Beberapa Amalan Tradisi Menyambut Hari Raya di Nusantara

Umat Islam di seluruh dunia menyambut 1 Syawal sebagai hari raya Idul Fitri. Rasa suka cita, gembira dan bahagia meliputi kehidupan mereka. Di beberapa negara Muslim ada beberapa cara yang mengekspresikan kebahagiaan tersebut dengan bentuk yang sesuai dengan aturan dalam Syariat, seperti saling mengucapkan selamat, bermaafan, sedekah makanan ketupat, hingga berziarah ke makam kelurga yang telah wafat. Dan ketika amaliah di hari raya tersebut sesuai dengan subtansi ajaran Islam, sudah barang tentu tidak dapat disebut bid’ah yang buruk mahupun sesat.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Menampakkan Rasa Suka Cita Di Hari Raya

–          Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali

وَالْأَعْيَادُ : هِيَ مَوَاسِمُ الْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ ؛ وَإِنَّمَا شَرَّعَ اللهُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ الْفَرَحَ وَالسُّرُوْرَ بِتَمَامِ نِعْمَتِهِ وَكَمَالِ رَحْمَتِهِ ، كَمَا قَالَ تَعَالَى { قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ } [ يونس : 58 ] فَشَرَّعَ لَهُمْ عِيْدَيْنِ فِي سَنَةٍ (فتح الباري لابن رجب – ج 1 / ص 89)

“Hari Rasa adalah masa bergembira dan bersenang-senang. Allah mensyariatkan kepada umat Nabi Muhammad untuk berbahagia dan bersenang-senang karena telah sempurnanya nikmat Allah dan rahmat-Nya, sebagaimana dalam firmannya: “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira…”. (Yunus: 58). Oleh karenanya Allah mensyariatkan dua hari raya dalam satu tahun (al-Hafidz Ibnu Rajab, Fath al-Bari, 1/89)

–          Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Syafii

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ الْفَوَائِدِ مَشْرُوْعِيَّةُ التَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ فِي أَيَّامِ الْأَعْيَادِ بِأَنْوَاعِ مَا يَحْصُلُ لَهُمْ بَسْطُ النَّفْس وَتَرْوِيْحُ الْبَدَن مِنْ كَلَف الْعِبَادَة. وَفِيهِ أَنَّ إِظْهَارَ السُّرُوْر فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ (فتح الباري لابن حجر – ج 3 / ص 371)

“Di dalam hadis ini (Aisyah melihat orang-orang bermain dan bernyanyi di hari raya) terdapat beberapa faidah. Yaitu disyariatkannya meluaskan belanja untuk keluarga di hari raya, dengan berbagai macam hal yang dapat membahagiakan hati dan menenangkan tubuh setelah melakukan tuntunan ibadah. Di hadis ini juga menampakkan rasa suka cita di hari raya adalah bagian dari syiar agama” (al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 3/371)

Hadis-Hadis Membuat Orang Muslim Bergembira

–          Dari Anas bin Malik

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بِمَا يُحِبُّ اللهَ، لِيَسُرَّهُ بِذَلِكَ، سَرَّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. رواه الطبراني في الصغير وإسناده حسن.

“Rasulullah bersabda: “Barangsiapa berjumpa dengan saudaranya yang Muslim dengan sesuatu yang dicintai Allah, agar ia membahagiakan saudaranya, maka Allah akan membuatnya gembira di hari kiamat” (HR al-Thabrani, sanadnya hasan)

–          Dari Ibnu Abbas

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى بَعْدَ الْفَرَائِضِ، إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ. رواه الطبراني في الأوسط، وفيه إسماعيل بن عمرو البجلي، وثقه ابن حبان وضعفه غيره.

“Rasulullah bersabda: “Sungguh amal yang paling dicintai oleh Allah setelah ibadah wajib, adalah membuat orang Islam merasa bahagia” (HR al-Thabrani, ada perawi bernama Ismail bin Amr al-Bajali, dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban dan dinilai dhaif oleh lainnya)

–          Dari Sayidina Hasan bin Ali

وَعَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ مِنْ مُوْجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ إِدْخَالُ السًّرُوْرِ عَلَى أَخِيْكَ. رواه الطبراني في الأوسط والكبير.

“Rasulullah bersabda: “Diantara hal yang mendatangkan ampunan Allah, adalah memberi rasa bahagia kepada saudaramu” (HR al-Thabrani)

–          Dari Sayidah Aisyah

 وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَدْخَلَ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ سُرُوْراً، لَمْ يَرْضَ اللهُ لَهُ ثَوَاباً دُوْنَ الْجَنَّةِ. رواه الطبراني في الصغير والأوسط.

“Rasulyllah bersabda: “Barangsiapa memberi rasa gembira kepada keluarga kaum Muslimin, maka Allah tidak rela kepadanya kecuali membalasnya dengan surga” (HR al-Thabrani)

Meskipun ada hadis-hadis dhaif, namun memiliki sangat banyak jalur riwayat, sehingga status hadisnya boleh diamalkan.

Bagaimana cara membuat orang Mukmin merasa bahagia dan gembira?

–          Memberi Bantuan (termasuk wang)

عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مِنْ أَفْضَلِ الْعَمَلِ إِدْخَالُ السًّرًوْرِ عَلَى الْمُؤْمِنِ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا يَقْضِي لَهُ حَاجَةً يُنَفِّسُ عَنْهُ كُرْبَةً (رواه البيهقي)

“Dari Ibnu al-Munkadir, ia menyandarkan kepada Nabi Muhammad: “Diantara keutamaan amal adalah menggembirakan orang mukmin, dengan (1) Melunasi hutangnya (2) Memenuhi keperluannya (3) Meringankan kesulitannya” (HR al-Baihaqi)

–          Memberi Makanan (termasuk ketupat)

(تَهَادَّوْا الطَّعَامَ بَيْنَكُمْ فَإِنَّ ذَلِكَ تَوْسِعَةٌ فِي أَرْزَاقِكُمْ) (عد عن ابن عباس) * قَالَ شَيْخُنَا الْعَارِفُ الشَّعْرَاوِي : كَانَ التَّابِعُوْنَ يُرْسِلُوْنَ الْهَدِيَّةَ لِأَخِيْهِمْ وَيَقُوْلُوْنَ نَعْلَمُ غِنَاكَ عَنْ مِثْلِ هَذَا وَإِنَّمَا أَرْسَلْنَا ذَلِكَ لِتَعْلَمَ أَنَّكَ مِنَّا عَلَى بَالٍ (فيض القدير – ج 3 / ص 358)

“(Hadis) –Salinglah kirim hadiah makanan, sebab hal itu meluaskan rezeki kalian- (HR Ibnu Adi dari Ibnu Abbas). Guru kami, al-Sya’rawi, berkata: “Para Tabiin mengirimkan hadiah kepada saudaranya dan mereka berkata: “Kami tahu kalian tidak memerlukan pemberian ini. Kami memberi hadiah ini agar kalian tahu bahawa kami peduli” (Syaikh al-Munawi, Faidh al-Qadir, 3/358)

Mengucapkan Selamat Hari Raya

(تنبيه) قَالَ بَعْضُهُمْ : مِنْ أَسْبَابِ التَّأْلِيْفِ الْمَطْلُوْبِ شَرْعًا وَهُوَ عُمْدَةُ فِي التَّحَبُّبِ وَالتَّوَدُّدِ الَّذِي هُوَ رَأْسُ الْعَقْلِ وَالتَّهْنِئَةِ بِنَحْوِ الْأَعْيَادِ وَالشُّهُوْرِ وَقَدْ صَرَّحَ بِأَنَّهَا بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ وَقَالَ الْمُؤَلِّفُ : بَلْ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ كَالتَّهْنِئَةِ بِالْمَوْلُوْدِ (فيض القدير – ج 3 / ص 770)

“Sebagian ulama berkata bahwa diantara faktor yang menjadikan kecintaan diantara sesama Muslim yang dianjurkan dalam agama, yang menjadi pondasi dalam upaya saling mencintai, adalah ucapan selamat dalam hari raya dan bulan yang lain. Ulama menilainya sebagai bid’ah hasanah. Al-Suyuthi berkata: “Bahkan ucapan selamat ini memiliki dasar dalam hadis, seperti ucapan selamat kelahiran” (Syaikh al-Munawi, Faidh al-Qadir, 3/770)

Bermaaf-Maafan

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا ، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

“Barangsiapa pernah berbuat dzalim kepada saudaranya, maka hendaknya ia minta kehalalannya (minta maaf). Sebab disana (akhirat) tidak ada dinar dan dirham (untuk menebus kesalahan). Sebelum amal kebaikannya diambil dan diberikan kepada saudaranya yang didzalimi tersebut. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan dilemparkan kepadanya” (HR al-Bukhari No 6534 dari Abu Hurairah)

Madzlamah atau perbuatan dzalim tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Saw (dalam riwayat Ahmad No 10580) meliputi dua hal, yakni berbuat salah kepada orang lain secara fisik atau psikis, dan berbuat salah yang berkaitan dengan harta. Dari perbuatan dzalim tersebut, kita diharuskan meminta halal atau maaf kepada orang yang pernah kita dzalimi. Kendatipun terlihat remeh dan sepele, namun meminta halal atau maaf ini memiliki hikmah yang sangat berguna, yakni nanti kita tidak melewati peradilan akhirat yang sangat berat sebagaimana dijelaskan dalam hadis tersebut, sehingga kita lebih cepat dalam proses masuk ke surga Allah, Amin.

Ziarah Kubur Saat Hari Raya

Mufti al-Azhar, Kairo, memperbolehkan ziarah seperti ini:

وَمِنْ هُنَا نَعْلَمُ أَنَّ زِيَارَةَ النَّاسِ لِلْمَقَابِرِ عَقِبَ صَلَاةِ الْعِيْدِ إِنْ كَانَتْ لِلْمَوْعِظَةِ وَتَذَكُّرِ مَنْ مَاتُوْا وَكَانُوْا مَعَهُمْ فِى الْأَعْيَادِ يُنَعَّمُوْنَ بِحَيَاتِهِمْ ، وَطَلَبِ الرَّحْمَةِ لَهُمْ بِالدُّعَاءِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ أَبَدًا … (فتاوى الأزهر – ج 8 / ص 391)

“Dari sini kita mengetahui bahwa umat Islam melakukan ziarah kubur setelah hari raya, jika untuk menjadi pelajaran dan mengingat orang yang telah mati, yang dahulu mereka bersamanya saat hari raya dan merasa senang dengan kehidupannya, serta memintakan rahmat dan doa untuk mereka, maka hukumnya boleh, selamanya…” (Fatawa al-Azhar, 8/391)

Sebagian ulama Salaf dari Tabiin pun juga telah melakukan ziarah setelah hari raya:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ صَلَّيْتُ الْفَجْرَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فِي يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِذَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ مَعْقِلٍ فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلَاةَ خَرَجَا وَخَرَجْتُ مَعَهُمَا إِلَى الْجَبَانَةِ. (4) مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 70)

“Dari Atha’ bin Saib ia berkata: “Saya salat Subuh di masjid ini di hari raya fitri, ternyata bertemu Abu Abdirrahman dan Abdullah bin Ma’qil. Setelah kami melakukan salat, keduanya keluar, saya juga keluar bersamanya, menuju ke kuburan” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 1/70)

Pentahqiq kitab tersebut (al-Ustadz Said Lahham) menulis keterangan berupa footnote dengan tanda no (4) tentang makna Jabbanah:

(4) الْجَبَّانَةُ : الْمَقْبَرَةُ

“al-Jabbanah: Pemakaman (kuburan)”

Syaikh al-Sindi juga memperkuat:

الْجَبَّانُ وَالْجَبَّانَةُ بِالتَّشْدِيْدِ : الصَّحْرَاءُ وَالْمَقْبَرَةُ أَيْضاً لِأَنَّهَا تَكُوْنُ فِي الصَّحْرَاءِ (مسند الشافعي ترتيب السندي – ج 0 / ص 470)

 “Jabban dan Jabbanah adalah tanah lapang, juga kuburan. Sebab kuburan berada di tanah lapang” (Musnad al-Syafii, 10/470)

Ditulis oleh Ustaz Ma’ruf Khozin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *