Home »Menjawab Wahabi »Manhaj Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim Di Dalam Penilaian Sahih Sesuatu Hadits Manhaj Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim Di Dalam Penilaian Sahih Sesuatu Hadits Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

 

1.      Ibnu Hibban (270-an H-354H)

 

Nama beliau adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad at-Tamimi al-Busti. Lahir di Busti satu kampung di daerah Sijistan pada tahun 270 lebih Hijriyyah. Beliau seorang ahli sejarah, bahasa Arab, ilmu bumi, kedokteran, perbintangan, ilmu kalam, dan filsafat. Karena kepandaiannya dalam filsafat beliau pernah dituduh zindiq dan hampir dihukum mati. Beliau juga seorang pengembara terkenal dan menjadi qadhi di Samarkand dan kemudian kembali ke negeri asalnya. Al-Manawi berkata, “ Ibnu Hibban telah berjasa besar dalam mengeluarkan ilmu hadits yang tak sanggup dikeluarkan oleh imam-imam lain “. Menurut al-Hakim, “ ia adalah salah seorang bendaharawan ilmu dalam bidang fikih, bahasa dan dakwah “

 

 

Beliau meriwayatkan hadits dari an-Nasa’i, Ahmad bin al-Hasan bin Abdul Jabbar ash-Shufi, Ahmad bin Ali bin Al-Mutsanna at-Tamimi, Ibnu Khuzaimah, dan lain-lain. Sedangkan hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al-Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah an-Naisaburi, Muhammad bin Harun dan lain-lain.

 

Di antara karyanya yang terkenal Sahih Ibn Hibban yang semula dinamakan al-Musnad ash-Shahih ‘ala at-Taqasim wa al-Anwa’. As-Suyuthi mengatakan, “ Sistematika Sahih Ibn Hibban lebih Indah karena tidak sama dengan kitab al-Abwab dan kitab al-Musnad, karenanya dinamakan at-Taqasim wa al-Anwa’ “.  Al-Hazimi berkata, “ Sahih Ibn Hibban lebih sahih daripada al-Mustadrak karya al-Hakim, karena lebih korek dan lebih bersih baik dari segi sanad dan matan “.[1] Beliau wafat pada tahun 354 H / 928 M.

 

a.      Manhaj Ibnu Hibban dalam mengkaji status hadits.

 

Sebagian orang menuduh beliau tasahul (menganggap enteng) di dalam penilaian tsiqah seorang perawi, sehingga pentautsiqan beliau ditolak secara muthlaq atau tidak berpegang dengan pendapat dan ucapan beliau. Ini jelas kesalahan besar dan kesombongan tanpa mau merujuk kalam para ulama hadits mutaqaddimin tentangnya.

 

Dalam menilai seorang perawi, beliau memiliki prinsip kaidah :

 

العدالة هي الأصل والجرح طارئ

“ ke’adalahan adalah asli sifat perawi sedangkan jarh adalah sifat baru yang muncul “.

 

Ibnu Hibban mengatakan :

 

العدل من لم يعرف منه الجرح ضد التعديل، فمن لم يعلم بجرح فهو عدل إذا لم يبين ضده؛ إذ لم يكلف الناس من الناس معرفة ما غاب عنهم، وإنما كلفوا الحكم بالظاهر من الأشياء غير المغيب عنهم

“ Orang yang adil adalah orang yang tidak diketahui sifat jarh-nya yang merupakan lawan dari ke’adalahannya. Perawi yang tidak diketahui jarh-nya, maka dia disifati adil jika tidak dijelaskan sifat lawannya. Karena manusia tidak dibebankan untuk mengetahui apa yang gaib dari manusia, mereka hanya dibebankan mengetahui zahirnya saja yang bukan gaib dari mereka “.[2]

 

Jika demikian, manhaj Ibn Hibban adalah “ Sesungguhnya sifat ke’adalahan adalah sifat asal pada setiap manusia, akan tetapi dengan syarat tidak dijarh, maka perawi seperti ini derajatnya naik kepada tautsiq “.

 

b.     Tautsiq Ibnu Hibban terhadap perowi Majhul Hal dan Mastur.

 

Dari konsekuensi manhaj beliau tersebut, beliau banyak mentautsiq perowi yang majhul hal[3] setelah terangkat kemajhulan ‘ainnya[4] dengan sebab periwayatan para perawi yang tsiqah darinya. Hal ini disetujui oleh as-Sayuthi, beliau mengatakan :

 

وإذا لم يكن في الراوي جرح ولا تعديل وكان كل من شيخه والراوي عنه ثقة ولم يأت بحديث منكر فهو عند ابن حبان ثقة

“ Jika pada perawi tidak ada jarh dan ta’dilnya, akan tetapi gurunya dan perawi darinya adalah orang yang tisqah dan tidak membawa hadits yang mungkar, maka dia tsiqah menurut Ibnu Hibban “[5]

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar sedikit heran dengan manhaj Ibnu Hibban ini, beliau mengatakan :

 

وهذا الذي ذهب إليه ابن حبان من أن الرجل إذا انتفت جهالة عينه كان على العدالة إلى أن يتبين جرحه. مذهب عجيب، والجمهور على خلافه، وهذا مسلك ابن حبان في كتاب الثقات الذي ألّفه

“ Prinsip ini dipegang oleh Ibnu Hibban bahwasanya sesorang itu jika sifat jahalah ‘ainnya terhilangkan, maka orang itu berada pada sifat ‘adalah (adil) sampai menjadi jelas jarh-nya (kecacatannya), ini adalah pendapat yang asing, sedangkan pendapat jumhur tidak demikian. Inilah prinsip Ibnu Hibban dalam kitab ast-Tsiqat yang dikarangnya “.[6]

 

c.       Mengkaji definisi Mastur menurut Ibnu Hajar.

 

Mastur menurut Ibnu Hajar adalah :

 

ان روي اثنان فصاعدا ولم يوثق فهو مجهول الحال وهو المستور وقد قبل روايته جماعة بغير قيد وردها الجمهور والتحقيق ان رواية المستور ونحوه مما فيه الاحتمال لا يطلق القول بردها وقبولها بل يقال هي موقوفة الى استبانة حاله كما جزم به الحرمين

“ Jika diriwayatkan dua riwayat atau lebih, maka dia adalah majhul hal dan ia adalah mastur, sekelompok ulama menerima riwayat mastur tanpa syarat sedangkan jumhur menolaknya. Yang benar adalah bahwa riwayat mastur dan semisalnya mengandung kemungkinan, tidak boleh secara muthlaq menlokanya dan menerimanya akan tetapi tergantung sampai jelas keadaannya sebagaimana ditegaskan oleh imam Haramain “.[7]

 

Dalam kitab yang lain :

 

أن جهالة العين قد ترتفع برواية اثنين؛  لأنه ما لم يوثق به يبقى مجهول الحال وهو المستور 

“ Sesungguhnya jahalah ‘ain terkadang dapat terangkat dengan riwayat dua orang darinya, karena selama masih belum ditautsiq, maka keadaannya tetap majhul hal dan ia adalah mastur “.[8]

 

Di sisi lain ketika menulis tarjamah Ubaidillah bin Ramajis dalam hadits yang beliau riwayatkan, beliau berkomentar tentang status hadits itu sebagai berikut :

 

فالحديث حسن الإسناد؛ لأن راوييه مستوران لم يتحقق أهليتهما ولم يجرحا

“ Hadits tersebut baik (hasan) isnadnya, karena dua perawinya yang mastur belum jelas kebaikannya dan tidak dijarh “[9]

 

Di sini jelas sekali al-Hafidz Ibnu Hajar menilai hasan hadits yang ada dua perawi mastur yang belum jelas ‘keadalahan dan jarhnya. Dalam contoh yang lainnya, ketika adz-Dzahabi mengomentari Ahmad bin Yahya bin Muhammad, bahwa beliau tidak mengenalnya, maka Ibnu Hajar langsung menolaknya dan mengatakan :

 

بل يكفي في رفع جهالة عينه رواية النسائي عنه وفي التعريف بحاله توثيقه له

“ Tidak demikian, akan tetapi cukup di dalam mengangkat jahalah ‘ainnya periwayatan an-Nasai darinya dan di dalam mengenal keadaan dan tautsiq kepadanya “[10]

 

Demikian juga ketika adz-Dzahabi mengatakan majhul kepada perawi Ahmad bin Nufail as-Sakuni, maka Ibnu Hajar mengomentarinya :

 

قلت بل هو معروف يكفيه رواية النسائي عنه

“ Aku katakan (Ibnu Hajar), “ Justru ia ma’ruf, cukup periwayatan an-Nasai darinya “.[11]

 

Di sini jelas sekali al-Hafidz Ibnu Hajar justru mentautsiq majhul ‘ain karena diriwayatkan oleh salah satu ulama hadits yang tsiqah yaitu an-Nasai. Padahal ini adalah di Antara prinsip Ibnu Hibban.

 

d.     Adz-Dzahabi mensahihkan hadits majhul hal.

 

وقد اشتهر عند طوائف من المتأخرين، إطلاقُ اسم ( الثقة ) على من لم يُجْرَح، مع ارتفاع الجهالة عنه. وهذا يُسمى: مستوراً، ويُسمى:  محلهُّ الصدق، ويقال فيه: شيخ . وقولهم : مجهول، لا يلزمُ منه جهالةُ عينه، فإن جُهِلَ عينُه وحالُه، فأَولَى أن لا يَحتجُّوا به . وإن كان المنفردُ عنه من كبارِ الأثبات، فأقوى لحاله، ويَحتَجُّ بمثلِه جماعةٌ كالَّنسائي وابنِ حِباَّن .ويَنْبُوعُ معرفةِ الثقات: تاريخُ البخاريِّ، وابنِ أبي حاتم، وابنِ حِبَّان

“ Telah masyhur menurut sekelompok ulama mutakhkhirin menyebut tsiqah kepada perawi yang tidak dijarh (dicacat) dengan disertai terangkatnya majhul ‘ainnya, dan ini dinamakan mastur, tempatnya disebut ash-shidq, juga dikatakan padanya ‘Syaikh’. Ucapan mereka : “ Majhul “, tidak melazimkan jahalah ‘ainnya, jika dia majhul ‘ain dan hal, maka yang lebih utama tidak dijadikan hujjah dengannya. Dan satu orang yang meriwayatkan darinya dari kalangan ulama besar yang tetap (tsiqah seperti an-Nasa’I, pent), maka akan menguatkan keadaannya, seperti ini dijadikan hujjah oleh sekelompok ulama seperti imam an-Nasai dan Ibnu Hibban. Dan pusat untuk mengetahui ulama tsiqat adalah Tarikh al-Bukhari, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban “.[12]

 

Kaidah adz-Dzhabi ini tidak jauh berbeda dengan kaidah Ibnu Hibban di atas. Adz-Dzahabi ketika mengomentari tarjamah Malik bin al-Khair az-Zabadi, ia mengatakan :

 

قال ابن القطان: هو ممن لم تثبت عدالته؛ يريد أنه ما نص أحداً على أنه ثقة . وفي رواة الصحيحين عدد كثير ما علمنا أن أحداً نص على توثيقهم . والجمهور على أن من كان من المشايخ قد روى عنه جماعة ولم يأت بما ينكر عليه أن حديثه صحيح

“ Ibn al-Qaththan berkata, “ Dia termasuk perawi yang tidak tetap sifat ‘adalahnya “, maksudnya adalah bahwasanya tidak seorang pun yang menash bahwa ia tisqah. Dan di alam perawi dua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) banyak sekali perawi yang kami ketahui bahwa tidak seorang pun yang menash atas pentautsiqannya, sedangkan jumhur menetapkan bahwasanya yang dari para syaikh yang telah diriwayatkan darinya oleh jama’ah dan tidak membawa hadits mungkar, maka haditsnya dinilai sahih “.[13]

 

Ini menunjukkan dengan jelas bahwasanya adz-Dzahabi berprinsip bahwa salah satu perawi majhul ‘ain jika diriwayatkan oleh orang yang masyhur seperti imam Bukhari atau Muslim, maka haditsnya dinilai sahih.

 

e.      Ibnu Hibban tidak menyendiri dalam kaidahnya.

 

Kaidah Ibnu Hibban di atas, telah didahului oleh imam Abu Hanifah. Imam Mulla Ali al-Qari mengatakan :

 

واختار هذا القول، ابن حبان تبعا للإمام الأعظم؛ إذ العدل عنده: من لا يعرف فيه الجرح، قال: والناس في أحوالهم على الصلاح والعدالة حتى يتبين منهم ما يوجب القدح، ولم يكلف الناس ما غاب عنهم، وإنما كلفوا الحكم للظاهر

“ Dan Ibnu Hibban memilih pendapat ini karena mengikuti imam besar (yakni Abu Hanifah), karena adil menurutnya adalah orang yang tidak diketahui jarhnya, ia mengatakan, “ Manusia di dalam keadannya pada asalnya adalah baik dan adil hingga menjadi jelas apa yang menjadikan mereka cacat sedangkan manusia tidak dibebankan mengetahui apa yang gaib dari mereka, mereka hanya dibebankan hokum zahirnya saja “.[14]

 

Imam al-Laknawi menepis tuduhan tasahul Ibnu Hibban.

 

وقد نسب بعضهم التساهل إلى ابن حبان، وقالوا: هو واسع الخطو في باب التوثيق، يوثق كثيراً ممن يستحق الجرح. وهو قول ضعيف

“ Sebagian ulama menisbatkan tasahul kepada Ibnu Hibban, dan mengatakan, “ Ibnu Hibban terlalu luas melangkah di dalam bab taustiq, ia mentautsiq banyak perawi yang seharusnya dijarh “, ini adalah ucapan lemah “.[15]

 

Imam al-Laknawi justru melemahkan ucapan pendapat yang menisbatkan tasahul kepada Ibnu Hibban.

 

Pengkajian :

 

Jika kita mau mengkaji lebih dalam, maka kita akan mendapati kebenaran ucapan al-Laknawi, karena dalam muqaddimah kitab ast-Tsiqaat : 1/13, Ibnu Hibban telah menjelaskan bahwa ada dua jenis pentaustiqan beliau yaitu yang pertama, perawi yang para ulama berikhtilaf (berbeda pendapat) dalam jarh dan ta’dilnya, jika sahih menurut beliau, maka beliau memasukannya ke dalam tsiqatnya, jika tidak, maka beliau memasukkannya ke dalam kitab al-Majruhinnya atau kitab beliau lainnya.

 

Kedua, perawi yang tidak diketahu jarh dan ta’dilnya, akan tetapi guru dan muridnya (perawi darinya) adalah orang tsiqah dan tidak datang dengan hadits mungkar, maka dia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban. Dan Ibnu Hibban tidak menyendiri dengan kaidahnya ini sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya. Maka menisbatkan tasahul secara muthlaq terhadap Ibnu Hibban adalah suatu kekeliruan, karena yang dituduh tasahul oleh ulama adalah jenis pentaustiqan beliau yang kedua, adapun jenis pentaustiqan beliau yang pertama, maka sama dengan pentaustiqan para imam hadits lainnya, tidaj berbeda.

 

Jumhur ulama hadits menolak riwayat majhul secara muthlak, akan tetapi Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar menerimanya dengan dua syarat yaitu diriwayatkan darinya oleh orang yang tsiqah dan haditsnya tidak mungkar. Dan ketika kita kaji dalam dua kitab sahih imam Bukhari dan imam Muslim, maka kita dapati ada hadits yang tidak meriwayatkan darinya kecuali satu orang atau dua orang saja, sedangkan sifat ke’adalahan perawinya tidak diketahui. Maka secara isyarat dua pendapat ini bersepakat dalam kaidah Ibnu Hibban walaupun berbeda dalam penyebutan lafaznya. Sedangkan perbedaan lafaz tidaklah menjadi masalah.

 

2.      Al-Hakim an-Naisabur (321 H-405 H)

 

Dia adalah Al Hafizh Muhammad bin Abdullah bin Hamdawaih bin Nu’aim bin Al Hakim, Abu Abdillah Adh-Dhabi Ath-Thahmani An-Naisaburi Asy-Syafi’i. Dia terkenal dengan (sebutan) Ibnu Al Bayyi’.[1]

 

Dia lahir di Naisabur pada hari Senin, 3 Rabiul Awwal, tahun 321 H. Ia mempunyai banyak kitab dalam ilmu hadits diantaranya adalah: al-Ilal wa Amali, Ma’rifatu Ulumil Hadits dan karya beliau yang terkenal yaitu al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain lain lainnya. Menurut riwayat kitabnya lebih kurang 1.500 juz.

 

Ia pernah melakukan perjalanan ke Iraq dan Hijaz, beliau mengadakan Mudzakarah dengan ulama ulama hadits dan Munadharah dengan penghapal penghapal hadits.

 

Al Hakim menjabat sebagai Qadli di Naisabur pada tahun 359 H.

 

Ia wafat pada tahun 405 H

 

Adz-Dzahabi berkata, “Dia seorang Imam ahli hadits, kritikus, sangat pandai, dan syaikhnya para muhaddits.”[16]

 

Ibnu Katsir berkata, “Dia seorang ahli agama, orang yang dapat dipercaya, dapat menjaga diri, teliti (kuat hapalannya), objektif, danwara’.”[17]

 

Ibnu Khalkan berkata, “Dia seorang Imam hadits pada masanya dan penulis kitab-kitab yang belum pernah dikarang sebelumnya. Dia orang yang memiliki ilmu yang luas.”[18]

 

a.      Pandangan ulama atas penilaian sahih al-Hakim.

 

Beliau juga termasuk imam yang mendapat tuduhan tasahul secara muthlaq di dalam menilai sahih suatu hadits oleh sebagian orang karena berpegang dengan ucapan para ulama pengkritiknya tanpa meninjuanya lebih dalam lagi. Ini juga suatu kekeliruan yang patut dihilangkan.

 

Para ulama hadits senantiasa menukil tautsiq al-Hakim dan berpegang dengannya, kitab-kitab ulama hadits penuh dengan penukilan tautisq al-Hakim. Karena beliua seorang imam hadits di masanya, dan memiliki pengetahuan luas tentang jarh dan ta’dil serta illat-illat hadits. Sampai-sampai imam ad-Daruquthni mendahulukannya daripada guru-gurunya yang lainnya. Al-Hafidz Abu Hatim al-Abdawi mengatakan :

 

وسمعت مشيختنا يقولون : كان الشيخ أبو بكر بن إسحاق ، وأبو الوليد النيسابوري يرجعان إلى أبي عبد الله الحاكم في السؤال عن الجرح والتعديل ، وعلل الحديث ، وصحيحه ، وسقيمه

“Aku mendengar guru-guruku berkata, “ Syaikh Abu Bakar bin Ishaq dan Abul Walid an-Naisaburi merujuk kepada Abu Abdillah al-Hakim di dalam pertanyaan tentang jarh dan ta’dil, illat hadits, sahih dan cacatnya “.

 

Para ulama hadits memang sepakat tentang sikap tasahul imam al-Hakim, di antaranya :

 

Al-Hafidz Ibnu Shalah, beliau mengatakan :

أنه واسع الخطو في شرط الصحيح متساهل في القضاء به».

“ Al-Hakim berluas dalam melangkah di dalam pensyaratan sahih, dan bermudah-mudahan di dalam memtuskan kesahihan “[19]

 

Imam an-Nawawi :

الحاكم متساهل كما سبق بيانه مرارا

“ al-Hakim orang yang mutasahil sebagaimana penjelasan terdahulu berulang-ulang “[20]

 

Adz-Dzahabi mengatakan :

 

يصحح في مستدركه أحاديث ساقطة ويكثر من ذلك

“ Menilai sahih di dalam kitab mustadraknya beberapa ahdits yang gugur dan banyak sekali “[21]

 

Akan tetapi sikap tasahul al-Hakim adalah hanya khusus pada kitab al-Mustadrak beliau saja dan tidak pada yang lainnya, karena di saat beliau menulis al-Mustadrak usia beliau sudah menginjak 70 tahun ke atas dan beliau tidak sempat mengkaji keseluruhannya karena telah didahului oleh ajal beliau. Sebagaimana disebutkan oleh al-Laknawi :

 

وكم من حديث حكم عليه الحاكم بالصحة وتعقبه الذهبي بكونه ضعيفا أو موضوعا: فلا يعتمد على المستدرك للحاكم ما لم يطالع معه مختصره للذهبي

“ Berapa banyak hadits yang dinilai sahih oleh al-Hakim lalu dikomentari oleh adz-Dzhahabi dengan dhaif atau maudhu’, maka tidak dipegang kitab al-Mustadrak al-Hakim semenjak tidak mempelajari bersamanya kitab mukhtahsahrnya karya adz-Dzahabi “[22]

 

Al-Mu’allimi al-Yamani juga mengatakan :

 

هذا وذكرهم للحاكم بالتساهل إنما يخصونه بالمستدرك فكتبه في الجرح والتعديل لم يغمزه أحد بشيء مما فيها فيما أعلم

“ Hal ini apa yang mereka katakan bahwa al-Hakim bersikap tasahul adalah hanya khusus dalam kitab al-Mustadrak beliau saja, maka kitab-kitab beliau di dalam jarh dan ta’dil tidak seorang pun yang mencelanya sedikit pun apa yang ada di dalamnya sepengetahuanku “[23]

  Manhaj al-Hakim dalam kitab al-Mustadraknya.

 

Dalam kitab beliau al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, terbagi menjadi beberapa bagian :

 

1. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat dua syaikh (Bukhari dan Muslim) akan tetapi tidak ditakhrij oleh keduanya. Ini benar

 

2. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat Bukhari “. Ini benar

 

3. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat Bukhari “. Ini benar

 

4. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat dua syaikh (Bukhari dan Muslim) akan tetapi tidak ditakhrij oleh keduanya di dalam ushul dan mengeluarkannya di dalam syawahid.

 

5. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat Bukhari “akan tetapi tidak ditakhrijnya di dalam ushul dan hanya ditakhrij di dalam syawahid saja.

 

6. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat muslim “akan tetapi tidak ditakhrijnya di dalam ushul dan hanya ditakhrij di dalam syawahid saja.

 

7. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat dua syaikh (Bukhari dan Muslim) akan tetapi ia tidak menolah pada susunan sanadnya.

 

8. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat Bukhari “ akan tetapi ia tidak menolah pada susunan sanadnya.

9. Hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Hakim, “ sesuai syarat Muslim “ akan tetapi ia tidak menolah pada susunan sanadnya.

10. Hadits-hadits yang beliau sahihkan yang bukan sesuai syarat salah satu dua syaikh dan beliau mengatakannya sahih isnadnya.

 

11.  Hadits-hadits yang beliau istidrak atas dua syaikh, padahal sudah ditakhrij oleh dua syaikh tersebut, akan tetapi beliau luput darinnya.

 

12. Hadits-hadits yang beliau istidrak atas imam Bukhari, padahal sudah ditakhrij oleh imam Bukhari tersebut, akan tetapi beliau luput darinnya.

 

13. Hadits-hadits yang beliau istidrak atas imam Muslim, padahal sudah ditakhrij oleh imam Muslim tersebut, akan tetapi beliau luput darinnya.

 

14. Hadits-hadits yang dinilai sesuai syarat dua syaikh atau salah satunya atau beliau sendiri yang mensahihkannya, akan tetapi faktanya bernilai hasan. Karena al-Hakim tidak membedakan Antara Hasan dan Sahih, menurutnya hasan termasuk bagian sahih seperti prinsip Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

 

15. Hadits-hadits yang dinilai sesuai syarat dua syaikh atau salah satunya atau beliau sendiri yang mensahihkannya, akan tetapi faktanya bernilai dhaif dengan kedhaifan yang memungkinkan.

 

16.  Hadits-hadits yang dinilai sesuai syarat dua syaikh atau salah satunya atau beliau sendiri yang mensahihkannya, akan tetapi faktanya bernilai dhaif dengan kedhaifan yang sangat.

 

17. Hadits-hadits maudhu’ yaitu kurang lebih ada sekitar 100 hadits sebagaimana dikumpulkan oleh adz-Dzahabi dalam karya tersendirinya.

 

Al-Hafidz adz-Dzhahabi membagi lima bagian di dalam kitab al-Mustadrak imam al-Hakim sebagai berikut :

 

1. Bagian yang banyak yang sesuai syarat sahih dua syaikh.

 

2. Bagian yang banyak yang sesuai syarat salah satunya, kemungkinan semua berjumlah sepertiga kitab bahkan kurang karena kebanyakan hadits-hadits secara zahir sesuai syarat salah satu dua syaikh atau keduanya, akan tetapi secara bathin memiliki illat yang samar yang berpengaruh.

 

3. Sebagian isi kitabnya isnadanya baik dan jayyid sekitar seperempat kitabnya.

 

4. Sisa isi kitabnya terdapat hadits-hadits mungkar dan asing.

 

5. Dan di sebagian kecilnya ada hadits-hadits sekitar 100 hadits yang hati menyaksikan kebathilannya (maudhu’). Aku telah menyisihkan juznya secara tersendiri juga hadits thair yang dinisbatkannya. [24]

 

Kesimpulannya penilaian sahih beliau dipegang oleh para ulama, namun apa yang ada dalam kitab al-Mustadrak beliau perlu ditinjau ulang dan merujuk kepada penilaian para ulama tsiqah lainnya itu pun hanya sebagian kecil dalam kitab al-Mustadrak tidak keseluruhannya. Wa Allahu A’lam..

 

 

 

Shafiyyah an-Nuuriyyah

Kota Santri, 21-02-2014

 

[1] Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyyah, az-Zahrani : 105

[2] Muqaddimah Sahih Ibn Hibban : 1/32

[3] Majhul hal adalah periwayatan seseorang diambil dari dua orang atau lebih tetapi tidak ada yang mentautsiqnya atau bisa diartikan perawi yang tidak ada yang menukil tentang jarh (cacat) dan ta’dilnya (menilai adil).

[4] Majhul ‘ain adalah seorang perowi yang disebutkan dalam sanad tetapi tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang perawi saja.

[5] Muqaddimah Sahih Ibn Hibban : 1/39

[6] Lisan al-Mizan : 1/14

[7] Nuzhah an-Nadzhar fi Taudhih Nukhbah al-Fikar : 48

[8] Syarh Nukhbah al-Fikar : 1/518

[9] Lisan al-Mizan : 4/100

[10] Tahdzib at-Tahdzib : 1/77

[11] Tahdzib at-Tahdzib : 1/76

[12] Syarh al-Muqidzhah : 79

[13] Mizan al-I’tidal : 3/426

[14] Syarh Nukhbah al-Fikar : 1/518

[15] Ar-Raf’u wa at-Takmil : 335

[16] Siyar A’lam An-Nubala’ (17/163).

[17] Al Bidayah wa An-Nihayah (11/355).

[18]  Wafiyat Al A’yan (4/281).

[19] Ulum al-Hadits : 18

[20] Al-Majmu’ : 7/64

[21] Mizan al-I’tidal : 3/608

[22] Al-Ajwibah al-Fadhilah : 161

[23] At-Tankil : 1/561

[24] Lihat Siyar A’lam an-Nubala : 17/175 Manhaj Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim Di Dalam Penilaian Sahih Sesuatu Hadits | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *