Home »Menjawab Wahabi »Kesahihan Riwayat Tabarruk di Makam Imam Bukhari Kesahihan Riwayat Tabarruk di Makam Imam Bukhari Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

Banyak sekali fakta adanya para ulama mutaqaddimin yang melakukan tabarruk di makam seorang ulama, baik melakukan dengan cara membaca al-Quran di samping makamnya, atau berdoa. Ini semua tercantum dalam kitab-kitab tarikh para ulama mu’tabar.

 

Namun entah kenapa fakta ini luput dari pandangan wahabi atau mereka enggan mengakui fakta ini meskipun mereka kadang membacanya dalam kitab-kitab tarikh. Dari sekian banyak puluhan bahkan ratusan yang menyebutkan jumhur ulama melakukan tabarruk dan berdoa di makam seorang shalih, salah satunya adalah kisah yang disebutkan al-Hafidz adz-Dzahabi sebagai berikut :

 

وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي: قدم علينا بلنسية عام أربعة وستين وأربع مئة. قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الاعوام، فاستسقى الناس مرارا، فلم يسقوا. فأتى رجل صالح معروف بالصلاح إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني رأيت رأيا أعرضه عليك. قال: وما هو ؟ قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الامام محمد بن إسماعيل البخاري، وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا. قال: فقال القاضي: نعم ما رأيت.

فخرج القاضي والناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تعالى السماء بماء عظيم غزير، أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند نحو ثلاثة أميال.

Dan telah berkata Abu ‘Aliy Al-Ghassaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Nashr bin Al-Hasan As-Sakatiy As-Samarqandiy : “Kami datang dari negeri Valencia (Spanyol) pada tahun 464 H. Selama beberapa tahun hujan tidak turun pada kami di negeri Samarqand. Orang-orang melakukan istisqaa’ (shalat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. Maka, seorang laki-laki shalih yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi qaadly negeri Samarqand. Ia berkata : “Sesungguhnya aku mempunyai satu pendapat yang hendak aku sampaikan kepadamu”. Qaadliy berkata : “Apa itu ?”. Ia berkata : “Aku berpandangan agar engkau keluar bersama orang-orang menuju kubur Al-Imaam Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy. Makam beliau ada di Kharantak. Lalu kita melakukan istisqaa’ di sisi kuburnya, semoga Allah menurunkan hujan kepada kita”. Qaadliy berkata : “Ya, aku setuju”.

 

Maka, sang Qaadliy pun keluar dan diikuti oleh orang-orang bersamanya. Qaadliy tersebut melakukan istisqaa’ bersama orang-orang. Orang-orang menangis di sisi kubur dan meminta syafa’at kepada penghuni kubur (Al-Imaam Al-Bukhaariy). Setelah itu, Allah ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Orang-orang tinggal di Kharantak selama kurang lebih tujuh hari. Tidak seorang pun yang dapat pulang ke Samarqand karena derasnya hujan yang turun. Jarak antara Kharantak dan Samarqand sekitar tiga mil” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 12/469].

 

Riwayat ini oleh Abul jauza al-Wahhabi dilemahkannya dengan kaidah bid’ah yang dikarangnya :

 

Abul Jauza mengatakan :

 

Ada tiga orang yang mesti kita cermati sebagai titik krusial penilaian keshahihan riwayat ini, yaitu:

 

a.     Abu ‘Aliy Al-Ghassaaniy, namanya adalah : Husain bin Muhammad bin Ahmad, Abu ‘Aliy Al-Ghassaaniy; seorang imam yang tsiqah. Lahir pada tahun 427 H dan wafat tahun 498 H [Ash-Shillah, 1/233-235 no. 333].

b.     Adz-Dzahabiy lahir tahun 673 H dan wafat tahun 748 H.

c.      (Taajuddiin) As-Subkiy lahir tahun 727 H dan wafat tahun 771 H.

 

Riwayat tersebut terputus, karena antara Abu ‘Aliy Al-Ghassaaniy dengan Adz-Dzahabiy dan As-Subkiy rahimhumullah terpaut jarak yang cukup jauh. Dengan kata lain, riwayat ini tidak shahih.

 

Saya jawab :

 

Sejak kapan, jika ada ulama menyebutkan sebuah riwayat yang jaraknya terpaut lantas divonis riwayat tersebut tidak sahih ?? kaidah bid’ah dari mana ini wahai Abul Jauza ?? ini hanyalah jawaban dari orang yang terburu-buru menulis bantahan atau orang yang tak paham kaidah ilmu hadits yang benar.

 

Kaidah yang benar untuk menilai riwayat ini sahih atau tidak, adalah terlebih dahulu, Mengetahui asal-usul riwayat hadits yang akan diteliti, Mengetahui dan mencatat seluruh periwayatan hadits bagi hadits yang akan diteliti, Mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada mata rantai sanad..tapi metode tetap di kalangan ahli hadits ini justru dibuang mentah-mentah oleh Abul jauza…

 

Tuduhan Abul Jauza yang bersumber dari kaidah bid’ah karangannya tersebut tidaklah benar sama sekali. Kisah yang dibawakan oleh adz-Dzahabi dan as-Subuki sanad periwayatannya sahih, riwayat ini telah disebutkan sendiri oleh al-Hafidz Abu Ali al-Ghassani dalam kitabnya Taqyid al-Muhmal wa Tamyiz al-Musykal, beliau mengatakan :

 

أخبرني أبو الحسن طاهر بن مفوز ابن عبد الله بن مفوز المعافري صاحبنا رحمه الله، قال: أخبرني أبو الفتح وأبو الليث نصر بن الحسن التنكتي المقيم بسمرقند –قدم عليهم بلنسية عام أربعة وستين وأربعمة- قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام، قال: فاستسقى الناس مرارا فلم يسقوا، قال: فأتى رجل من الصالحين معروف بالصلاح مشهور به إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني قد رأيت رأيا أعرضه عليك، قال: وما هو؟ قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله- وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا، قال: فقال القاضي: نعما رأيت. فخرج القاضي وخرج الناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تبارك وتعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند ثلاثة أميال أو نحوها.

“ Telah mengabarkan padaku Abul Hasan Thahir bin Mafuz Ibnu Abdillah bin Mafuz al-Mu’aafiri, sahihb kami –semoga Allah merahmatinya- ia berkata, “ Telah mengabarkan padaku Abul Fath dan Abu al-Laits Nashr bin al-Hasan at-Tankati yang bermukim di Samarqand, ia datang pada mereka di Valencia (Spanyol) tahun 464 H. Selama beberapa tahun hujan tidak turun pada kami di negeri Samarqand. Orang-orang melakukan istisqaa’ (shalat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. Maka, seorang laki-laki shalih yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi qaadly negeri Samarqand. Ia berkata : “Sesungguhnya aku mempunyai satu pendapat yang hendak aku sampaikan kepadamu”. Qaadliy berkata : “Apa itu ?”. Ia berkata : “Aku berpandangan agar engkau keluar bersama orang-orang menuju kubur Al-Imaam Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy. Makam beliau ada di Kharantak. Lalu kita melakukan istisqaa’ di sisi kuburnya, semoga Allah menurunkan hujan kepada kita”. Qaadliy berkata : “Ya, aku setuju”.

 

Maka, sang Qaadliy pun keluar dan diikuti oleh orang-orang bersamanya. Qaadliy tersebut melakukan istisqaa’ bersama orang-orang. Orang-orang menangis di sisi kubur dan meminta syafa’at kepada penghuni kubur (Al-Imaam Al-Bukhaariy). Setelah itu, Allah ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Orang-orang tinggal di Kharantak selama kurang lebih tujuh hari. Tidak seorang pun yang dapat pulang ke Samarqand karena derasnya hujan yang turun. Jarak antara Kharantak dan Samarqand sekitar tiga mil”[1]

 

1. Abul Hasan Thahir bin Mafuz Ibnu Abdillah bin Mafuz al-Mu’aafiri. Beliau murid al-Hafidz Ibnu Abdil Barr, seorang imam yang terkenal dengan hafalan haditsnya dan kekuatan hafalannya yang kuat (mutqin). Lahir pada tahun 429 H dan wafat pada tahun 484 H.[2]

2. Abul Fath Nashr as-Samarqand adalah seorang syaikh yang agung lagi alim, ahli hadits yang tsiqah, beliau lahir pada tahun 446 H dan wafat pada tahun 486 H.[3]

Maka jelas sekali para perowi ini semuanya tsiqah dan saling bertemu, maka sanad ini tidak lah terputus bahkan bersambung dan saling mendengar dari gurunya.

 

Abul Jauza mengatakan :

 

Selain itu, isi riwayat bertentangan dengan nash dan atsar :

1.     Kubur Bukan Tempat untuk Shalat.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ “

Dari Abu Sa’iid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali kuburan dan WC” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/83, Abu Daawud no. 495, Ibnu Maajah no. 745, dan yang lainnya – takhrij selengkapnya silakan baca artikel ini ].

عَن ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا “

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai tempat untuk shalat, dan jangan menjadikannya sebagai kuburan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 432 & 1187].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

اِسْتَنْبَطَ مِنْ قَوْله فِي الْحَدِيث ” وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا ” أَنَّ الْقُبُور لَيْسَتْ بِمَحَلٍّ لِلْعِبَادَةِ فَتَكُون الصَّلَاة فِيهَا مَكْرُوهَة

“Dari sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits : ‘Dan jangan menjadikannya (rumah) sebagai kuburan’; dapat disimpulkan bahwa kuburan bukan tempat untuk beribadah, sehingga shalat di sana menjadi dibanci” [Fathul-Baariy, 1/529].

Saya jawab :

Hadits pertama yang dijadikan hujjah Abul Jauza, maka al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya sebagai berikut :

اْلحَدِيْثُ سِيْقَ فيِ مَقَامِ اْلِامْتِنَانِ فَلاَ يَنْبَغِي تَخْصِيْصُهُ

“ Hadits tersebut (yaitu hadits “ Seluruh bumi dijadikan layak sebagai masjid dan suci bagiku “) adalah dalam maqam imtinan, maka tidak sebaiknya mentakhsis hadits tersebut “. [4]

Artinya hadits tersebut tidak bisa membatasi keumuman hadits berikut :

 

جُعِلَتْ لِي الْأَرْض مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“ Dijadikan bumi untukku layak sebagai tempat sujud dan bersuci “ (HR. Bukhari)

Lebih jelas imam an-Nawawi mengatakan :

فَإِنْ تَحَقَّقَ أَنَّ اْلَمقْبَرَةَ مَنْبُوْشَةٌ لَمْ تَصِحَّ صَلاَتُهُ فِيْهَا بِلاَ خِلاَفٍ إِذَا لَمْ يُبْسَطْ تَحْتَهُ شَيْءٌ، وَإِنْ تَحَقَّقَ عَدَمُ نَبْشِهَا صَحَّتْ بِلاَ خِلاَفٍ، وَهِيَ مَكْرُوْهَةٌ كَرَاهَةَ تَنْـزِيْهٍ

 

” Jika yakin pekuburan itu tergali, maka tidak sah sholatnya tanpa khilaf, jika dibawahnya tidak membentangkan sesuatu, namun jika yakin tidak tergali, maka sah solatnya tanpa khilaf, namun makruh tanzih hukumnya “. [5]

Syaikh Saqar, ketua badan Fatwa al-Azhar mengatakan :

والأئمة الثلاثة قالوا بصحة الصلاة وعدم كراهتها ، اللهم إلا إذا كان القبر أمام المصلى فتكون مكروهة مع الصحة .‏ أما أحمد بن حنبل فهو الذى حرم الصلاة وحكم ببطلانها -‏ ومحل هذا الخلاف إذا كان القبر فى المسجد ، أما إذا كان مفصولاً عنه والناس يصلون فى المسجد لا فى الضريح أو الجزء الموجود فيه القبر فلا خلاف أبدًا فى الجواز وعدم الحرمة أو الكراهة

“Ketiga Imam Madzhab berbedapat tentang keabsahan shalat (di masjid yang ada kuburannya) dan ketidakmakruhannya, kecuali jika kuburannya ada di depan orang yang shalat, maka makruh dan tetap sah. Sedangkan Ahmad bin Hanbal merupakan orang yang mengharamkan dan menghukumi batal shalat tersebut. Keberlakuan khilaf ini bila kuburan ada di dalam masjid, sedangkan bila terpisah darinya, sementara orang-orang shalat di dalam masjid, tidak di dalam area pemakaman atau bagian area yang ada kuburannya, maka tidak khilaf sama sekali dalam kebolehan dan ketidakharaman atau ketidakmakruhan shalat di tempat tersebut.”[6]

Madzhab Hanafiyyah mengatakan : makruh sholat di pemakaman sebab dikhawatirkan ada najis yang keluar dari kuburan, kecuali jika di pemakaman tersebut disediakan tempat sholat, maka hilanglah hokum makruh.[7]

Madzhab Malikiyyah mengatakan : Boleh sholat dipemakaman secara muthlaq, baik pekuburan itu bersih atau terbongkar (manbusyah), pekuburan muslim atau non muslim.[8]

Madzhab Hanabilah mengatakan : Tidak sah sholat di pekuburan yang baru atau pun yang  lama, berulang-ulang pembongkarannya atau pun tidak. Namun tidak mengapa sholat di area yang ada satu atau dua kuburan, karna yang disebut pekuburan adalah terdapat tiga kuburan atau lebih.[9]

Kemudian Abul Jauza mengatakan :

Tidak ada riwayat – sepanjang pengetahuan kami – beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan atau memerintahkan manusia shalatistisqaa’ di kubur.

 

Saya jawab :

 

Tidak mengetahui dalil terhadap sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak memiliki dalil.  Tidak adanya sesuatu bukan berarti wujud sesuatu itu tidak ada.

 

Sesuatu yang wujudnya tidak diketahui dengan dalil tertentu (khusus), terkadang diketahui dengan dalil lainnya. Misal, tidak adanya dalil secara akal tentang sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak ada, karena bisa saja sesuatu itu ada dengan dalil secara nash.

Dalil itu bersifat Thard (الطرد) yakni wujudnya dalil melazimkan wujudnya madlul (sesuatu) dan tidak adanya dalil tidak melazimkan tidak adanya madlul (sesuatu). Misal tentang taqdir, malaikat, jin, alam barzakh dan semisalnya. Dalil ini secara akal tidak bisa ditemukan sebab tidak bisa disaksikan secara fisik. Tapi bukan berarti taqdir, malaikat, jin dan alam barzakh itu tidak ada, karena bisa saja dalil secara akal atas semua itu ada pada orang lainnya, atau dalil secara nash, atau dalil secara penyaksian pada yang lainnya.
Contoh lainnya, Peringatan Maulid. Bagi wahabi tidak menemukan dalillnya secara khusus (meskipun faktanya ada dalil khsusunya yaitu peringatan Nabi sendiri terhadap hari kelahirannya), bukan berarti peringatan Maulid ini terlarang, karena bisa saja ada dalilnya secara umum yaitu dalil bersholawat di waktu kapan pun, dalil membaca sejarah Nabi, dalil membaca al-Quran, dalil memberi nasehat kepada muslimin, dalil berdzikir, dalil silaturahmi, dalil bersedekah dan lainnya.

 

Demikian juga dalil sholat istisqa di pekuburan, tidak menemukannya si Abul Jauzat terhadap riwayatnya bukan berarti hal itu tidak ada dalilnya, bisa saja Abul Jauza tidak mengetahuinya atau bisa saja menggunakan dalil-dalil umumnya yaitu sholat di manapun tempat yang suci sebagaimana hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

 

جُعِلَتْ لِي الْأَرْض مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“ Dijadikan bumi untukku layak sebagai tempat sujud dan bersuci “ (HR. Bukhari)

 

Ibnul Jauzi mengisahkan sebuah riwayat :

 

قال الواقدي : توفي أبو أيوب عام غزا يزيد بن معاوية القسطنطنية في خلافة أبيه معاوية سنة اثنتين وخمسين، وصلى عليه يزيد وقبره بأصل حصن القسطنطنية بأرض الروم، فلقد بلغنا أن الروم يتعاهدون قبره ويزورونه ويستسقون به إذا قحطوا

“ Al-Waqidi mengatakan, “ Abu Ayyub al-Anshari wafat di tahun saat berperangnya Yazid bin Mu’awiyyah di Konstatinopel pada masa khilafah Ayahnya Mu’awiyyah tahun 52 H, kemudian Yazid menyolatinya. Kuburnya berada di pusat benteng Konstantinopel di bumi Romawi. Sungguh telah sampai pada kami bahwa kaum Muslim Romawi memperhatikan kuburannya dan berziarah padanya dan juga melakukan sholat istisqa (dengan bertawassul dengannya) jika terjadi musim paceklik “.[10]

 

Abul jauza mengatakan :

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tidak pergi bertawassul ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal tidak diragukan lagi beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih utama dibandingkan Al-‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu. Tidak pula ada halangan bagi ‘Umar untuk hadir di kubur Nabi karena sama-sama di kota Madiinah. Namun ternyata ia malah mendatangi Al-‘Abbaas bertawassul melalui perantaraan doanya agar diturunkan hujan. Ini menunjukkan bertawassul minta turun hujan di kubur Nabi tidak disyari’atkan. Seandainya disyari’atkan, ‘Umar – atau para shahabat lain – tentu telah mendahului kita dalam hal ini.

Jika demikian, lantas bagaimana halnya dengan kuburan orang yang kedudukannya jauh di bawah kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?.

 

Saya jawab :

 

Umar bin Khaththab tidak bertawassul kepada Nabi bukan berarti itu sebuah larangan bertawassul kepada Nabi.

 

Al-Imam an-Nawawi mengatakan :

 

ثُمَّ يَرْجِعُ اِلىَ مَوْقِفِهِ اْلاَوَّلِ قُبَالَةَ وَجْهِ رَسُوْلِ للهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَتَوَسَّلُ بِهِ فيِ حَقِّ نَفْسِهِ وَيَتَشَفَّعُ بِهِ اِلىَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ

“ Dan kembali ke tempatnya semula menghadap wajah Rasullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan bertawassul via Nabi untuk haq dirinya serta memohon syafa’at via Nabi kepada Allah Ta’aala “.[11]

 

Imam Nawawi juga menyebutkan kisah al-Utbi yang datang curhat ke makam Nabi dan bertawassul kepadanya. Kisah ini sangatlah masyhur disebutkan dalam banyak oleh para ulama di antaranya oleh imam Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Ibnul Jauzi dalam Mustir al-Gharam, Ibnu Quddamah al-Hanbali dalam Mughninya, al-Hafidz asy-Syakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ fish shalah ‘alal Habib asy-Syafi’, al-Hafidz Ibnu Kastir dalam Tafsirnya di surat an-Nisa, al-Bahuti al-Hanbali dalam kitab Kisyaaful Qina’, dan banyak lagi yang lainnya.

 

Al-Imam Abul Husain al-Imrani (w 558 H) berkata :

 

وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يَسْتَسْقِىَ بِاَهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ اَقْرِبَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رُوِيَ اَنَّ عُمَرَ اِسْتَسْقىَ بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ

“ Dan dianjurkan melakukan istisqa dengan bertawassul dengan orang shaleh dari kerabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa salam, karena ada riwayat bahwa Umar bertawassul kepada Abbas bin Abdul Muththlib “[12]

 

Imam Sufyan bin Uyainah juga pernah mengatakan berkata :

 

رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقىَ بِهِمَا اِبنُ عُجْلاَن ، وَيَزِيدْ بنْ يَزِيْد بنْ جَابِرْ

“ Dua orang yang shalih yang akan turun hujan dengan sebab keduanya yaitu Ibnu Ujlaan dan Yazid bin Yazid bin Jabir “[13].

 

Ini adalah nyata-nyata tawassul dengan dzat kedua orang shalih tersebut.

 

Dan pada hakekatnya karomah al-Abbas, Ibnu ‘Ujlan, Yazid bin Yazid atau ulama shalih lainnya merupakan bagian dari mu’jizat Nabi shallhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan al –Imam al-Hafidz Ibnu Sholah berikut ini :

 

وَذَلِكَ أَنَّ كَرَامَاتِ اْلأَوْلِيَاءِ مِنْ أُمَّتِهِ وَإِجَابَاتِ اْلمُتَوَسِّلِيْنَ بِهِ فيِ حَوَائِجِهِمْ وَمَغُوْثَاتِهِمْ عَقِيْبَ تَوَسُّلِهِمْ بِهِ فيِ شَدَائِدِهِمْ بَرَاهِيْنُ لَهُ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوَاطِعُ وَمُعْجِزَاتٌ لَهُ سَوَاطِعُ وَلاَ يَعُدُّهَا عَدٌّ وَلاَ يَحْصُرُهَا حَدٌّ أَعَاذَنَا اللهُ مِنَ الزَّيْغِ عَنْ مِلَّتِهِ وَجَعَلَنَا مِنَ اْلمُهْتَدِيْنَ اْلهَادِيْنَ بِهَدْيِهِ وَسُنَّتِهِ

“ Demikian itu bahwa karamah para wali Allah dari umatnya, dan terkabulnya hajat-hajat orang-orang yang bertawassul dengan mereka ketika dalam keadaan susah, merupakan bukti yang kuat dan mu’jizat yang terang, yang tidak mampu dihitungnya, kita berlindung kepada Allah dari menyimpang dari ajarannya dan menjadikan kami termasuk orang yang mendapat hidayat dengan petunjuknya dan sunnahnya “[14]

 

 

Shofiyyah an-Nuuriyyah
Kota Santri, 05-03-2014

 

 

 

 

[1] Taqyid al-Muhmal wa Tamyiz al-Musykal, al-Ghassani : 1/44

[2] Lihat kitab Tadzkirah al-Huffadz, adz-Dzahabi : 4/1222

[3] Lihat Siyar A’lam an-Nubala : 19/90

[4] Fath al-bari : 1/533

[5] Al-Majmu’: 3/158 [6] Sumber : majdah.maktoob.com/vb/majdah45810/

 

[7]  Lihat Hasyiah Ibnu Abidin : 1/380 [8]  Pendapat madzhab Malikiyyah :

لا بأس بالصلاة في المقابر ، وبلغني أن بعض أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – كانوا يصلون في المقبرة و هو المذهب [9] Lihat al-Mughi, Ibnu Quddamah : 2/67)

و لكن هذا قول عند احمد و ليس هو المذهب، بل مذهب الحنابلة كما نص عليه ابن قدامة نفسه في المغني، التالي : تحرم الصلاة غير الجنائزة بالمقبرة . وبهذا قال أحمد في رواية عنه ، وهي المذهب

Abu Bakar al-Atsram berkata :

 سمعت أبا عبد الله – يعني أحمد – يُسأل عن الصلاة في المقبرة ، فكره الصلاة في المقبرة ، فقيل له : (المسجد يكون بين القبور ، أيصلى فيه ؟) ، فكره ذلك . قيل له : (إنه مسجد ، وبينه وبين القبور حاجز) ، فكره أن يصلى فيه الفرض ، ورخص أن يصلى فيه على الجنائز ، وذكر حديث أبي مرثد الغنوي عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا تصلوا إلى القبور ، وقال : إسناد جيد

Aku mendengar Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad – ditanya tentang shalat yang dilakukan di kuburan (maqbarah), maka ia me-makruh-kannya. Lalu ditanyakan kepadanya : “Bagaimana tentang masjid yang berada di antara kubur ?”. Ia pun me-makruh-kannya hal itu juga” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/195].

[10] Shifat ash-Shofwah : 83

[11] Al-Iydhah, Imam Nawawi : 454

[12] Al-Bayan, al-Imrani : 2/677

[13] al-‘Ilal wa ma’rifatir Rijaal karya imam Ahmad bin Hanbal : 1/163

[14]  Aadab al-Muffti wa al-Mustafti : 1/210 Kesahihan Riwayat Tabarruk di Makam Imam Bukhari | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *