَمْرِهِ إِقْبَالَهُ عَلَى حَدِيْثِ المُصْطَفَى ( صلى الله عليه وسلم ) وَمُجَالَسَةَ أهْلِه وَمُطَالَعَةَ الصَّحِيْحَيْنِ البُخَارِي وَمُسْلِمٍ اللَّذَيْنِ هُمَا حُجَّةُ الإسْلاَمِ وَلَوْ عَاشَ لَسَبَقَ الكُلَّ فِيْ ذَلِكَ الفَنِّ بِيَسِيْرٍ مِنَ الأَياَّمِ يَسْتَفْرِغُهُ فِيْ تَحْصِيْلِهِ وَلاَ شَكَّ أَنَّهُ سَمِعَ الأَحَادِيْثَ فِيْ الأَيَّامِ الماَضِيَةِ وَاشْتَغَلَ فِيْ آخِرِ عُمْرِهِ بِسَمَاعِهَا

“Akhir dari masa hidup ia konsen mempelajari hadits Nabi dan mujalasah kepada ahlinya, mempelajari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang keduanya merupakan hujjah Islam. Andai ia berumur panjang, tentu ia akan mengungguli semua ahli hadits di bidang ini dalam rentan waktu yang sebentar; dalam beberapa hari saja ia sudah akan mampu mencapainya. Tidak ada keraguan sama sekali ia juga mendengar hadits di hari-hari sebelumnya. Dan diakhir hidupnya ia sibuk mendengarkan hadits”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam al-Bidayah wan Nihayah (XII/174)

ثُمَّ عَادَ إِلَى بَلَدِهِ طُوْسٍ فَأَقَامَ بِهَا، وَأَقْبَلَ عَلَى تِلاَوَةِ القُرْآنِ وَحَفِظَ الأَحَادِيْثَالصَّحِيْحَةَ … وَيًقَالُ إِنَّهُ مَالَ فِيْ آخِرِ عُمْرِهِ إِلىَ سَمَاعِ الحَدِيْثِ والتَّحْفِيْظِللصَّحِيْحَيْنِ

“Kemudian ia kembali ke daerah asalnya, Thus, dan bermuqim disana. Dan ia konsen membaca al-Qur’an dan menghafal hadits-hadits shahih. Dikatakan, di akhir hayatnya, ia cenderung lebih suka mendengar hadits dan menghafal Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim”.

Baiklah, mari kita kaji lebih dalam bagaimana sebenarnya kemampuan ilmu hadits al-Ghazali.

Jawaban Argumentasi yang Pertama:

Dalam kitab Ta’rif  al-Ahya’ bi Fadhail al-Ihya (hal. 32) dikutip ucapan al-Hafizh al-Iraqi berikut:

اِنَّ اَكْثَرَ مَا ذَكَرَهُ الغَزَالِيّ لَيْسَ بِمَوْضُوْعٍ كَمَا بُرْهَنَ عَلَيْهِ فِيْ التَّخْرِيْجِ وَغَيْرُ الاَكْثَرِ وَهُوَ فِيْ غَايَةِ القِلَّةِ رَوَاهُ عَنْ غَيْرِهِ اَوْ تَبِعَ فِيْهِ غَيْرَهُ مُتَبَرِّئًا بِنَحْوِ صِيْغَةِ رُوِىَ عَنْهُ  وَاَمَّا الاِعْتِرَاضُ عَلَيْهِ اَنَّ فِيْمَا ذَكَرَهُ الضَّعِيْفَ بِكَثْرَةٍ فَهُوَ اِعْتِرَاضٌ سَاقِطٌ لِمَا تَقَرَّرَ اَنَّهُ يُعْمَلُ بِهِ فِي الفَضَائِلِ وَكِتَابُهُ فِي الرَّقَائِقِ فَهُوَ مِنْ قَبِيْلِهَا

“Sesungguhnya kebanyakan yang disebutkan al-Ghazali bukanlah hadits palsu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam takhrij-nya. Yang tidak banyak, dan itu sangat sedikit, diriwayatkan dari orang lain atau mengikuti orang lain dengan menggunakan shighat pembebasan diri “Diriwayatkan dari…”. Adapun sanggahan  bahwa Ihya’  di dalamnya banyak memuat hadits dha‘if adalah pernyataan gugur, sebab, hadits dha‘if pun dapat diamalkan dalam peringkat fadha’il. Dan kitab Ihya’ adalah dalam pembahasan raqaiq (tentang perbaikan jiwa) dan itu termasuk dari fadhilah amal”

Dan jawapan ini sudah lebih dari cukup, kerana  yang memberikan penilaian tersebut adalah ulama besar dibidang hadits yang mentakhrij hadits-hadits Ihya.

Menurut sebahagian ulama, hadits dalam Ihya’ semuanya berjumlah 4848 hadits. Jumlah itu didasarkan atas hasil perhitungan Syaikh Mahmud Said Mamduh dalam kitabnya, Is’af al-Mulihhin bi Tartib Ahadits Ihya Ulumiddin. Dan perhitungan tersebut berdasar takhrijnya al-Hafizh al-Iraqi yang berjudul, al-Mughni an Haml al-Atsar. Padahal, dalam Ihya’ masih ada hadits yang yang tidak di takhrij oleh al-Iraqi. Dari itu datang al-Hafizh Ibnu Hajar yang menulis kitab khusus yang berisi takhrij hadits Ihya’ yang tidak ditakhrij oleh gurunya tersebut.

Menurut catatan Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, ada sekitar 943 hadits dalam Ihya’ yang dianggap olehnya tidak mempunyai sanad. Akan tetapi, jika kita menyemak dalam takhrij-nya al-Hafizh al-Iraqi, diantara hadits yang didakwa oleh Imam Tajuddin as-Subki tak bersanad tersebut faktanya mempunyai sanad, meski hanya dhaif, bahkan ada yang sampai hasan atau shahih.

Contoh Pertama:

Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat menyebut hadits dibawah ini tanpa sanad:

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Barang siapa yang mahu mengamalkan ilmunya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang ia tidak mempelajarinya (laduni)”

Tetapi al-Hafizh al-Iraqi menyebut hadits dhaif riwayat Abu Nu’aim:

أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ وَضَعَّفَهُ

“Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya dari hadits Anas dan ia mendhaifkannya”

Tajuddin as-Subki memasukkan hadits berikut dalam kategori yang tak bersanad:

حَدِيْثُ النَّهْيِ عَنِ المُغَالَاةِ فِيْ المَهْرِ

“(Termasuk hadits “La Ashla Lahu”) adalah hadits larangan berlebih-lebihan dalam mahar”

Tetapi al-Hafizh al-Iraqi dalam al-Mughni menilai:

حَدِيْثُ (النَّهْيِ عَنِ المُغَالَاةِ فِيْ المَهْرِ) ( 2 / 41 ) أَصْحَابُ السُّنَنِ الأَرْبَعَةِ مَوْقُوْفاً عَلىَ عُمَرَ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيّ

“Hadits larangan berlebih-lebihan dalam mahar (II/14) diriwayatkan oleh pemilik kitab sunan yang empat secara mauquf pada Umar. Dan Tirmidzi menshahihkannya”

Uniknya lagi, kemudian muncul al-Hafizh Murtadha az-Zabidi dalam kitabnya, Nur al-Yaqin fi Takhrij Ahadits Ihya’ Ulumiddin yang meneliti ulang hadits-hadits Ihya’, dan hasilnya pun berbeza dengan al-Iraqi. Artinya, ada hadits yang dinilai lemah oleh al-Iraqi atau bahkan dinilai tidak mempunyai sanad secara marfu’ tetapi ternyata mempunyai sanad dan marfu’.

Berikut nukilan dari Dr. Hamzah an-Nasyrati dkk dalam kitabnya yang berjudul Abu Hamid al-Ghazali Hujjatul Islam (hal. 164) tentang beberapa penelitian ulang az-Zabidi terhadap hadits Ihya’.

Contoh Pertama:

Al-Hafizh al-Iraqi menilai hadits riwayat Abu Hurairah dibawah ini bersanad dhaif:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ الله بِعِلْمِهِ

“Manusia yang paling pedih adzabnya adalah orang alim yang ilmunya tidak diberi manfaat oleh Allah” (HR. Thabarani dan Baihaqi)

Al-Iraqi dan juga ulama-ulama hadits banyak yang menilai hadits tersebut lemah. Tetapi al-Hafizh Murtadha az-Zabidi menilainya berbeza. Menurutnya, meskipun benar hadits tersebut dhaif tetapi mempunyai penguat. Kemudian az-Zabidi mengajukan riwayat lain dari Khathib al-Baghdadi dalam kitab Iqtidha’ al-Ilm wal Amal, bahawa ucapan seperti juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ dari jalur Abu Kabsyah as-Sululi yang mendengar dari Abu Darda’, juga riwayat dari jalur Ibrahim bin al-Asy’asy dari Sufyan.

Contoh Kedua:

Al-Hafizh al-Iraqi menilai hadits Abu Darda’ dibawah ini adalah lemah:

يُوْزَنُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِدَادُ العُلَمَاءِ بِدَمِ الشُّهَدَاءِ

“Di hari kiyamat tinta ulama ditimbang dengan darah orang-orang yang mati syahid” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Al-Hafizh az-Zabidi menyebutkan jalur lain yang diriwayatkan oleh asy-Syirazi dalam kitabnya, al-Alqab, dari Anas. Adz-Dzahabi dalam Fadhl al-‘Ilm mengeluarkan hadits dari Imran bin Hushain, Ibnul Jauzi dalam al-Ilal mengeluarkan dari Nu’man bin Basyir, dan ad-Dailami dari Abdullah bin Umar.

Lebih jauh, hadits tentang shalat Raghaib dan shalat Nishfu Sya’ban dalam Ihya’ yang haditsnya banyak dikritik ulama sebagai hadits palsu, ternyata tidak semua ulama menyepakati kepalsuannya.

Sayyid Alawi as-Saqqaf dalam Tarsyih al-Mustafidin (hal. 101)  menukil ucapan al-Jarhazi berikut:

حَدِيْثُهُمَا لَهُ طُرُقٌ كَثِيْرَةٌ أَخْرَجَهُا البَيْهَقِيّ وَغَيْرُهُ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ المُلاَّ عَلِيّ القَارِي اِنَّ حَدِيْثُهُمَا يُعْمَلُ بِهِ فِيْ الفَضَائِلِ وَالمُنْكِرُونَ لَهَا اِنَّمَا هُوَ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهَا مِنَ المَفَاسِدِ لاَ لِذَاتِهَا

“Hadits tentang shalat alfiyah (nishfu Sya’ban) dan shalat raghaib mempunyai banyak jalur riwayat yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dan yang lain. Oleh karena itu, Mulla Ali al-Qari mengatakan bahwa hadits kedua shalat tersebut bisa diamalkan dalam peringkat fadhail amal. Sedangkan ulama-ulama yang ingkar terhadap kedua shalat tersebut, sebenarnya bukan ingkar terhadap praktik shalatnya, tetapi karena mafsadah yang dapat ditimbulkan oleh kedua shalat tersebut”.

Termasuk shalat sunat harian dalam sepekan yang disampaikan al-Ghazali dalam Ihya’. Hadits tentang itu dinilai palsu oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at dan disepakati oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam al-La’ali’ al-Mashnu’ah. Akan tetapi al-Hafizh az-Zabidi dalam Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin (III/373), setelah menyampaikan pendapat dua hafizh tersebut, berkata:

الحُكْمُ عَلَى هَذَا الحَدِيْثِ بِالوَضْعِ لَيْسَ بِسَدِيْدٍ وَغَايَةُ مَا يُقَالُ اِنَّهُ ضَعِيْفٌ

 “Menghukumi hadits ini dengan palsu tidaklah benar. Paling maksimal yang dapat dikatakan adalah haditsnya dhaif”

Apakah tidak ada udzur sama sekali kepada al-Ghazali?

Dan kaidah dalam ilmu hadits bahwa hadits sangat dhaif pun terkadang boleh diamalkan janganlah kita tinggalkan. Sayyid Alawi al-Maliki dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail (hal. 248) berkata:

قَالَ الاِمَامُ الرَّمْلِيّ الأحَادِيْثُ الشَدِيْدَةُ الضُّعْفِ اذاَ انْضَمَّ بَعْضُهَا اِلَى بَعْضٍ يُحْتَجُّ بِهَا فِي هَذَا البَابِ

“Imam Ramli berkata: “Hadits-hadits yang sangat dhaif ketika dikumpulkan sebagian darinya ke sebagian yang lain, maka bisa dibuat hujjah dalam bab ini (fadhail amal dll)”.

Dengan semua itu, hadits yang dibuat syahid oleh al-Ghazali dalam Ihya’ terkadang menurut satu ulama hadits tidak bersanad atau dianggap lemah, tetapi menurut ulama yang lain ditemukan sanadnya atau dianggap kuat dengan adanya syawahid (penguat) yang tidak ditemukan oleh ahli hadits pertama. Dan jika pun ada kesalahan dalam penilaian hadits, misalkan hadits tersebut disepakati batil oleh ahli hadits, maka kesalahan tersebut tidak serta merta harus ditimpakan sepenuhnya kepada al-Ghazali, tetapi juga kepada ulama yang yang dinukil haditsnya oleh al-Ghazali. Al-Ghazali kala itu lebih fokus kepada masalah-masalah ushul, fikih, tasawuf dan lain-lain dan tidak mendalami secara khusus ilmu hadits dirayah dan jarh wa ta’dil.

Jawaban Argumentasi yang Kedua:

Sebetulnya, ulama masih berbeza pendapat tentang pengakuan al-Ghazali ini. Ada yang berpendapat, ucapan tersebut dimaksudkan sebagai sikap ketawadhu’an dia untuk menyerahkan masalah ghaib yang harus berhujjah kepada ahli hadits. Sementara ulama lain berpendapat, memang demikianlah adanya bahwa al-Ghazali kurang dalam pengetahuan hadits. Tetapi, pendapat kedua ini tidak serta merta diartikan bahwa al-Ghazali sama sekali tak mengenal atau menghafal hadits seperti yang banyak dituduhkan oleh musuh-musuhnya di zaman ini. Kitab Ihya’ Ulumiddin merupakan bukti otentik bahwa ia menghafal banyak ribuan hadits. Dan mengingkarinya adalah kesombongan.

Selanjutnya, sesuai dengan pembahagian yang masyhur, ilmu hadits sendiri terbagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits “dirayah” dan ilmu hadits “riwayah”. Ilmu hadits dirayah adalah ilmu hadits yang berbicara mengenai tata cara mengetahui muttasil atau tidaknya sanad, atau mengetahui status perawi hadits dari sisi adil, dhabth dan tidaknya. Sementara ilmu hadits riwayah lebih menitik beratkan pada cara mengetahui riwayat hadits bahwa itu adalah ucapan Nabi, pekerjaan Nabi, persetujuan Nabi dan sebagainya. Dan al-Ghazali pada fasa dimana ia menulis Ihya’, adalah masuk kategori ilmu hadits riwayah. Dengan demikian, sangat tidak adil jika kemudian al-Ghazali dituduh buta ilmu hadits secara mutlak. Al-Ghazali hanya lemah dibidang kritik hadits atau jarh wa ta’dil tetapi tidak dalam ilmu hadits riwayat.

Jawaban Argumentasi yang Ketiga:

Tentu kita sepakat, bahwa al-Ghazali di akhir masa hidupnya menghabiskan waktunya untuk membaca al-Qur’an dan menghafal hadits. Tetapi apakah ini menunjukkan bahwa ia sebelumnya sama sekali tidak hafal atau belajar hadits? Sebanyak 4000 lebih hadits dicantumkan dalam Ihya’ Ulumiddin bukan suatu bukti bahwa ia hafal hadits? Bahkan disana juga terdapat hadits-hadits al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan lain-lain. Bukankah pula al-Hafizh Abdul Ghafir sangat jelas berkata, bahwa al-Ghazali juga mendengar hadits sebelum masa akhir hayatnya?

Al-Hafizh Abdul Ghafir berkata:

وَلاَ شَكَّ أَنَّهُ سَمِعَ الأَحَادِيْثَ فِيْ الأَيَّامِ الماَضِيَةِ

“Tidak ada keraguan sama sekali ia juga mendengar hadits di hari-hari sebelumnya”

Harus diakui dan tak terbantahkan, bahwa al-Ghazali sangat unggul dalam bidang ushul, fikih, falsafah, akidah dan lain-lain. Lalu bagaimana boleh orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hadits sama sekali boleh unggul dibidang ilmu lain, seperti fikih dan ushul yang sangat memerlukan hadits? Ini tidak logik sama sekali.

Betul bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk juga al-Ghazali dan ulama-ulama lain.

Jika dikatakan bahwa al-Ghazali tidak masuk kategori ahli hadits besar yang kritikal semisal adz-Dzahabi, al-Hafizh Ibnul Jauzi, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, dan lain-lain maka kita sepakat itu. Tetapi menganggapnya kosong dalam ilmu hadits juga sangat berlebihan.

Tidak ada manusia yang sempurna.  Yusuf al-Qardhawi dalam kitabnya, al-Ghazali Baina Madihi wa Qadihi (hal. 125) berkata, bahwa al-Hafizh Ibnul Jauzi yang mengkritik al-Ghazali ternyata dalam kitab ringkasan Ihya’ yang ia tulis juga memasukkan hadits-hadits yang tidak shahih dan tidak sah dari Nabi. Bahkan, menurut Ustadz Shalih Ahmad asy-Syami dalam kitabnya, al-Ghazali Hujjah al-Islam wa Mujaddid al-Miah al-Khamisah (hal. 168), ulama semacam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah saja dalam kitabnya, Ighatsah al-Lahfan, selain memasukkan hadits-hadits dhaif, juga memasukkan hadits palsu. Minimal ada dua hadits palsu yang dimasukkan, sebagaimana yang ditahqiq oleh Muhammad Afifi. Lihat Ighatsah al-Lughfan cetakan al-Maktab al-Islami pada halaman 377 dan 400.

Jika al-Ghazali masih dianggap wajar karena ia bukan ulama kritikal dibidang hadits, tetapi al-Hafizh Ibnul Jauzi dan Imam Ibnu Qayyim adalah ulama yang bergelut di bidang hadits.

Ditulis oleh Ustaz Nur Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *