Home »Menjawab Wahabi »Pengertian Tasybih dan Tajsim Menurut Ahlussunnah Bhg 2 Pengertian Tasybih dan Tajsim Menurut Ahlussunnah Bhg 2 Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

 

Pada bagian pertama, kami telah membahas persoalan makna tasybih sesuai pemahaman para ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah. Yang kesimpulannya :

 

 

– Sesungguhnya Allah tidak ada satu pun makhluk yang menyerupainya dari segi apapun. Huruf kaf dalam ayat as-Syura : 11 menafikan mumatsalah (persamaan) dan huruf mitsl menafikan musyabahah (penyerupaan). Maka ayat tesebut menafikan mumtasalah dan musyabahah secara bersamaan.

– Ayat tersebut menunjukkan bahwasanya Allah Maha Suci dari segala bentuk keserupaan atas makhluk-Nya. Maka persekutuan / perkongsian antara sifat Allah dan sifat Makhluk-Nya hanyalah persekutuan secara lafadznya saja bukan secara hakikatnya.

 

– Ahlus sunnah dari ulama salaf dan ulama setelah mereka menafikan isytirak / perkongsian antara Allah dan makhluk-Nya di dalam makna hakikatnya disertai menafikan asal kaifiyahnya dari Allah Ta’ala. Karena kaifiyyah dari sifat Allah dinafikan, sedangkan kaum wahabi menyerahkan kaifiyyah Allah setelah mereka menetapkan makna hakikatnya yang berisytirak / berkongsi itu. Padahal makna hakikatnya yang berisytirak tidak ada lain mengandung tasybih (penyerupaan).

 

– Kaum wahabi pun dengan terang-terangan mengakui bahwa mereka tidak menafikan (meniadakan) tasybih secara keseluruhan kepada Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Utsaimin :

 

نفي التشبيه على الإطلاق لا يصح ؛ لأن كل موجودين فلا بد أن يكون بينهما قدر مشترك يشتبهان فيه ، ويتميز كل واحد بما يختص به

“ Menafikan tasybih secara muthlaq tidaklah benar , karena setiap yang wujud wajib memiliki kadar perkongsian di antara keduanya yang serupa, dan memiliki kekhususan tersendiri dari maisng-masing “[1]

 

Ia juga mengatakan :

 

وإن أردتَ التشبيه المطلق من كلّ وجه فهذا لغو , بمعنى أنّ الله تعالى لا يشابه الخلق في أي شيء فهذا غلط ! , لأنه لا بد من الاشتراك في أصل المعنى)

“ Jika kamu bermaksud tasybih secara muthlaq dari segala arah, maka itu kesia-siaan, maknanya sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menyerupai makhluk-Nya dalam segala sesuatu, maka ini adalah salah, karena Allah Ta’ala wajib memiliki perkongsian dalam makna asalnya “.[2]

 

Dan pada bagian kedua ini, kami akan mengupas makna dan definisi jisim dan tajsim, agar kita benar-benar paham akidah yang haq dan dapat membedakan mana akidah ulama salaf shalih dan mana akidah kaum mujassimah yang mengklaim pengikut ulama salaf.

 

 

Pembahasan tentang makna dan definsisi jisim, merupakan suatu hal yang amat penting di dalam menilai sesorang itu telah terjangkiti virus tajsim. Karena penilaian atas sesuatu merupakan cabang dari hasil pengkajian suatu masalah. Jika suatu pengkajiannya rancu, maka penilaiannya pun juga akan rancu. Oleh sebab itu, kita lihat sebagian orang (kaum minoritas) memahami persoalan ini, seolah mengaku menjauhi tajsim padahal tanpa sadar telah terjerumus dalam lembah pemahaman tajsim yang sesungguhnya. Oleh karenanya sangat penting mengetahui hakikat jisim dan makna tajsim sebelum menilai hukum tajsim.

 

Ibnu Faris seorang ulama masyhur pakar bahasa Arab mengatakan dalam kitabnya :

 

جسم” الجيم والسين والميم , يدلّ على تجمع الشيء , فالجسم كل شخص مدرك , كذا قال ابن دريد , والجسيم : العظيم الجسم ، وكذلك الجسام

 “ Jisim terdiri dari huruf jim, sin dan mim. Menunjukkan atas terkumpulnya sesuatu. Maka jisim artinya adalah sebuah sosok yang dapat diindra (dirasa), demikian Ibnu Darid mengatakan. Sedangkan Jasim adalah : orang yang besar jisimnya demikian juga jassam..”[3]

 

Dari definisi Ibnu Faris, dapat kita pahami bahwa jisim itu adalah sesuatu yang terkumpul atau menyatu, dan beliau menyebutkan definisi dari Ibn Darid bahwa jisim itu adalah sosok yang dapat dirasa dengan indra, maka tidak ada sesuatu yang dapat dirasa dengan indra kecuali sesuatu yang menyatu atau terkumpul.

 

Al-Azhari dalam kitabnya Tahdzib al-Lughah mengatakan :

 

جسم: قَالَ اللَّيْث: الجِسمُ يَجْمَعُ البَدَنَ وأعضاءَهُ من النَّاس والإبلِ والدَّوابِّ وَنَحْو ذَلِك مِمَّا عَظُمَ من الخَلق الجسيم

“ Jisim, al-laits mengatakan : Jisim itu mengumpulkan badan dan anggotanya dari manusia, unta dan semisalnya dari makhluk yang besar “[4]

 

Dalam Lisan al-Arab disebutkan :

 

الجِسْمُ : جماعة البَدَنِ أو الأعضاء من الناس والإبل والدواب وغيرهم من الأنواع العظيمة الخَلْق

“ Jisim adalah : kumpulan badan atau anggota tubuh manusia, unta dan makhluk lainnya dari sesuatu yang besar fisiknya “[5]

 

Jisim secara istilah :

 

Al-Imam ar-Raghib mengatakan :

 

جسم: الجسم ماله طول وعرض وعمق

“ Jisim adalah sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam “[6]

 

Imam Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syafi’i mengatakan :

 

واما الجسم فهو المؤلف واقل الجسم جوهران بينهما تأليف

“ Adapun jisim yaitu sesuatu yang tersusun, minimal disebut susunan terdiri dari dua materi yang di Antara keduanya ada susunan “[7]

 

Imam al-Qurthubi mengatakan :

 

والجسم هو المجتمع وأقل ما يقع عليه اسم الجسم جوهران مجتمعان وهذه الاصطلاحات وإن لم تكن موجودة في الصدر الأول فقد دل عليها معنى الكتاب والسنة فلا معنى لانكارها. وقد استعملها العلماء واصطلحوا عليها وبنوا عليها كلامهم وقتلوا بها خصومهم

“ Jisim adalah suatu yang tersusun, paling sedikit disebut jisim adalah terdiri dari dua materi yang tersusun. Istilah-istilah ini walaupun tidak ada di qurun pertama, tapi sungguh makna al-Quran dan sunnah telah menunjukkannya, maka taka da gunanya mengingkarinya. Sungguh para ulama telah menggunakan istilah tersebut dan menjadikan sebuah dasar dalam ilmu kalam mereka serta mampu mematahkan (hujjah) lawan-lawan mereka “[8]

 

Definisi istilah dari para ulama ini tidaklah keluar dari makna segi bahasanya, karena segala sesuatu yang besar yang tersusun sudah pasti memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam.

 

Kesimpulan dari makna jisim adalah :

 

1. Sesuatu yang tersusun.

2. Sesuatu yang besar ukurannya

3. Sesuatu yang memiliki bentangan arah.

4. Sesuatu yang sedikitnya terdiri dari dua materi yang tersusun.

 

Dari makna jisim secara Bahasa maupun istilah, maka dapat kita pahami makna tajsim yaitu menganggap Dzat Allah memiliki bagian dan susunan.

 

Kaum wahabi, ketika mereka menafikan bagian dan susunan dari Dzat Allah, maka sesungguhnya mereka hanya menafikannya secara lafadznya saja, sedangkan maknanya mereka benar-benar menetapkannya. Kita buktikan apa sebenarnya yang mereka sebut dengan bagian (ab’adh) dan organ ?

 

Ibnu Utsaimin mengatakan :

 

لا نقول إنها أجزاء وأبعاض , بل نتحاشا هذا اللفظ , لكنّ مسماها لنا أجزاء وأبعاض , لأن الجزء والبعض : ما جاز انفصاله عن الكل فالرب عز وجل لا يتصور أن شيئًا من هذه الصفات التي وصف بها نفسه – كاليد – أن تزول أبدًا ؛ لأنه موصوف بها أزلًا وأبدًا , ولهذا لا نقول : إنه أبعاض وأجزاء

“ Kami tidak mengatakan sesungguhnya ia adalah bagian-bagian dan anggota, bahkan kami menjauhi lafadz ini, akan tetapi maknanya bagi kami adalah bagian dan anggota, karena bagian dan anggota adalah; sesuatu yang boleh terlepas dari keseluruhannya, maka Allah ta’ala tidak bisa tergambar sesungguhnya sifat-sifat yang Allah sifati diri-Nya ini seperti Yad (tangan) akan musnah selamanya, karena Allah disifati dengan tangan selamanya, oleh sebab itu kami tidak mengatakan Allah itu anggota dan bagian “.[9]

 

Ibnul Qayyim juga mengatakan :

 

وكذلك الأبعاض هي ما جاز مفارقتها وانفصالها وانفكاكها , وذلك في حق الرب تعالى محال , فليست أبعاضًا ولا جوارح

“ Demikian juga ab’aadh (organ/anggota) itu adalah sesuatu yang boleh terpisah dan terlepas, dan hal ini bagi Allah mustahil, maka Allah bukanlah anggota dan tubuh “[10]

 

Coba kita perhatikan definisi organ dan anggota menurut mereka, agar kita tahu apa yang dinafikan oleh mereka. Ibnu Utsaimin dan Ibnul Qayyim mendefinisikan bagian dan organ dengan sesuatu yang bisa terlepas dan terpisah dari keseluruhan. Definisi ini sama sekali tidak menunjukkan dari lafadznya itu sendiri bahkan tidak secara Bahasa, istilah dan ‘urf. Makna dan definisi ini, tidak lah masyhur (tersohor) di kalangan ulama ahli Bahasa Arab.

 

Adapun makna bagian (ab’adh), anggota / organ (jarihah) dan bagian / susunan (juz’u) yang ma’ruf (tersohor), maka mereka menetapkannya, walaupun mereka menolak lafadznya. Maka sadar ataupun tidak, mereka berkeyakinan bahwa Allah tersusun dari bagian atau organ meskipun mereka menolak lafadz bagian dan organ. Sifat ‘ain, yad, rijl, wajh dan semisalnya menurut mereka ini adalah  (الاعيان)  yakni sesuatu, maka Allah menurut mereka tersusun dan menyatukan dalam Dzatnya terhadap A’yaan (‘ain, yad, rijl, wajh) tersebut. Justru inilah pemahaman tajsim yang sesungguhnya. Naudzu billah min dzaalik…

 

Untuk menyiasati agar orang lain tidak meyakini mereka berpaham tajsim, maka mereka membuat suatu qaid atau syarat dalam makna tajsim yaitu suatu susunan yang awalnya terpisah kemudian tekumpul atau suatu kumpulan yang memungkinkan bisa terpisah, maka bagi mereka ini disebut jisim, kalau tidak didahului dengan terpisah atau tidak memungkinkan terpisah, maka bukanlah jisim. Inilah syarat sesuatu dapat disebut jisim menurut kaum wahabi dan taimiyyun.

 

Bahkan di Antara mereka adsa yang terang-terangan mengatakan bahwa menisbatkan jisim, jarihah dan a’dha bagi Allah tidaklah mengapa. Ibn Baaz mengatakan :

“ Meniadakan jisim, organ dan anggota tubuh dari Allah adalah termasuk ucapan yang tercela “ [11]

Muhammad Khalil Harras mengatakan dalam ta’liqnya (komentarnya) terhadap kitab tauhidnya Ibnu Khuzaimah yang dicetak tahun 1403 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah pada halaman 63 atau terbitan Dar al-Jail halaman 89 berikut :

“ Menggenggam tentunya dengan tangan secara hakekatnya bukan dengan nikmat. Jika mereka berkata “ Sesungguhnya huruf ba di sini bermakna sebab maksudnya dengan sebab iradah kenikmatan “, maka kita jawab pada mereka “ Dengan apa menggengam itu ?? karena sesungguhnya menggenggam itu butuh kepada alat, maka niscaya tak ada jawaban dari mereka, jika saja mereka mau merendahkan diri mereka “.

Mereka mengganti istilah ab’adh (bagian/anggota) dan tarkib (susunan) menjadi a’yaan padahal istilah a’yaan ini istilah bid’ah yang tdiak dikenal dalam al-Quran dan sunnah. Menurut mereka a’yan Allah ini yang membedakan Dzat Allah dari sesuatu lain-Nya, maka Dzat Allah memiliki a’yaan yang berbeda a’yan satunya dengan a’yan lainnya pada Dzat Allah dengan arah dan isyarat fisik kepada selainnya.  Makna ini jelas tab’idh (pembagian) yang merupakan dari kelaziman jisim.

 

Hukum Tajsim (Menganggap Allah memiliki bagian dan susunan pada Dzat-Nya).

 

Setelah kita memahami makna jisim dan tajsim, lalu bagaimana hukumnya orang yang memiliki pemahaman tajsim tersebut ?

Para ulama sepakat mencela dan menilai nista dan buruk pemahaman tajsim dan para pelakunya. Jumhur ulama sepakat menilai kafir kepada orang yang meyakini tajsi m secara sharih (jelas dan tidak samar). Sedangkan para ulama berbeda pendapat penilaian hukum kepada orang yang meyakini tajsim secara tidak sharih, apakah dihukumi kafir atau berbuat dosa besar.

 

Ulama Hanafiyyah.

 

Para ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa orang yang meyakini tajsim kepada Allah secara sharih semisal mengatakan, “ Allah itu jisim seperti jisim lainnya, maka dihukumi kafir. Adapun orang yang mengatakan, “ Jisim tapi bukan seperti jisim lainnya dan menafikan kelaziman jisim dari Allah, maka dia dihukumi mubatadi’ (pelaku bid’ah), sesat dan tidak dihukumi kafir “.

 

Imam al-Faqih al-Kamal Ibn al-Himam al-Hanafi mengatakan :

 

والمشبه اذا قال له تعالى يد ورجل كما للعباد فهو كافر ملعون وان قال جسم لا كالاجسام فهو مبتدع لانه ليس له الا اطلاق لفظ الجسم عليه وهو موهم للنقص فرفعه بقوله لا كالاجسام فلم يبق الا مجرد الاطلاق وذالك معصية تنتض سببا للعقاب لما قلناه من الايهام

“ Orang yang menyerupai Allah dengan makhluk-Nya jika mengatakan, “ Allah Ta’ala memiliki tangan dan kaki seperti hamba-Nya “, maka dia dihukumi kafir lagi terlaknat. Dan jika ia mengatakan, “ Allah itu jisim tidak seperti jisim lainya “, maka dia dihukumi pelaku bid’ah, karena dia tidak ada lain hanya mengatakan lafadz jisim secara umum yang mewahamkan kekurangan bagi Allah, lalu ia meniadakannya dengan ucapannya, “ Tidak seperti jisim lainnya “, maka ini adalah pengucapan jisim secara muthlaq  maka ini adalah ma’shiat yang pantas mendapat hukuman karena ada waham (penyamaran) sebagaimana telah kami katakana “.[12]

 

Imam Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan :

 

قوله : كقوله جسم لا كالاجسام, وكذا لو لم يقل كالاجسام واما لو قال لا كالاجسام فلا يكفر لانه ليس فيه الا اطلاق لفظ الجسم الموهم للنقص فرفعه بقوله لاكالاجسام فلم يبق الا مجرد الاطلاق وذالك معصية

“ Ucapan ; “ Seperti perkataanya, “ Allah jisim seperti jisim lainnya “. Demikian juga seandainya ia tidak mengatakan, “ Seperti jisim lainya “. Adapun seandainya ia mengatakan, “ Tidak seperti jisim lainya, maka tidak dihukumi kafir, karena tidak ada lain hanyalah pengucapan jisim secara umum yang mewahmkan kepada kekurangan bagi Allah, kemudian diangkatnya dengan ucapan “ Tidak seperti jisim lainnya “, maka itu hanyalah semata-mata pengucapan secara umum saja dan hal itu dihukumi ma’shiat “.[13]

 

Dan masih banyak lagi pendapat ulama hanafiyyah yang senada di atas.

 

Ulama Malikiyyah.

 

Ulama Malikiyyah berpendapat kafirnya orang yang mengatakan “ Allah jisim seperti jisim lainnya “, dan menghukum pelaku bid’ah bagi orang yang mengatakan, “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “.

 

Imam al-Qurthubi mengatakan :

 

السادسة: قوله تعالى: { فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ } قال شيخنا أبو العباس رحمة الله عليه: متبِعو المتشابه لا يخلو أن يتبعوه ويجمعوه طلباً للتشكيك في القرآن وإضلالِ العوامّ، كما فعلته الزنادقة والقرامِطة الطاعنون في القرآن؛ أو طلباً لاعتقاد ظواهر المتشابه، كما فعلته المجسِّمة الذِين جمعوا ما في الكتاب والسنة مما ظاهره الجِسمية حتى ٱعتقدوا أن البارىء تعالى جسم مجسم وصورة مصوّرة ذات وجه وعين ويد وجنب ورجل وأصبع، تعالى الله عن ذلكٰ أو يتبعوه على جهة إبداء تأويلاتها وإيضاح معانيها، أو كما فعل صبيغ  حين أكثر على عمر فيه السؤال. فهذه أربعة أقسام:
الأول – لا شك في كفرهم، وأن حكم الله فيهم القتل من غير استتابة.
الثاني – الصحيح القول بتكفيرهم، إذ لا فرق بينهم وبين عباد الأصنام والصور، ويستتابون فإن تابوا وإلا قتلوا كما يفعل بمن ارتد.
الثالث – اختلفوا في جواز ذلك بناء على الخلاف في جواز تأويلها. وقد عرف، أن مذهب السلف ترك التعرض لتأويلها مع قطعهم باستحالة ظواهرها، فيقولون أمروها كما جاءت. وذهب بعضهم إلى إبداء تأويلاتها وحملها على ما يصح حمله في اللسان عليها من غير قطع بتعيين مجمل منها.
الرابع – الحكم فيه الأدب البليغ، كما فعله عمر بصبيغ

 

 “Keenam: Firman Allah ((mereka mengikut apa yang samar daripadanya untuk mengkehendaki fitnah dan mengkehendaki ta’wilnya)). Guru kami Abu Al-Abbas berkata: “Mereka yang mengikuti mutasyabihat tidak lain apakah mengikuti mutasyabihat dan menghimpunkannya (menghimpunkan ayat-ayat mutasyabihat untuk menetapkan makna dhahir atau menetapkan kontradiksi antara ayat-ayat Al-Qur’an) untuk membuat keraguan dalam Al-Qur’an dan menyesatkan orang awam sebagaimana yang dilakukan oleh Zindiq, Qaramithoh yang menuduh Al-Qur’an, ataupun percaya/berpegang dengan dhahir-dhahir (makna dhahir) mutasyabih sebagaimana yang dilakukan oleh mujassimah yang menghimpun  yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mana makna dhahirnya mengandungi makna kejisiman, lalu mempercayai Allah itu suatu jisim yang berjisim, suatu rupa yang mempunyai rupa bentuk, yang mempunyai wajah, mata, tangan, sisi, kaki dan jemari yang mana maha suci Allah daripadanya (sifat-sifat tersebut). Atau mengikuti dari segi memulaikan takwil dan menejlaskan makna-makna, atau seperti apa yang dilakukan oleh Shabigh ketika banyak bertanya kepada Umar tentang ini. Maka ini ada empat macam :

 

Pertama : mereka tidak diragukan lagi kekafirannya, dan hokum Allah berlaku baginay dengan membunuhnya tanpa memintanya bertaubat.

 

Kedua : pendapat yang sahih, mereka dihukumi kafir karena tidak ada bedanya mereka dengan para penyembah berhala dan patung. Dan mereka dituntut untuk bertaubat, jika tidak bertaubat, maka mereka dibunuh sebagaimana hokum murtad.

 

Ketiga : ulama berbeda pendapat di dalam kebolehan pengucapan itu, karena didasari perbedaan kebolahan takwil atasnya. Dan telah diketahui bahwasanya madzhab ulama salaf meninggalkan perbincangan tentang maknanya disertai kepastian mereka terhadap kemustahilan makna dhahirnya, sehingga mereka mengatakan, “ Laluilah sebagaimana datangnya “. Sebagian mereka berpenda  pat kepada memulainya takwil atasnya dan mengarahkan maknanya pada makna yang sahih di lisan tanpa memastikannya dengan menentukan yang mujmal darinya.

 

 

Keempat : menghukuminya dengan adab yang tinggi sebagaimana dilakukan Umat kepada Shabigh ”[14]

 

Imam ash-Shawi mengatakan :

 

قوله اي يقتضي الكفر اي يدل عليه دلالة التزامية كقوله جسم متحيز او كالاجسام واما لو قال جسم لا كالاجسام فهو فاسق وفي كفره قولان رجح عدم كفره

 

“ Ucapannya, “ menyebabkan kekafiran “ artinya menunjukkan dengan petunjuk yang bersifat kelaziman seperti ucapannya, “ Allah jisim yang memiliki batasan “, atau mengatakan “ Allah jisim seperti jisim lainnya “. Adapun jika mengatakan,  “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “, maka dia dihukumi fasik, dan hokum kafirnya terdapat dua pendapat, pendapat yang rajah adalah tidak kafir “.[15]

 

Ulama Syafi’iyyah.

 

Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa mereka yang mengatakan, “ Allah jisim tidak seperti jisim lainnya “ adalah sesat. Adapun mereka yang mengatakan, “ Allah jisim seperti jisim lainnya “, atau memberikan hakikat jisim yang berupa susunan dan batasn pada-Nya walaupun tidak mengucapkan dengan lafadz jisim, maka ulama berbeda pendapat a  pakah dihukumi kafir atau tidak.

 

Imam an-Nawawi mengatakan :

 

قد ذكرنا ان من يكفر ببدعته لاتصح الصلاة وراءه ومن لايكفر تصح فممن يكفر من يجسم تجسيما صريحا

“ Kami telah sebutkan bahwa orang yang dihukumi kafir dengan kebid’ahannya tidkalah sah sholat di belakangnya, dan orang yang tidak dihukumi kafir, maka sah sholatnya. Termasuk orang yang dihukumi kafir adalah orang yang menjsimkan Allah secara jelas “.[16]

 

Imam Badruddin az-Zarkasyi mengatakan : “ Adapun orang yang keliru di dalam masalah ushul dan kaum mujassimah, maka tidak diragukan dosa, kefsikan dan kesesatannya. Dan berbeda pendapat dalam hokum kekafirannya. Imam al-Asy’ari memiliki dua pendapat, imam al-Haramain dan Ibn al-Quysairi d  an yang lainnya mengatakan, “ Ucapan yang paling jelas dari dua pendapatnya (al-Asy’ari) adalah tidak menghukumi kafir “, dan inilah pilihan al-Qadhi “.[17]

 

Ulama Hanabilah.

 

Ulama Hanabilah berpendapat kafirnya para mujtahid mujassimah bukan para muqallidnya (pengikutnya).

 

Muhammad bin Abi Ya’la mengatakan menukil dari ayahnya :

فمن اعتقد ان الله سبحانه جسم من الاجسام واعطاه حقيقة الجسم من التأليف والانتقال فهو كافر لانه غير عارف بالله عز وجل لان الله سبحانه يستحيل وصفه بهذه الصفات واذا لم يعرف الله سبحانه وجب ان يكون كافرا

“ Barangsiapa yang berkeyakinan Allah Ta’ala dari jisim dan memberikan haikat jisim berupa susunan dan perpindahan, maka dia dihukumi kafir karena ia tidak mengenal Allah Ta’ala karena Allah itu mustahil disifati dengan sifat-sifat ini. Jika ia tidak mengenal Allah, maka wajib adanya ia kafir “.[18]

 

Mar’i al-Karami mengatakan : “ Mengherankan, para imam Hanabilah kami mengikuti pendapat ulama salaf, dengan mensifati Allah sesuai yang Allah sifati sendiri, dan juga Rasul-Nya tanpa tahrif, ta’thil dan tanpa adanya kaif dan tamtsil. Akan tetapi kamu temukan orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu agamanya menisbatkan kepada tajsim, padahal pendapat mereka bahwa mujassim itu adalah kafir, berbeda dengan pendapat ulama Syafi ’iyyah yang berpendapat tidak kafirnya mujassim. Ada kaum yang mengkafirkan mujassimah, lalu kenapa mereka mengucapkan tajsim ? “[19]

 

Al-Majd mengatakan : “ Pendapat yang sahih, adalah sesungguhnya setiap bid’ah yang kami hukumi kafir bagi pencetusnya, maka kami menghukumi fasik bagi orang yang mengikutinya “.[20]

 

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 17-03-2014

 

 

[1] Fatawa Ibnu Utsaimin : 10/770

[2] Syarh Akidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, Ibnu Utsaimin: 226

[3]     1/457

[4] Tahdzib al-Lughah : 10/314

[5]

[6] Mufradadat : 94

[7] Al-Ghunyah lil Mutawalli : 50

[8] Tafsir al-Qurthubi / Jami’ Ahkam al-Quran : 6/386

[9] Fatawa Ibnu Utsaimin : 8/95

[10] Ash-Shawaiq al-mursalah : 1/227

[11] Tanbiihaat ‘ala man tawwala ash-Shifaat : 19

[12] Fath al-Qadir : 1/350

[13] Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar : 1/562

[14] Tafisr al-Qurthubi :

[15] Hasyiah ash-Shawi ‘ala asy-Syarh ash-Shaghir : 4/342

[16] Al-Majmu’ : 4/253

[17] Al-Bahr al-Muhith : 8/280

[18] Thabaqat al-Hanabilah : 2/212

[19] Aqawil ats=Tsiqaat : 64

[20] Kasysyaaf al-Qina’ : 6/420 Pengertian Tasybih dan Tajsim Menurut Ahlussunnah Bhg 2 | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *