Home »Menjawab Wahabi »Ibnu Taimiyah Dalam Pandangan Ulama Ahlussunnah Ibnu Taimiyah Dalam Pandangan Ulama Ahlussunnah Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

Tulisan ini tidak bermaksud memihak atau ta’ashub kepada satu pihak. Keadilan dalam menilai adalah suatu keharusan (kewajiban) supaya terhindar dalam sikap ta’ashub(fanatik) buta yang dicela oleh syare’at.

 

 

Ibnu Taimiyyah al-Harrani adalah seorang ulama kontroversial, cucu dari seorang ulama Ahlus sunnah yang bernama Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani.

 

Ada beberapa ulama yang memang memujinya seperti at-Taj al-Fazzari, al-Jalal al-Qazwaini, Ibn al-Hariri al-Anshari, al-Kamal az-Zamlakani dan lainnya. Namun tidak sedikit para ulama besar yang mentahdzir Ibnu Taimiyyah dan menghujat beberapa ajaran dan akidah yang diadopsinya. Fakta ini tidak bisa dipungkiri dan disangkalnya.

 

Berlebihan memungkiri ulama yang mentahdzir dan menghujat Ibnu Taimiyyah sama saja merendahkan derajat para ulama besar tersebut. Penilaian para ulama yang telah mentahdzir Ibnu Taimiyyah bukan didasari penilaian kebencian atau iri hati, namun penilaian yang murni dari keilmiyyahan, pandangan dan timbangan terhadap banyaknya doktrin dan akidah Ibnu Taimiyyah yang menyalahi jumhur ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah, sebagaimana akan kami jelaskan.

 

Berikut para ulama besar yang mentahdzir dan menghujat Ibnu Taimiyyah :

 

1. al-Imam al-Hafidz Taqiyyuddin Ali bin Abdil Kafi as-Subuki[1] :

أما بعد، فإنه لما أحدث ابن تيمية ما أحدث في أصول العقائد، ونقض من دعائم الإسلام الأركان والمعاقد، بعد أن كان مستترا بتبعية الكتاب والسنة، مظهرا أنه داع إلى الحق هاد إلى الجنة، فخرج عن الاتباع إلى الابتداع، وشذ عن جماعة المسلمين بمخالفة الإجماع، وقال بما يقتضي الجسمية والتركيب في الذات المقدس

“ Amma ba’du, sesungguhnya ketika Ibnu Taimiyyah melakukan suatu hal yang baru dalam pokok akidah, dan membatalkan dari pondasi-pondasi Islam, rukun dan dasar akidah, setelah ia menutup dengan mengikuti al-Quran dan Sunnah, menampakkan bahwa ia mengajak kepada kebenaran, menunjukkan kepada surga, kemudian ia keluar dari mengikuti itu semua menuju bid’ah, dan menyempal dari kumpulan Muslimin dengan melanggar ijma’ dan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan penjisiman dan susunan terhadap Dzat Allah Yang Maha Suci…”[2]

 

2. Syaikh ‘Imaduddin Abul Fida mengatakan :

وفيها استدعي تقي الدين أحمد بن تيمية من دمشق إلى مصر ، وعقد له مجلس ، وأمسك وأودع الاعتقال ، بسبب عقيدته ، فإنه كان يقول بالتجسيم على ما هو منسوب إلى ابن حنبل

“ Dan pada tahun 705 H, Taqiyyudin Ahmad bin Taimiyyah berangkat dari Damaskus menuju Mesir, dan membuat suatu majlis, lalu ia ditahan di buih sebab akidahnya, karena konon ia mengucapkan tajsim yang ia nisbatkan kepada Ahmad bin Hanbal “.[3]

 

3. Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitamy. Beliau mengatakan dalam kitabnya :

 

وان العالم قديم بالنوع ولم يزل مع الله مخلوفا دائما فجعله موجتا بالذات لا فاعلأ بالاختيار تعالى الله عن ذلك، وقوله بالجسمية، والجهة والانتقال، وانه بقدر العرش لا أصغر ولا أكبر، تعالى الله عن هذا الافتراء الشنيع القبيح والكفر البراح الصريح

“ (Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa Alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt bukan dengan perbuatan Allah scra ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Swt, arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari Arsy. Sungguh Allah maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata “.[4]

 

Beliau juga mengatakan :

 

واياك ان تصغي الى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن القيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ الهه هواه واضله الله على علم و ختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعدالله. و كيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود و تعدواالرسوم وخرقوا سياج الشربعة والحقيقة فظنوا بذالك انهم على هدى من ربهم وليسوا كذالك

“ Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan ?. Bagaimana orang-orang sesat itu telah melampai batasan-batasan syare’at dan aturan, dan mereka pun juga telah merobek pakaian syare’at dan hakikat, mereka masih menyangka bahwa mereka di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal sungguh tidaklah demikian “.[5]

 

4. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).

5. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.

6. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.

7. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali.

 

Ke empat ulama yang juga menjabat qodhi inilah yang merekomendasikan fatwa untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah. Bahkan Ibnu Taimiyyah sudah berulang kali diminta untuk bertaubat dari paham menyimpang akidahnya, tapi ia selalu terus melanggar setelah bertaubat berulang-ulang, sebagaimana surat pernyataan taubat beliau berikut ini :

الحمد الله، الذي أعتقده أن في القرءان معنى قائم بذات الله وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية وهو غير مخلوق، وليس بحرف ولا صوت، وليس هو حالا في مخلوق أصلا ولا ورق ولا حبر ولا غير ذلك، والذي أعتقده في قوله: ? الرحمن على آلعرش آستوى ? [سورة طه] أنه على ما قال الجماعة الحاضرون وليس على حقيقته وظاهره، ولا أعلم كنه المراد به، بل لا يعلم ذلك إلا الله، والقول في النزول كالقول في الاستواء أقول فيه ما أقول فيه لا أعرف كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله، وليس على حقيقته وظاهره كما قال الجماعة الحاضرون، وكل ما يخالف هذا الاعتقاد فهو باطل، وكل ما في خطي أو لفظي مما يخالف ذلك فهو باطل، وكل ما في ذلك مما فيه إضلال الخلق أو نسبة ما لا يليق بالله إليه فأنا بريء منه فقد تبرأت منه وتائب إلى الله من كل ما يخالفه وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره.

)كتبه أحمد بن تيمية) وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الآخر سنة سبع وسبعمائة

“ Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt “ الرحمن على آلعرش آستوى adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama’ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama’ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah I ni adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku gtulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan “.

 

Telah menulisnya : Ahmad bin Taimiyyah, di hari Kamis 6 Rabi’ul Akhir 707 H “.[6]

 

Di akhir surat pernyataan itu, Ibnu Taimiyyah menyatakan :

 

وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره. كتبه أحمد بن تيمية حسبنا الله ونعم الوكيل

“ Dan semua yang telah aku tulis dan katakan dalam kertas ini, maka atas dasar kehendak saya bukan karena terpaksa. Telah menulisnya Ibnu Taimiyyah, Hasbunallah wa Ni’mal Wakil “.

 

Surat pernyataaan taubat Ibnu Taimiyyah tersebut telah diketahui dan ditanda tangani oleh para ulama besar dari kalangan 4 madzhab saat itu, di antaranya Ketua hakim, Badruddin bin jama’ah, Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi’i, Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali dan syaikh Ibnu Rif’ah yang telah mengarang kitab Al-Matlabu Al-‘Aali  syarah dari kitab Al-Wasith imam Ghozali sebanyak 40 jilid.

 

Al-Hafidz al-Mujtahid Taqiyyuddin as-Subuki yang hidup semasanya juga turut merekam jejak kelam Ibnu Taimiyyah yang sering keluar masuk penjara tersebut :

 

وهذا الرجل كنت رددت عليه في حياته في إنكاره السفر لزيارة المصطفى ، وفي إنكاره وقوع الطلاق إذا حلف به، ثم ظهر لي من حاله ما يقتضي أنه ليس ممن يعتمد عليه في نقل ينفرد به لمسارعته إلى النقل لفهمه كما في هذه المسألة ولا في بحث ينشئه لخلطه المقصود بغيره وخروجه عن الحد جدا، وهو كان مكثرا من الحفظ ولم يتهذب بشيخ ولم يرتض في العلوم بل يأخذها بذهنه مع جسارته واتساع خيال وشغب كثير، ثم بلغني من حاله ما يقتضي الإعراض عن النظر في كلامه جملة، وكان الناس في حياته ابتلوا بالكلام معه للرد عليه، وحبس بإجماع العلماء وولاة الأمور على ذلك ثم مات

“ Dan orang ini (maksudnya adalah Ibnu Tiamiyyah), aku telah membantahnya ketika hidupnya di dalam pengingkarannya terhadap safar untuk ziarah ke Rasulullah. Dan juga pengingkarannya terhadap persoalan talaq jika bersumpah dengannya. Kemudian nampaklah bagiku keadaannya yang mengharuskan bahwa ia bukan termasuk orang yang boleh dipegang dalam naqalan yang menyendiri karena cepatnya kepada penukilan untuk memahaminya sebagaimana dalam masalah ini (masalah warisan), demikian juga dalam pembahasan yang dimunculkannya karena bercampurnya tujuan yang dimaksud dengan selainnya dan keluarnya dari batasnya. Ibnu Taimiyyah adalah orang yang banyak hafalannya, akan tetapi tidak bersandar dengan satu guru pun dan tidak merasa puas dengan ilmu-ilmu (yang ada), akan tetapi justru mengambilnya (memahaminya) dengan pemikirannya sendiri yang disertai keberaniannya, khayalan luasnya dan banyaknya kecacatan. Kemudian sampai padaku sesuatu yang mengharuskan untuk berpaling dari memandang ucapannya secara umum. Orang-orang (maksudnya para ulama) di saat hidupnya banyak mendapat ujian untuk membantah ucapannya. Dan ia dipenjara atas rekomendasi kesepakatan ulama dan para pemerintah “.[7]

 

8. Syekh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa’i al-Qurasyi asy-Syafi’i. salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Tuffâh al-Arwâh Wa Fattâh al-Arbâh

9. Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syekh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H).

10. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syekh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w 710 H) • I’tirâdlât ‘Alâ Ibn Taimiyah Fi ‘Ilm al-Kalâm.

11. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syekh Ali ibn Makhluf (w 718 H).

12. Syekh al-Faqîh Ali ibn Ya’qub al-Bakri (w 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syekh Ali ibn Ya’qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya.

13. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi’i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara.

14. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi’i (w 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah.

15. Imam al-Hâfizh Abu Sa’id Shalahuddin al-‘Ala-i (w 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah. Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ’ al-‘Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33. • Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Naby.

16. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w 726 H).

17. Imam Syekh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Risâlah Fî Nafyi al-Jihah.

18. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi’i (w 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya.

19. Sejarawan terkemuka (al-Mu-arrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu’allim al-Qurasyi (w 725 H). • Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî

20. Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w 721 H). • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah ath-Thalâq. • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah

21. Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w 733 H). • Risâlah Fi ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah

22. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (745 H). • Tafsîr an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth

23. Syekh Afifuddin Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki (w 768 H).

24. Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan).

25. Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Mu-arrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w 764 H). • ‘Uyûn at-Tawârikh.

26. Syekh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w 734 H). • at-Tuhfah al-Mukhtârah Fî ar-Radd ‘Alâ Munkir az-Ziyârah

27. Al-Qâdlî Muhammad as-Sa’di al-Mishri al-Akhna’i (w 750 H). • al-Maqâlât al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi’ah karya Syekh Salamah al-Azami.

28. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (w 743 H). • Risâlah Fî Mas-alah ath-Thalâq.

29. Syekh Ahamad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w 744 H). • al-Abhâts al-Jaliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah.

30. Imam al-Hâfizh Abdul Rahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w 795 H). • Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah.

 

Bahkan disinyalir Ibn Rajab al-Hanbali termasuk yang menghujat keras Ibnu Taimiyyah sebagaimana dinaqal oleh Abu Bakar al-Hashni :

 

ابن رجب الحنبلي ممن يعتقد كفر ابن تيمية وله عليه الرد، وكان يقول بأعلى صوته في بعض المجالس: معذور السبكي في تكفيره

“ Ibnu Rajab al-Hanbali termasuk orang yang bekeyakinan kafirnya Ibnu Taimiyyah, dan ia memiliki karya bantahan atasnya. Ia konon juga mengatakan dengan suara tinggi di salah satu majlisnya, “ As-Subuki memang beralasan di dalam mengkafirkan Ibnu Taimiyyah “.[8]

 

31. Imam al-Hâfizh Waliyuddin al-Iraqi (w 826 H). • al-Ajwibah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-As-ilah al-Makkiyyah.

32. Al-Faqîh al-Mu-arrikh Imam Ibn Qadli Syubhah asy-Syafi’i (w 851 H). • Târîkh Ibn Qâdlî Syubhah.

33. Al-Faqîh al-Mutakallim Abu Bakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (829 H). • Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasaba Dzâlika Ilâ Imam Ahmad.

34. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syekh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w 803 H).

35. Al-‘Allâmah Ala’uddin al-Bukhari al-Hanafi (w 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syekh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-’Allâmah Ala’uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfizh as-Sakhawi dalam kitab adl-Dlau’ al-Lâmi’ : 9/292.

36. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamiduddin al-Farghani ad-Damasyqi al-Hanafi (w 867 H). • ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fi al-I’tiqâdât.

37. Syekh Ahamd Zauruq al-Fasi al-Maliki (w 899 H). • Syarh Hizb al-Bahr.

38. Imam al-Hâfizh as-Sakhawi (902 H). • al-I’lân Bi at-Taubikh Liman Dzamma at-Târîkh.

39. Syekh Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan Ibn Abd as-Salam al-Mishri (w 931 H). • al-Qaul an-Nâshir Fî Radd Khabbath ‘Ali Ibn Nâshir.

40. Al-‘Allâmah Syekh Ahmad ibn Muhammad al-Khawarizmi ad-Damasyqi yang dikenal dengan Ibn Qira (w 968 H).

41. Imam al-Qâdlî al-Bayyadli al-Hanafi (1098 H). • Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât Imam.

42. Syekh al-‘Allâmah Ahmad ibn Muhammad al-Witri (w 980 H). • Raudlah an-Nâzhirîn Wa Khulâshah Manâqib ash-Shâlihîn.

43. Syekh Abd an-Nafi ibn Muhammad ibn Ali ibn Iraq ad-Damasyqi (w 962 H). Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ’ al-Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33.

44. Syekh al-Qâdlî Abu Abdillah al-Maqarri. • Nazhm al-La-âlî Fî Sulûk al-Âmâlî.

45. Imam Syekh Abd ar-Ra’uf al-Munawi asy-Syafi’i (w 1031 H). • Syarh asy-Syamâ’il al-Muhammadiyyah Li at-Tirmidzi.

46. Syekh al-Muhaddits Muhammad ibn Ali ibn Allan ash-Shiddiqi al-Makki (w 1057 H). • aL-Mubrid al-Mubki Fî Radd ash-Shârim al-Manki.

47. Syekh Ahmad al-Khafaji al-Mishri al-Hanafi (w 1069 H). • Syarh asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ Li al-Qâdlî ‘Iyâdl.

48. Syekh Abd al-Ghani an-Nabulsi ad-Damasyqi (1143 H). Beliau banyak menyerang Ibn Taimiyah dalam berbagai karyanya.

49. Al-Faqîh ash-Shûfi Syekh Muhammad Mahdi ibn Ali ash-Shayyadi yang dikenal dengan nama ar-Rawwas (w 1287 H).

50. Syekh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi al-Maliki. • an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh Syekh ath-Thayyib.

51. Syekh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi al-Maliki. • an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh Syekh ath-Thayyib.

52. Syekh as-Sayyid Muhammad Abu al-Huda ash-Shayyadi (w 1328 H). • Qilâdah al-Jawâhir.

53. Syekh Musthafa ibn Syekh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali, hakim Islam wilayah Duma, hidup sekitar tahun 1331 H. • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah.

54. Syekh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi (w 1348 H). • an-Nuqûl asy-Syar’iyyah.

55. Syekh Mahmud Khaththab as-Subki (w 1352 H). • ad-Dîn al-Khâlish Aw Irsyâd al-Khlaq Ilâ Dîn al-Haq.

56. Mufti kota Madinah Syekh al-Muhaddits Muhammad al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H). • Luzûm ath-Thalâq ats-Tsalâts Daf’ah Bimâ La Yastahî’ al-Âlim Daf’ah.

57. Syekh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H). • an-Naf-hah az-Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah. • al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah.

58. Syekh Ahmad Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H). • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah.

59. Syekh Salamah al-Azami asy-Syafi’i (w 1376 H) • al-Barâhîn as-Sâth’iah Fî Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ-i’ah. • Berbagai makalah dalam surat kabar al-Muslim Mesir.

60. Mufti negara Mesir Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (w 1354 H). • Tath-hîr al-Fu’âd Min Danas al-‘I’tiqâd.

61. Wakil para Masyâyikh Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki Syekh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari (1371 H). • Kitâb al-Maqâlât al-Kautsari. • at-Ta’aqqub al-Hatsîts Limâ Yanfîhi Ibn Taimiyah Min al-Hadîts. • al-Buhûts al-Wafiyyah Fî Mufradât Ibn Taimiyah. • al-Isyfâq ‘Alâ Ahkâm ath-Thalâq.

62. Syekh Ibrahim ibn Utsman as-Samnudi al-Mishri, salah seorang ulama yang hidup di masa sekarang. • Nushrah Imam as-Subki Bi Radd ash-Shârim al-Manki.

63. Ulama terkemuka di kota Makkah Syekh Muhammad al-Arabi at-Tabban (w 1390 H). • Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn.

64. Syekh Manshur Muhammad Uwais, salah seorang ulama yang masih hidup di masa sekarang. • Ibn Taimiyah Laysa Salafiyyan.

65. Al-Hâfizh Syekh Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Maghribi (w 1380 H). • Hidâyah ash-Shughrâ’. • al-Qaul al-Jaliyy.

66. Syekh al-Musnid al-Habîb Abu al-Asybal Salim ibn Husain ibn Jindan, salah seorang ulama terkemuka di Indonesia (w 1389 H) • al-Khulâshah al-Kâfiyah Fî al-Asânid al-‘Âliyah.

67. Syekh al-Muhaddits Abdullah al-Ghumari al-Maghribi (w 1413 H). • Itqân ash-Shun’ah Fî Tahqîq Ma’nâ al-Bid’ah. • ash-Shubh as-Sâfir Fî Tahqîq Shalât al-Musâfir. • ar-Rasâ’il al-Ghumâriyyah. • Dan berbagai tulisan beliau lainnya.

68. Syekh Hamdullah al-Barajuri, salah seorang ulama terkemuka di Saharnafur India. • al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr.

69. Syekh Abu Saif al-Hamami secara terang telah mengkafirkan Ibn Taimiyah dalam karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd. Beliau adalah salah seorang ulama besar dan terkemuka di wilayah Mesir. Kitab karyanya ini telah direkomendasikan oleh para masyayikh Azhar dan ulama besar lainnya, yaitu oleh Syekh Muhammad Sa’id al-Arfi, Syekh Yusuf ad-Dajwi, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Muhammad al-Bujairi, Syekh Muhammad Abd al-Fattah Itani, Syekh Habibullah al-Jakni asy-Syinqithi, Syekh Dasuqi Abdullah al-Arabi, dan Syekh Muhammad Hafni Bilal.

70. Syekh Mukhtar ibn Ahmad al-Mu’ayyad al-Azhami (w 1340 H). • Jalâ’ al-Awhâm ‘An Madzhab al-A-immah al-‘Izhâm Wa at-Tawassul Bi Jâh Khayr al-Anâm -‘Alaih ash-Shalât Wa as-Salâm-. Kitab ini berisi bantahan atas kitab karya Ibn Taimiyah berjudul Raf’u al-Malâm.

71. Syekh Isma’il al-Azhari. • Mir’âh an-Najdiyyah.

72. KH. Ihsan ibn Muhammad Dahlan Jampes Kediri, salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga. • Sirâj ath-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-‘Âbidîn Ilâ Jannah Rabb al-‘Âlamîn.

73. KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng Jombang. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia, perintis ormas Islam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Beliau merintis ormas ini tidak lain hanya untuk membentengi kaum Ahlussunnah Indonesia dari faham-faham Ibn Taimiyah yang telah diusung oleh kaum Wahhabiyyah. • ‘Aqîdah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah.

74. KH. Sirajuddin Abbas, salah seorang ulama terkemuka Indonesia. • I’tiqad Ahl as-sunnah Wa al-Jama’ah. • Empat Puluh Masalah Agama

75. KH. Ali Ma’shum Yogyakarta (w 1410 H), salah seorang ulama terkemuka Indonesia. • Hujjah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah.

76. KH. Ahmad Abd al-Halim Kendal, salah seorang ulama besar Indonesia. • Aqâ-id Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah. Ditulis tahun 1311 H

77. KH. Bafadlal ibn Syekh Abd asy-Syakur as-Sinauri Tuban. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga. • Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah. • Syarh Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah. • Al-‘Iqd al-Farîd Bi Syarh Jawharah at-Tauhîd.

Dan masih banyak lagi para ulama yang tidak kami sebutkan sama ada semasa dengan Ibnu Taimiyyah atau ulama setelahnya.

 

Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

 

Sikap kami terhadap Ibnu Taimiyyah adalah menyerahkan akhir urusan beliau kepada Allah Ta’alaa, tak ada yang mengetahui akhir hidup Ibnu Taimiyyah, apakah beliau wafat dalam keadaan taubatnya atau masih dalam keadaan sebelum bertaubat, hanya Allah yang mengetahuinya. Akan tetapi, segala apa yang ditahdzirkan ulama kepada kami atas semua fatwa dan ucapan Ibnu Taimiyyah yang dinilai menyimpang dari ajaran dan akidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, maka akan tetap kami perhatikan dan terus menyerukan kepada kaum muslimin agar berhati-hati terhadap fatwa dan pemikiran Ibnu Taimiyyah yang menyimpang dari ajaran dan akidah Ahlus sunnah tanpa mengesampingkan semua pemikirannya yang sesuai dengan pemahaman Ahlus sunnah wal Jama’ah.

 

Tulisan ini akan kami lanjutkan kepada beberapa lagi perbahasan tentang

 

1- Mengapa para ulama banyak menghujat dan mentahdzir pemahaman Ibnu Taimiyyah sehingga ia sering keluar masuk penjara ?

2- Membahas secara ilmiah dan adil tentang kalam Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Suyuthi terhadap Ibnu Taimiyah

3- dan juga kami akan tuliskan bukti kuat dan akurat tentang penyimpangan Ibnu Taimiyyah berkaitan akidah tajsimnya.

 

 

Ibnu Abdillah Al-Katibbiy

Kota Santri, 11-06-2014

 

   

[1] Siapa yang tak kenal ulama tersohor ini, adz-Dzahabi mengatakan tentang imam Taqiyyuddin as-Subuki berikut ini :

 

القاضي الإمام العلاّمة الفقيه المحدّث الحافظ فخر العلماء تقي الدين أبو الحسن السُّبكي… كان صادقًا متثبّتًا خيّرًا ديّنًا متواضعًا، حسن السّمت، من أوعيةِ العلم، يدري الفقهَ ويُقررهُ، وعِلمَ الحديثِ ويُحرّرهُ، والأصولَ ويُقرئُها، والعربيةَ ويحققُها…وصنَّفَ التصانيف المتقنة، وقد بقيَ في زمانه الملحوظ إليه بالتحقيق والفضل، سمعتُ منه وسمع مني، وحكم بالشام وحُمِدَتْ أحكامُه، والله يؤيّدُهً ويسدّده

“ seorang qadhi, imam, allamah, al-faqih, al-muhaddits, al-hafidz, kebanggaan ulama : Taqiyyudin as-Subuki Abul Hasan…ia seorang yang jujur, kokoh, baik, agamis dan rendah hati, baik perangainya, bagian dari mutiara ilmu, mengetahui ilmu fiqih dan mematangkannya, juga ilmu hadits dan menguatkannya, ilmu ushul dan bahasa Arab. Banyak menulis karya berharga……” (Mu’jam al-Muktash bi Muhaddits al-‘Ashr, adz-Dzahabi : 116)

 

Al-Hafidz Shalahuddin al-‘Alaai mengatakan :

 

الناسُ يقولون: ما جاء بعدَ الغزالي مثله، وعندي أنهم يظلمونه بهذا، ما هو عندي إلا مثل سفيان الثوري

“ Orang-orang mengatakan, tidak ada ulama yang semisalnya setelah imam Ghazali. Menurutku orang-orang itu telah dzalim (tidak tepat), Taqiyyuddin as-Subuki bagiku tidak ada lain seperti Sufyan ats-Tsauri “. (Thabaqaat asy-Syafi’iyyah al-Kubra : 10/197)

[2] Ad-Durrah al-Mudhiyyah, as-Subuki

[3] Al-Mukhtashar fii Akhbar al-Basyar, Ibn Katsir.

[4] Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 116

[5] Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203

[6] Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi : 630-631

[7] Fatawa as-Subuki : 2/210

[8] Daf’u Syubahin Man Syabbaha wa Tamarrada : 123 Ibnu Taimiyah Dalam Pandangan Ulama Ahlussunnah | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published.