Home »Menjawab Wahabi »Menjawab Isu Berkabung dan Momen of Slince Menjawab Isu Berkabung dan Momen of Slince Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

Puak wahabi – salafi memang keberadaanya selalu membawa kerusuhan dan perselisihan paham terhadap mayoritas umat Islam di belahan dunia, sering kali mereka mengkritik, membid’ahkan atau bahkan mensyirikkan amalan-amalan kaum muslimin yang secara umumnya memiliki landasan syare’atnya atau amalan yang sepatutnya tidak boleh diingkari kerana tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah pokok syare’at.

Beberapa waktu yang lalu, di negeri Malaysia ketika jenazah korban kecelakaan pesawat MH17 tiba, sebagian muslim di sana melakukan perbuatan tunduk selama beberapa minit (moment of silence) bagi menghormati orang yang mati tersebut. Oleh puak wahabi di sana, perbuatan ini dinilainya bercanggah dengan hukum syare’at. Mereka juga menyalahkan perbuatan menaikkan bendera setengah tiang dan menggunakan pakaian hitam ketika berkabung.

Menundukkan kepala sebentar untuk menghormati janazah.

Menghormati janazah dengan menundukkan kepala selama beberapa menit (moment of silence), tidaklah bertentangan dengan syare’at. Justru berlandaskan dalil dari syare’at bahkan jika dilakukan dengan niat mengambil i’tibar (pelajaran dan nasehat) untuk diri sendiri atas kematian itu, maka akan selari dengan sunnah Nabi dan para ulama salaf shalih.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّتْ بِهِ جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ، فَقَامَ: فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ، فَقَالَ: “إِنَّ لِلْمَوْتِ فَزَعًا

“ Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilalui dengan janazah seorang yahudi, lalu Nabi berdiri, maka Nabi ditanya, “ Wahai Rasulallah, itu adalah janazah yahudi “, maka Nabi menjawab, “ Sesungguhnya kematian memiliki rasa takut “. (HR. An-Nasai : 1922)

Ini merupakan dalil diperbolehkannya kita menghormati janazah ketika hadir di hadapan kita. Dan jawaban Nabi, “ Sesungguhnya kematian memiliki rasa takut “, adalah anjuran agar kita mengambil pelajaran atas kematian yang telah datang pada siapapun.

“ Sahal bin Hunaif dan Qais bin Sa’ad sedang duduk-duduk di Qadisiah (tempat dekat Kufah), lalau janazah melewati mereka berdua, dan mereka pu seketika itu berdiri. Lalu mereka ditanya, “ Sesungguhnya janazah itu dari penduduk bumi (ahlu dzimmah), maka mereka berdua menjawab, “ Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dilalui oleh janazah, lalu beliau berdiri, dan ditanya, “ Janazah itu orang yahudi “, maka Nabi menjawab, “ Bukankah janazah itu juga jiwa / nyawa ? “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua ulama salaf di atas, justru menghormati janazah kerana beralasan janazah juga jiwa / nyawa sebagaimana jawaban Nabi di atas. Ini artinya siapapun janazahnya, boleh bagi kita untuk menghormatinya dengan berdiri ataupun sekedar menundukkan kepala sejenak (sekejap). Apatah lagi jika hati kita turut mengambil i’tibar (pelajaran dan nasehat) atas kematian itu.

Menundukkan kepala sekedar hormat kepada janazah tidaklah haram apatah lagi syirik. Dengan syarat penundukkan kepalanya tidak sampai pada batas paling sedikitnya ruku’ ketika sholat. Dalam kitab al-Maushu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan :

 قال العلماء: ما جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يصل به إلى أقل الركوع – عند اللقاء – لا كفر به ولا حرمة كذلك , لكن ينبغي كراهته؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : لمن قال له : { يا رسول الله , الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له ؟ قال : لا , قال : أفيلتزمه ويقبله ؟ قال : لا , قال : أفيأخذ بيده ويصافحه ؟ قال : نعم } . الحديث . أما إذا انحنى ووصل انحناؤه إلى حد الركوع فقد ذهب بعض العلماء إلى أنه إن لم يقصد تعظيم ذلك الغير كتعظيم الله لم يكن كفرا ولا حراما , ولكن يكره أشد الكراهة لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا . وذهب بعضهم إلى حرمة ذلك ولو لم يكن لتعظيم ذلك المخلوق , لأن صورة هيئة الركوع لم تعهد إلا لعبادة الله سبحانه.اهـ.

“ Para ulama berkata, “ Tradisi yang berlaku dari menundukkan kepala dan menundukkan punggung sekiranya yang tidak sampai pada batas paling sedikitnya ruku’ ketika bertemu, maka tidaklah dihukumi kufr dan juga haram, akan tetapi makruh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang bertanya, “ Wahai Rasul, sesorang dari kami bertemu dengan saudara atau sahabatnya, apakah ia merundukkan kepala untukknya ? Nabi menjawab, “ Tidak “. Apakah ia merangkul dan menciumnya ?, Nabi menjawab, “ tidak “. Apakah ia mengambil tangannya dan bersalaman ?, Nabi menjawab, “ Iya “. Adapun jika ia merundukkan kepala sekiranya sampai pada batas ruku’, maka sebagian ulama  mengatakan, “ jika pengagungannya kepada orang lain itu tidak seperti mengagungkan kepada Allah, maka tidaklah kufr dan juga tidak haram, akan tetapi sangatlah makruh kerana jatuh gambaran seperti itu biasanya mengagungkan makhluk. Dan sebagian ulama lainnya menghukuminya haram meskipun tidak niat mengagungkan makhluk itu, kerana bentuk ruku’ tidaklah dilakukan kecuali hanya untuk Allah “.[1]

Dengan ini kita qiaskan juga terhadap orang yang sudah mati atau janazah. Dan juga hadits di awal tentang berdiri menghormati janazah, maka dengan demikian berdiri dan menundukkan kepala sebentar bagi mengormati si mati hukumnya adalah boleh (tidak mengapa).

Menaikkan bendera setengah tiang.

Adapun menaikkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, maka hukumnya mubah, kerana ia hanyalah tradisi yang berlaku di beberapa daerah dan tidak bertentangan dengan hukum syare’at, selama tidak meyakini hal itu mendapatkan manfaat kepada si mati. Namun ia hanyalah sebagai tanda berkabung saja. Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاك

 

” Sesunngguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia “. (HR. Baihaqi)

 

Dalam hadits tersebut Nabi Saw menegaskan untuk menyempurnakan akhlak karimah yang juga berarti budaya, tradisi dan adat masyarakat. Bukan malah melenyapkan atau membungi hanguskannya.

 

Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

 

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة وخالق الناس بخلق حسن

 

” Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, susullah kejelakan dengan kebajikan yang biasa meleburnya dan berperilakulah kepada orang lain dengan perilaku yang baik “. (HR. Turmudzi dan Hakim)

 

Apakah yang dimaksud dengan perilaku yang baik ? Sayyidina Ali bin Abi Tholib saat ditanya tentang maksud perilaku yang baik dalam hadits tersebut, belai menjawab :

 

هو موافقة الناس في كل شيء ماعداامعاصي

 

” (Maksud perilaku yang baik tersebut) adalah beradaptasi dengan masyarakat dalam setiap hal selama bukan maksyiat “.[2]

 

Kemudian populer menjadi peribahasa :

لولا الوئام لهلك الانام

” Andaikan tidak ada adaptasi (dalam pergaulan) niscaya manusia akan sirna “.

 

Kita tengok adat ritual kaum Musyrikin Jahiliyah dalam melakukan tawaf di Ka’bah :

أَمَّا الرِّجَالُ فَيَطُوْفُوْنَ عُرَاةً وَأَمَّا النِّسَاءُ فَتَضَعُ اِحْدَاهُنَّ ثِيَابَهَا كُلَّهَا إِلاَّ دِرْعاً تَطْرَحُهُ عَلَيْهَا ثُمَّ تَطُوْفُ فِيْهِ …. فَكَانُوْا كَذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Para lelaki melakukan tawaf dengan telanjang. Sementara perempuan, diantara mereka melepas seluruh pakaiannya kecuali baju perang yang dilempar ke arahnya kemudian dikelilingi…. Hal itu terus berlangsung hingga Allah mengutus nabi-Nya Saw” [3]

Setelah Islam datang, hal yang diluruskan adalah tatacara tawaf yang sesuai Syariat, yaitu menutup aurat, dan bukan menghapus ritual tawaf itu sendiri yang telah ada sejak masa Nabi Ibrahim As, sebagaimana dalam firman Allah Swt al-A’raf: 31:

يَا بَنِيْ آدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”

Ibnu Katsir berkomentar :

هَذِهِ اْلآيَةُ الْكَرِيْمَةُ رَدٌّ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ فِيْمَا كَانُوْا يَعْتَمِدُوْنَهُ مِنَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ عُرَاةً كَمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ (3028) وَالنَّسَائِي (5/233).

“Ayat yang mulia ini adalah bantahan kepada kaum Musyrikin yang melakukan tawaf di Ka’bah dengan telanjang, sebagaimana riwayat Muslim (No 3028) dan al-Nasa’i (V/233)” [4]

 

Maka jelas, bahwa ajaran Islam mesti disampaikan dengan santun dan menghargai budaya. Nilai-nilai toleransi, adaptasi dan pembauran pada budaya dengan sendirinya akan membuat masyarakat mencintai Islam. Namun perlu diingat pesan Sayyidina Ali  ” Maa ‘adal ma’ashi “ yaitu budaya atau tradisi yang bukan maksyiat. Artinya budaya atau tradisi yang bisa ditoleransi dan dimaklumi adalah yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia sendiri dan tidak bersebrangan dengan nilai-nilai agama. Sebagaimana definsi bid’ah yang dipaparkan imam Safi’i dan jumhur ulama Ahlus sunnah.

 

Oleh sebab itu, diperlukan filter yang jelas agar budaya dan agama dapat beriringan menuntun masyarakatnya kea rah yang benar. Yaitu filter akidah dan filter amaliyah. Filter akidah menjadi factor utama karena merupakan dasar keimanan pelaku budaya dan filter amaliah merupakan penjelas suatu budaya bisa menemukan legalitasnya atau tidak.

 

Berpakaian hitam ketika ta’ziyah.

Meskipun tidak ada anjuran dari Nabi untuk memakai pakaian hitam ketika ta’ziyah atau menghantar janazah, maka ianya tidaklah haram atau pun bid’ah sayyiah. Bahkan imam al-Ghazali tidak mau mengatakan hal itu bid’ah hanya kerana tidak ada di qurun pertama, sebab tidak ada larangan secara khsusus dari Nabi. Imam al-Ghazali mengatakan :

وأما مجرد السواد فليس بمكروه لكنه ليس بمحبوب إذ أحب الثياب إلى الله تعالى البيض. ومن قال إنه مكروه وبدعة أراد به أنه لم يكن معهوداً في العصر الأول، ولكن إذا لم يرد فيه نهي فلا ينبغي أن يسمى بدعة ومكروهاً ولكنه ترك للأحب

“ Adapun semata-mata memakai pakaian hitam, maka tidaklah makruh, akan tetapi tidak disukai, kerana pakaian yang paling disukai Allah adalah warna putih. Dan siapa yang mengatakan itu adalah bid’ah, maka yang dimaksud adalah tidak terjadi di masa yang pertama, akan tetapi jika tidak ada larangannya, sepatutnya tidak menyebutnya bid’ah atau makruh, akan tetapi meninggalkannya untuk hal yang disukai “[5]

Namun para ulama empat mazhab membolehkan bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, memakai pakaian hitam hanya selama tiga hari saja.

 

Ibnu Abdillah al-Katibiy
Kota Santri, 28/08/2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Al-Maushu’ah al-Fiqhiyyah : 23/14

[2] Mirqah Shu’ud at-Tashdiq : 61

[3] Ibnu Ishaq dalam al-Sirah al-Nabawiyah I/30

[4] Tafsir Ibnu Katsir : III/405

[5] Ihya Ulumuddin : 2/372 Menjawab Isu Berkabung dan Momen of Slince | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *