Home »Menjawab Wahabi »Jawapan Balas Atas Bantahan Al-Jaizy Terhadap Artikel Qunut Ustaz Ma’ruf Jawapan Balas Atas Bantahan Al-Jaizy Terhadap Artikel Qunut Ustaz Ma’ruf Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

Menanggapi bantahan dari saudara Hasan al-Jaizy tentang artikel ilmiyyah ustadz Ma’ruf Khazin yang dinilainya tidak ilmiyyah secara bathiniyyahnya. Karena didapati ustadz Ma’ruf tidak menampilkan redaksi dari al-Hafidz Ibnu Hajar secara keseluruhan dalam Talkhisnya, maka perlu rasanya kami luruskan yang sepatutnya diluruskan secara ringkas.

 

 

Pertama : Judul artikel ustadz Ma’ruf yang ditranslite admin muslimedianews.com menjadi “Syaikh Albani ‘Ahli Hadis’ Berdusta Dalam Hadits Qunut? “, bukanlah judul asli dari ustadz Ma’ruf. Judul asli yang beliau tulis adalah “ Jawaban Atas Tuduhan Dlaif dan Bid’ah Qunut Sholat Shubuh “ sebagaimana beliau telah publish di sini : http://www.aswj-rg.com/2014/01/jawaban-atas-tuduhan-dlaif-dan-bidah-qunut-salat-subuh.html

 

Maka judul asli yang ditulis ustadz Ma’ruf tidaklah keliru karena sudah sesuai dengan subtansi dari artikelnya, meskipun ada sedikit kekeliruan yang tidak disengaja dalam menukil. Namun selebihnya tulisan beliau cukup ilmiyyah dalam menguatkan hujjah kesunnahan qunut subuh.

 

Kedua : masalah penyebutan Albani yang dikatakan tidak tepat, bukanlah suatu masalah apalagi sedikit bermasalah. Ini sudah tepat secara ‘urfan. Contoh al-Nawawi, namun secara ‘urfan di Indonesia maupun di negeri Melayu sering menyebutnya Nawawi atau imam Nawawi. Demikian juga al-Albani, secara ‘urfan sering disebut Albani atau imam Albani. Ini hal remeh yang sepatutnya tidak diutarakan.

 

Ketiga : Adapun kritikan ketiga dan keempat, maka kami tidak tanggapi karena lebih tepatnya tanggapan saudara Hasan al-Jaizy dituduhkan kepada admin web muslimedianews.com bukan kepada ustadz Ma’ruf. Karena bukan beliau yang menulis judul tersebut.

 

Selanjutnya saudara Hasan al-Jaizy masuk dalam menanggapi matan risalah ustadz Ma’ruf. Hasan al-Jaizi mengatakan :

 

(Awal kutipan) :

MATAN: “Jika kalimat Syaikh Albani di bawah ini dibaca oleh pengikut Madzhab Syafiiyah dan Nahdliyin maka mereka akan goyah dan ragu untuk melakukan Qunut Subuh. Dan jika dibaca oleh pengikut Wahabi maka mereka akan keras memvonis bid’ah pada Qunut.”

 

Dari hamba (al-Jaizi) :

 

I don’t think so. Yang tersurat di realita: Apapun kalam Syaikh al-Albany yang bertentangan dengan Madzhab Syafi’iyyah dan Nahdliyyiin di Indonesia ini takkan membuat penganutnya ragu dan goyah; melainkan justru melabeli ‘Wahabi’, antipati, langsung di-marjuh-kan, ditentang dan dicari kesalahannya, sebagaimana yang telah dilakukan Pak Ustadz –semoga Allah menjaga Anda-. Dan hamba yakin Pak Ustadz tahu itu; karena Pak Ustadz termasuk pelakunya.

 

Kalam al-Albany yang mana? Ini (kutipan dari Pak Ustadz):

 

فَأَقُوْلُ : قَدِ اسْتَقْصَيْنَا فِي هَذَا التَّحْقِيْقِ جَمِيْعَ الْوُجُوْهِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا وَهِيَ كُلُّهَا وَاهِيَةٌ جِدًّا ، سِوَى الْوَجْهِ اْلأَوَّلِ ، فَإِنَّهُ ضَعِيْفٌ فَقَطْ ، وَلَكِنَّهُ مُنْكَرٌ لِمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ . (السلسلة الضعيفة – ج 3 / ص 237)

 

“Saya (al-Albani) berkata: Telah kami bahas secara tuntas dalam masalah ini semua riwayat hadis tentang Qunut, kesemuanya sangat dlaif, kecuali hadis yang pertama (dari Anas bin Malik). Ini hanya dlaif saja namun munkar (bertentangan dengan hadis yang lebih sahih) sebagaimana akan dijelaskan” (as-Silsilah adl-Dlaifah 3/237). (Akhir kutipan).

 

Saya (al-Katibiy) jawab : Memang benar bagi siapapun yang awam masalah ini, maka jika mempelajari hujah dan argumentasi Albani tersebut, kami yakin akan mempercayainya  100 % tanpa ragu. Albani kami hargai telah melakukan ijtihadnya dalam masalah qunut ini, dan semoga beliau mendapat balasan dari ijtihadnya. Akan tetapi yang sangat kami sayangkan, Albani tidak menghargai hujjah-hujjah ulama yang mengatakan kesunnahan qunut shubuh, sehingga ia mengatakan :

 

كيف يستوي الفعل وهو غير مشروع مع الترك وهو المشروع

“ Bagaimana bisa dikatakan melakukan qunut dan meninggalkannya sama-sama boleh ? sedangkan meninggalkan qunut itulah yang disyare’atkan bukan melakukannya “[1]

 

Sangat berbeda sekali sikapnya dengan sikap Ibnul Qayyim al-Jauziyyah yang masih mau menerima perbedaan ini :

فأهل الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعد بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنتون حيث قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويتركونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه.

“AHLI HADITS adalah kaum pertengahan antara mereka (pent: yang mengatakan Qunut itu bid’ah) dan mereka yang menganggap sunnah Qunut ketika ada nawazil dan lainnya (pent: termasuk Qunut Shubuh). Mereka lebih beruntung terhadap hadits Nabi, mereka qunut ketika Rasulullah Qunut dan meninggalkannya ketika Rasul juga meninggalkannya. Mereka mengikuti Nabi dalam menjalankan ataupun meninggalkannya. “[2]

 

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan ucapannya :

 

ويقولون: فعله سنة وتركه سنة، ومع هذا فلا ينكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعله مخالفا للسنة، كما لا ينكرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تاركه مخالفا للسنة، بل من قنت فقد أحسن، ومن تركه فقد أحسن.

“ Mereka (AHLI HADITS) mengatakan bahwa melakukannya adalah perbuatan SUNNAH dan meninggalkannya juga perbuatan SUNNAH. Maka, mereka tidak mengingkari orang yang membiasakan qunut, tidak benci untuk melakukannya ,  tidak menganggapnya bid’ah, dan juga tidak  menganggap orang yang melakukannya termasuk menyelisihi sunnah begitu juga sebaliknya. Bahkan orang yang qunut itu BAGUS, yang meninggalkannya juga BAGUS.”[3]

 

Ibnul Qayyim lebih inshaf dan lembut ketimbang sikap Albani. Masalah ini hanyalah masih dalam lingkup masalah furu’iyyah ijtihadiyyah bukan masalah ijma’iyyah. Sebuah kaidah agung mengatakan :

 

لا ينكر المختلف فيه, وإنما ينكر المجمع عليه

“ Tidak boleh mengingkari perkara yang masih diikhtilafkan, sesungguhnya pengingkaran hanya boleh dalam perkara yang sudah ijma’ “[4]

 

Terkait dalil-dalil yang diklaim Albani bahwasanya ia telah melakukan kajian menyeluruh dan tidak menemukan dalil sahihnya tentang qunut shubuh, maka ini suatu kesimpulan yang premature, terbukti banyak hadits-hadits sahih yang menunjukkan kesunnahan qunut shubuh sebagaimana akan kami bahas nanti. Maka tidaklah salah jika ustadz Ma’ruf mengatakan, “Jika kalimat Syaikh Albani di bawah ini dibaca oleh pengikut Madzhab Syafiiyah dan Nahdliyin maka mereka akan goyah dan ragu untuk melakukan Qunut Subuh. Dan jika dibaca oleh pengikut Wahabi maka mereka akan keras memvonis bid’ah pada Qunut.”

 

Namun psywar yang dilakukan ustadz Ma’ruf setelahnya, memang kami akui itu suatu kekeliruan beliau yang mungkin tidak disengajanya. Ustadz Ma’ruf tidak menampilkan redaksi al-Hafidz Ibnu Hajar secara keseluruhan sehingga mengesankan al-Hafidz mensahihkan hadits syahid tersebut. Maka di sini kami perlu meluruskan hal demikian dan mengakuinya dengan lapang dada.

 

Adapun hujjah-hujjah selanjutnya yang dilontarkan ustadz Ma’ruf, maka bagi kami sudah cukup ilmiyyah dan kuat yang perlu direnungkan oleh al-Jaizy dan kawan-kawannya yang kontra dengan qunut shubuh.

 

Dalil-Dalil Kesunnahan Qunut Shubuh.

 

 

Berikut ini sedikit kami tambahkan dalil-dalil kesunnahan qunut shubuh sebagai penguat hujjah-hujjah sebelumnya.

 

Dalil-dalil kesunnahan qunut subuh :

 

Pertama :

وحدثني عمرو الناقد وزهير بن حرب. قالا: حدثنا إسماعيل عن أيوب، عن محمد. قال: قلت لأنس : هل قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في صلاة الصبح؟ قال: نعم. بعد الركوع يسيرا.

 

Dan telah menceritakan kepadaku ‘Amru An-Naaqid dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Ayyuub, dari Muhammad, ia berkata : Aku bertanya kepada Anas : “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut pada shalat Shubuh ?”. Ia menjawab : “Benar, sebentar setelah rukuk” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 677 (298). Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 1001, Ibnu Maajah no. 1184, Abu Daawud no. 1444, dan yang lainnya].

 

Penentang qunut shubuh menanggapi hadits tersebut :

 

Qunut Shubuh yang dimaksudkan Anas adalah qunut nazilah karena peristiwa Bi’r Ma’uunah. Itupun tidak dilakukan terus-menerus, karena hanya dilakukan selama sebulan dan kemudian ditinggalkan.

 

Jawaban kami : Tanggapan mereka lemah, karena qunut nazilah datang (wurud) nya untuk setiap sholat lima waktu bukan hanya shubuh. Sedangkan hadits di atas sangat jelas wurudnya khusus pada sholat shubuh saja. Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ashim berikut :

 

حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْقُنُوتُ قُلْتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَهُ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقَالَ كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

“ Telah menceritakan pada kami ‘Ashim, beliau berkata, “ Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut, maka beliau menjawab, “ Qunut memang ada “. Aku bertanya, “ Sebelum ruku’ atau sesudahnya ? “, beliau menjawab, “ sebelum ruku’ “. Berkata, “ Sesungguhnya fulan mengabarkan padaku bahwa kamu mengatakan qunut itu setelah ruku’ ? “, beliau menjawab, “ Bohong, sesungguhnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam qunut sebelum ruku’ hanyalah sebulan “.(HR. Bukhari)

 

Ini menunjukkan bahwa ada dua macam qunut, pertama qunut sebelum ruku’ dan qunut setelah ruku’ selama sebulan. Sebagaimana penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar berikut:

 

ومجموع ما جاء عن أنس من ذلك؛ أنّ القنوت للحاجة بعد الركوع لا خلاف عنه في ذلك، وأمّا لغير الحاجة فالصحيح عنه أنه قبل الركوع. وقد اختلف عمل الصحابة في ذلك، والظاهر أنه من الاختلاف المباح

“ Kumpulan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik adalah bahwasanya qunut untuk hajat setelah ruku’, tidak ada khilaf akan hal ini. Adapun jika tidak ada hajat maka yang sahih adalah sebelum ruku’. Dan sungguh perbuatan para sahabat Nabi dalam hal ini berbeza-beza. Yang zahir bahwasanya ini adalah termasuk perbezaan yang mubah (diperbolehkan) “[5]

 

Adapun hadits Anas berikut yang dijadikan hujjah oleh mereka sebagai nasikh (penghapus) hadits qunut shubuh :

 

عن أنس؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو على أحياء من أحياء العرب. ثم تركه.

dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan kepada sebagian orang-orang ‘Arab, kemudian beliau meninggalkannya”

 

Maka hadits tersebut bukan lah datang sebagai Nasikh, melainkan maknanya adalah meninggalkan doa buruk bukan meninggalkan qunut shubuh. Hal ini diperkuat dengan atsar sebagi berikut yang juga merupakan dalil kedua kami :

 

أخبرنا محمد بن عبد الله الحافظ نا علي بن حمشاذ العدل نا العباس ابن الفضل الإسفاطي نا أحمد بن يونس نا محمد بن بشر العبدي نا العلاء ابن صالح حدثني بريد بن أبي مريم نا أبو الحوراء قال سألت الحسن بن علي ما عقلت عن رسول الله قال علمني دعوات أقولهن اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت إنك تقضي ولا يقضى عليك قال فذكرت ذلك لمحمد بن الحنفية فقال إنه الدعاء الذي كان أبي يدعو به في صلاة الفجر في قنوته

“ Telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Abdullah al-Hafidz, telah mengabarkan pada kami Ali bin Hamsyadz al-Adl, telah mengabarkan pada kami al-Abbas bin al-Fadhl al-Isfathi, telah mengabarkan pada kami Ahmad bin Yunus, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Bisyr al-Abdi, telah mengabarkan pada kami al-‘Ala bin Shalih. Telah meceritakan padaku Buraid bin Abi Maryam, telah menceritakan pada kami Abul Haura, ia berkata, “ Aku bertanya kepada Hasan bin Ali, “ Apa yang kau ingat dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ? “, beliau menjawab, “ Beliau telah mengajarkan padaku doa-doa yang aku ucapkan yaitu “

 

 

اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت إنك تقضي ولا يقضى عليك

Ia berkata, maka aku sebutkan hal itu kepada Muhammad bin al-Hanafiyyah, maka beliau menjawab, “ Sesungguhnya itu doa yang diucapkan ayahku di dalam sholat subuh dalam qunutnya “.[6]

 

Atsar ini menetapkan kesunnahan qunut shubuh dan doa yang dibaca oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, Ali dan Hasan bin Ali dalam qunut shubuhnya. Dan ini ditaqrir oleh Muhammad bin al-Hanafiyyah. Sedikit pun riwayat di atas tidak ada isyarat yang menunjukkan qunut Nazilah.

 

Ini semakin jelas jika kita melihat redaksi hadits riwayat sahabat Anas yang lain :

 

أن النبي صلى الله عليه وسلّم قنت شهرا يدعو عليهم ثم ترك فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا

Sesungguhnya Nabi saw melakukan qunut dan mendoakan keburukan bagi mereka kemudian meninggalkannya sedangkan qunut shubuh, maka nabi selalu malakukannya sampai meninggal dunia.”[7]

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar setelah menyebutkan hadits-hadits semisal di atas, beliau kemudian berkomentar :

 

فَهَذِهِ الْأَخْبَارُ كُلُّهَا دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ الْمَتْرُوكَ هُوَ الدُّعَاءُ عَلَى الْكُفَّارِ

“ Maka hadits-hadits ini semuanya menunjukkan bahwasanya yang ditinggalkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa buruknya terhadap kaum kafir “[8]

 

Ketiga :

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سُئِلَ عَنْ الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ فَقَالَ كُنَّا نَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَبَعْدَهُ

“ Telah menceritakan pada kami Nashr bin Ali al-Jahdhami, telah menceritakan pada kami Sahl bin Yusuf, telah menceritakan pada kami Humaid dari Anas bin Malik, berkata, “ Telah ditanya Anas tentang qunut dalam sholat shubuh, maka beliau menjawab, “ Kami melakukan qunut sebelum ruku’ dan setelah ruku’ “.[9]

 

Hadits ini menunjukkan dalil ketetapan qunut shubuh dan bolehnya dilakukan sebelum ruku’ dan setelahnya. Dan ini mengisyaratkan bahwa Anas sedang ditanya tentang qunut shubuh, karena bingungnya si penanya yang bersandar kepada sebagian riwayat yang secara literal (zahir) menafikan qunut shubuh, dan menunjukkan bahwa sipenanya ada di masa akhir dari sahabat Nabi dan sipenanya bukanlah dari kalangan sahabat.

 

Keempat :

سئل أنس بن مالك أقنت عمر في صلاة الصبح قال: ” لقد قنت من هو خير من عمر، قنت النبي

“ Anas bin Malik ditanya, “ Apakah Umar melakukan qunut dalam sholat shubuhnya ? “, maka beliau menjawab, “ Sungguh telah melakukan qunut (shubuh) orang yang lebih baik dari Umar, yaitu Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[10]

 

Hadits ini menunjukkan ketetapan qunut Shubuh dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas dan dari Umar Radhiallahu ‘anhuma.

 

Kelima :

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ نا أبو سهل بن زياد القطان نا أحمد ابن محمد بن عيسى القاضي نا أبو نعيم نا شيبان ابن عبد الرحمن عن يحيى ابن أبي كثير عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال والله أنا أقربكم صلاة برسول الله  صلى الله عليه وسلم  وكان أبو هريرة يقنت في الركعة الأخيرة من صلاة الصبح بعد ما يقول سمع الله لمن حمده ويدعو للمؤمنين والمؤمنات ويلعن الكفار

“ Telah mengabarkan pada kami Abdullah al-Hafidz, telah mengabarkan pada kami Sahl bin Ziyad al-Qaththan, telah mengabarkan pada kami Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Qadhi, telah mengabarkan pada kami Abu Nu’aim, telah mengabarkan pada kami Syaiban bin Abdurrahman dari Yahya bin Katsir dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah ia berkata, “ Sungguh demi Allah, akulah orang yang paling mririp sholatnya dengan sholat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam “, dan Abu Hurairah melakukan qunut di roka’at terakhir pada sholat shubuh setelah mengucapkan Sami’allahu liman Hamidah, kemudian belia mendoakan baik kepada laum mukmin laki dan perempuan dan melaknat kaum kafir “.[11]

 

Hadits ini menunjukkan ketetapan qunut shubuh dengan perbuatan Abu Hurairah yang mengikuti Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Ini juga mengisyaratkan bahwa qunut Abu Hurairah dilakukan sesudah masa Nabi. Dan riwayat-riwayat Abu Hurairah lainnya yang melakukan qunut di selain sholat Shubuh maka menunjukkan atas qunut nazilah sebagaimana manqul dari Nabi shllahu ‘alaihi wa sallam.

 

Keenam :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ يَعْنِي الرَّازِيَّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far – yaitu Ar-Raaziy[26] – , dari Ar-Rabii’ bin Anas[27], dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan qunut di waktu Shubuh hingga meninggal dunia”[12]

 

Hadits ini sebagai bantahan telak bagi orang yang menafikan qunut shubuh dan bagi orang yang mengklaim adanya naskh. Kenapa ? karena hadits ini menunjukkan secara jelas bahwa Rasul melakukan qunut Shubuh secara terus menerus hingga wafatnya.

 

Ada penentang yang berdalih bahwa hadist ini dhaif sebab ada rowi Abu Jakfar ar-Razi, mereka mendhaifkannya secara muthlaq. Ini bagi kami hanyalah sebuah wahm semata, karena para ulama mu’tabar di bidang jarh wa ta’dil telah menta’dilnya dan mentsiqahkannya bahkan menilai sahih semua riwayatnya kecuali riwayat beliau dari al-Mughirah saja, karena usia beliau yang sudah tua. Sedangkan hadits ini bukanlah diriwayatkan dari al-Mughirah. Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “ Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abu Jakfar ar-Razi, maka beliau menjawab “ Dia shalih (baik/patut) “. Al-Kausaj meriwayatkan dari Ibnu Ma’in tentang taustiqnya kepada Abu Jakfar ar-Razi demikian juga al-Ghullabi meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in. Abbas berkata, “ Aku mendengar Yahya  bin Ma’in mengatakan, “ Abu Jakfar tsiqah dan keliru pada riwayat dari al-Mughirah “. Hanbal mengatakan, “ Imam Ahmad ditanya tentang Abu Jakfar ar-Razi, maka beliau menjawab, “ Haditsnya baik “. Ibnu Kharrasy berkata, “ Buruk hafalannya lagi sangat jujur “. Zakariyya as-Saji berkata, “ Ia sangat jujur “. Abdullah bin Ahmad berkata, “ Aku mendengar Ayahkau berkata, “ Bukan orang yang kuat, sungguh telah mendatangkan Ibnu Adi dalam Kamilnya, kemudian beliau mengatakan, “ Dan Abu Jakfar memiliki hadits-hadits yang patut / baik yang diriwayatkannya dan para ulama telah meriwayatkan darinya, dan aku berharap tidaklah mengapa “[13]

 

Para penentang qunut shubuh beradlil dengan hujjah-hujjah sebagai berikut :

 

Pertama :

حدثنا محمد بن المثنى. حدثنا عبدالرحمن. حدثنا هشام عن قتادة، عن أنس؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو على أحياء من أحياء العرب. ثم تركه.

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Qataadah, dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan kepada sebagian orang-orang ‘Arab, kemudian beliau meninggalkannya”

 

Jawaban kami :

 

Qunut yang warid di sini bukanlah terikat (muqayyad) dengan shubuh saja, akan tetapi ini warid bagi setiap sholat.

Dhamir gaib (ha) dalam ucapan Anas “ Tarakahu “, adakalanya kembali pada qunut yang ditakwil dengan fi’il “ Qanata “ atau kembali pada doa yang ditakwil dengan fi’il “ Yad’u “. Jika kembali pada qunut, maka diarahkan bahwa maksudnya adalah meninggalkan qunut pada semua sholat kecuali sholat shubuh. Karena ada hadits sahih dari Anas yang menetapkan qunut subuh sebagaimana dalil keenam kami di atas dan yang senada. Dan jika dhamirnya kembali pada doa dan ini lebih dekat dengan dhamir, maka sudah jelas. Karena yang ditinggalkan memanglah doa buruk kepada sekelompok kaum Arab bukan qunut secara keseluruhan. Hal ini dikuatkan denga hadits riwayat Abu Hurairah yang beliau di akhir mengatakan :

 

ثُمَّ رأيت رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ فقلت أُرَى رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  قد تَرَكَ الدُّعَاءَ لهم

“ Kemudian aku melihat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan doa setelah itu, maka aku katakana, “ Aku melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan doa baik bagi mereka “.[14]

 

Kedua :

 

حدثنا أحمد بن منيع أخبرنا يزيد بن هارون عن أبي مالك الأشجعي قال: قلت لأبي: يا أبت إنك قد صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي بن أبي طالب هاهنا بالكوفة، نحوا من خمس سنين، أكانوا يقنتون؟ قال: أي بني محدث.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manii’: Telah mengkhabarkan kepada kami Yaziid bin Haaruun dari Abu Maalik Al-Asyja’iyia berkata : “Aku pernah bertanya kepada ayahku: ‘Wahai ayahku, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy di sini, yaitu di Kuufah selama kurang lebih lima tahun. Apakah mereka semua melakukan qunut ?”. Ayahku menjawab : “Wahai anakku, itu adalah perbuatan muhdats (perkara baru” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 402, dan ia berkata : “Hadits ini hasan shahih”].

 

Kata mereka : Melazimkan qunut shubuh secara terus menerus menurut pendapat yang paling shahih bukan merupakan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

Jawaban kami :

 

– Ketika memperhatikan matan hadits tentang masalah ini, maka kita dapati bahwa penafian (laa) adalah dari ucapan Sa’ad bin Thariq al-Asyja’i bukan dari ucapan ayahnya seorang sahabat Nabi. Hadits ini jika dimaknai bahwa Nabi dan empat khalifah tidak melakukan qunut secara muthlaq, maka ini membuang hadits-hadits sahih yang menetapkan qunut.

 

– Sesungguhnya munculnya pertanyaan menunjukkan atas wujudnya qunut, apalagi pertanyaan itu tentang qunut. Dan jumhur sahabat melakukan qunut.

 

– Sebagian ulama mengatakan hadits ini telah terjadi tashih dan tahrif. Ucapan rowi yang berbunyi :

 

أي بني محدث

“Wahai anakku, itu adalah perbuatan muhdats (perkara baru)”

Telah terjadi kerancuan lafadznya dengan makna yang berbeda yang bukan maksud sebenarnya. Lafadz (أي)  dengan alif yang difathah, maknanya adalah “ Aku heran “, menjadi syubhat dengan lafadz  (إي) yang alifnya dikasrah yang bermakna  “ Ya “.

 

Sedangkan lafadz (محدث)  “ Perkara baru “ adalah isim yang rancu dengan lafadz (فحدث)   “ Maka sapaikanlah hadits ini “, huruf fa’nya dirubah menjadi huruf mim. Ini merupakan bentuk tashif yakni hadis yang sudah diubah titiknya (mushahhaf), dan bentuknya (muharraf). Maka seharunya berbunyi :

إي بني فحدث

“ Ya wahai anaku (mereka melakukan qunut), maka sampaikanlah dengan ini “.

 

Hadits tersebut dengan lafadz  أي بني محدث   dan semisalnya disebutkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah, padahal dari mereka pula telah datang hadits yang menentangnya sebagaimana pemaparan kami sebelumnya, terutama dari dua sahih.

 

Dan pertanyaan yang menggunakan huruf istifham seharusnya jawabannya pada umumnya menggunakan huruf Na’am (ya) atau Laa (tidak) atau semisalnya, dan ini menguatkan hujjah kami.

 

– Seandainya hadits ini kita anggap sahih, maka hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits sahih yang banyak yang menetapkan qunut. Maka lebih didahulukan yang banyak daripada yang sedikit. Kemudian jika kedua hokum tersebut saling bertentangan, maka lebih didahulukan al-Mutsbit (dalil yang menetapkan) daripada an-Naafi (dalil yang menafikan), karena jelas yang menetapkan menambahkan ilmu. Ini sudah maklum dalam ilm ushul fiqih.

 

Ketiga :

 

أنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن محمد بن مرزوق الباهلي حدثنا محمد بن عبد الله الأنصاري حدثنا سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا إذا دعا القوم أو دعا على قوم

 

Telah memberitakan kepada kami Abu Thaahir[10] : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr[11] : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq Al-Baahiliy[12] : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshaariy[13] : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah[14], dari Qataadah[15], dari Anas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan qunut, kecuali jika mendoakan kebaikan pada satu kaum atau mendoakan kejelekan pada satu kaum” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 620; shahih].

 

Jawaban kami :

 

– Uslub dalam hadits tersebut menggunakan Hashr dengan huruf Illa. Dalam ilmu Balaghah, Hashr dengan illa itu ada dua macam, pertama Hashr idhofi, kedua hashr haqiqi. Hashr haqiqi berfungsi menetapkan hokum atas kalimat sesudahnya saja bukan sebelumnya. Sedangkan hashr idhofi menetapkan hokum sebelumny saja bukan sesudahnya. Ini banyak sekali contohnya dalam al-Quran.

 

Mengkaji hadits-hadits qunut, maka diketahui bahwa hadits yang menggunakan uslub hashr dengan illa ini qarinahnya adalah hashr idhofi bukan haqiqi. Missal Nabi bersabda :

 

لا ربا إلا في النسيئة

“ Tidak ada riba kecuali hanya ada dalam nasiah “. Ini bukan berarti tidak ada hokum riba pada lainnya, akan tetapi juga ada hokum riba pada selain nasiah karena ada qarinah hadits :

من باع بيعتين في بيعة فله أوكسهما أو الربا

Nah dalam hadits qunut di atas, adalah hashr idhofi bukan haqiqi, sebab ada riwayat lain yang menetapkan qunut Nabi dan sahabat denga doa kebaikan bukan keburukan saja. Maka makna hadits tersebut adalah “ Bahwa qunut Nabi tidak lepas dari doa kebaikan untuk suatu kaum atau doa keburukan kepada suatu kaum lainnya, demikian juga qunut beliau dalam sholat Shubuh “.

 

Kesimpulan :

 

1. Tanggapan Hasan al-Jaizy, tidak tepat sasaran karena judul asli yang ustadz Ma’ruf tulis bukan sebagaimana yang ia bantah.

 

2. Subtansi dan judul artikel sudah sesuai dan tepat.

 

3. Isi artikel cukup ilmiyyah dan kuat, hanya pada masalah penukilan redaksi dari kitab Talkhis Ibnu Hajar saja yang tidak secara lengkap ditampilkan. Ini kami akui memang suatu kekeliruan.

 

4. Hasan al-Jaizy telah membuat kesan seoalah semua tulisan ustadz Ma’ruf dalam artikel qunutnya itu, tidak ilmiyyah padahal al-Jaziy sama sekali tidak membantah poin-poin yang ada di dalamnya.

 

5. Jika al-Jaizy bisa membantah secara ilmiyyah, seharusnya ia juga membantah semua poin yang ada dalam tulisan ustadz Ma’ruf tersebut.

 

6. Dalil dan hujjah kesunnahan qunut shubuh masih kuat dan rajih bagi kami.

 

Ditulis oleh Ibnu Abdillah Al-Katibiy

 

[1] Tamam al-Minnah, al-Albani : 244 [2] Zaad al-Ma’ad, ] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah : 1/ 266

[3] Zaad al-Ma’ad, ] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah : 1/ 266

[4] Al-Asybah wa an-Nadzhair : 158

[5] Fath al-Bari : 2/491

[6] Sunan al-Baihaqi ash-Shugra no. 453 : 1/276

[7] HR Ahmad, Musnad : 27/26, al-Baihaqi, Sunan : 2/201, ad-Daruqutni, Sunan : 4/406

[8] Nashbu ar-Rayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah : 3/190

[9] Sunan Ibnu Majah no. 1173 : 4/25. Hadit ini sahih tanpa illat sedikit pun, lihat keterangan takhrijnya dalam kitab al-I’tibar fin Nasikh wal Mansukh minal Aatsar : 71 [10] Tanqih at-Tahqiq fi Ahadits at-Ta’liq : 1/228 dan al-I’tibar fin Nasikh wal Mansukh minal Aatsar : 66

[11] Sunan al-Baihaqi al-Shughra. 454 : 1/277

[12] Diriwayatkan oleh Ahmad 3/162. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 4963, Ad-Daaruquthniy 2/370-372 no. 1692-1694, Ibnu Abi Syaibah 2/312, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 556, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/244, Al-Baihaqiy 2/201, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 639, Al-Haazimiy dalam Al-I’tibaar hal. 86, Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 2128; semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Raaziy. Al-Baihaqiy berkata : “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah “.

[13] Lihat keterangannya di kitab Tanqih at-Tahqiq fi Ahadits at-Ta’liq : 1/231

[14] Sahih Muslim : 1/467 Jawapan Balas Atas Bantahan Al-Jaizy Terhadap Artikel Qunut Ustaz Ma’ruf | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *