Home »Menjawab Wahabi »Debat Tentang Diroyah Atsar Ibnu Umar Yang Cuba Dilemahkan Oleh Wahabi Debat Tentang Diroyah Atsar Ibnu Umar Yang Cuba Dilemahkan Oleh Wahabi Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

 

Lanjutan dari Artikel kami yang pertama iaitu Menjawab Syubhat Ulama Wahabi Yang Menolak Atsar Ibnu Umar. Setelah itu berkanjut diskusi dengan ustadz-ustadz wahabi yang tiba-tiba muncul, pertama dengan Abu Khaled, kedua dengan Abul Jauza, berikut saya kongsikan diskusi saya dengan mereka :

 

 

 

Abu Khaleed: Pertama:

Keraguan doktor Sa’ad bukan tanpa alasan, ia melihat qarinah ini dari asal kitab ibnu hajar sendiri, yaitu tahdziibul kamaal karya la mizzy, ibnu hajar dalam kitabnya tahdziib al kamaal dan taqrrib at tahdziib itu kan hanya merangkum kitab tahdzib al kamaal karya mizzy tadi. coba anda2 perhatikan dalam tahdziib al kamaal yang dinukil oleh pak makruf sendiri, apakah ada nukilan dari an-nasa’i disana? coba perhatikan baik-baik, kalo perlu bolak balik bacanya. ada tidak?

Shofiyyah : Alasan dr Sa’ad meragukan nukilan Ibnu Hajar sungguh jauh dari keilmiyahan.

Pertama : Seandainya Ibnu Hajar bermaksud dengan tautsiqnya adalah Rowi yang bernama Abdurrahman bin sa’ad almadani, maka niscaya ia tidak akan berkata “ QULTU WA QOOLAN NASAAI TISQATUN “ apa perlunya Ibnu Hajar mentaukidnya kmbali ??

Kedua : Dengan menuduh Ibnu Hajar salah dan keliru stlh beliau mantaukid ucapan al-Maziyy apalagi beliau mengulanginya dua kali padahal beliau sendiri sudah berkata tegas di awal muqaddimah kitab tahdzibnya bahwa apa yang beliau nukil adalah stlh melalui kajian dan penelitian yang mendalam, dan beliau pun bergelar al-Hafidz (sangat jauh ketimbang dr Sa’ad), maka sama saja telah menuduh Ibnu Hajar tanpa haq dan merupakan bentuk tanqish (pencacatan)kepada pribadi beliau dengan dhalim.
9 November 2012 pukul 17:06 • Suka • 2

Abu Khaleed : coba anda2 perhatikan dalam tahdziib al kamaal yang dinukil oleh pak makruf sendiri, apakah ada nukilan dari an-nasa’i disana? coba perhatikan baik-baik, kalo perlu bolak balik bacanya. ada tidak?

3832 – بخ عبد الرحمن بن سعد القرشي العدوي مولى بن عمر كوفي روى عن أخيه عبد الله بن سعد ومولاه عبد الله بن عمر بخ روى عنه حماد بن أبي سليمان وأبو شيبة عبد الرحمن بن إسحاق الكوفي ومن صور بن المعتمر وأبو إسحاق السبيعي بخ ذكره بن حبان في كتاب الثقات روى له البخاري في كتاب الأدب حديثا واحدا موقوفا وقد وقع لنا عاليا عنه أخبرنا به أبو الحسن بن البخاري وزينب بنت مكي قالا أخبرنا أبو حفص بن طبرزذ قال أخبرنا الحافظ أبو البركات الأنماطي قال أخبرنا أبو محمد الصريفيني قال أخبرنا أبو القاسم بن حبابة قال أخبرنا عبد الله بن محمد البغوي قال حدثنا علي بن الجعد قال أخبرنا زهير عن أبي إسحاق عن عبد الرحمن بن سعد قال كنت عند عبد الله بن عمر فخدرت رجله فقلت له يا أبا عبد الرحمن ما لرجلك قال اجتمع عصبها من ها هنا قال قلت ادع أحب الناس إليك فقال يا محمد فانبسطت رواه عن أبي نعيم عن سفيان عن أبي إسحاق مختصرا

Inilah yang menjadi alasan Doktor Sa’ad, bahwa nukilan tautsiiq an nasaa’i itu bukan untuk abdurrahman bin sa’ad maulaa ibni umar, akan tetapi untuk abdurrahman bin sa’ad al madany, rawy sebelumnya yang disebutkan oleh al mizzy dalam tahdziib al kamaal. al hafidz ibnu hajar telah keliru dalam hal ini, dan ini terkadang terjadi kepada para ulama sekali pun.

Shofiyyah : Alasan yang mengada-ngada, tidak adanya nukilan al-maziyy di dalam kitabnya tahdzibul kamal tntang tautsiq an-Nasai trhdp Abdurrahman bin sa’ad bukanlah hujjah utk mengatakan Ibnu Hajar berdsuta atau keliru….sungguh ini jelas menyebabkan buruk sangka terhdp Ibnu Hajar. Dan tidak punya adab dalam beristidlal. Ingat KAIDAH ; “ MAN HAFIDZA HUJJATUN ‘ALA MAN LAM YAHFADZ “.Penukilan Ibnu Hajar sudah cukup menjadi hujjah tanpa dituntut menyebutkan sumber nukilannya.

Dan lagi pula, al-hafidz Ibnu Hajar telah mentela’ah tatabbu’aat imam Al-Mughlathay yang telah mengistidrak apa yang luput dari imam an-Nasai, dan Ibnu Hajar bersandar pada kitab “at-Tamyiz “ karya imam Nasai yang telah diistidrak oleh al-maziy.

Tidakkah anda mengetahui sungguh banyak para ulama ahli hadits yang sama kasusnya sprti Ibnu Hajar ?? contoh :

Di dalam kitab LISAN AL-MIZAN Ibnu Hajar mengatakan tentang Basyir bin Thalhah “ WATSTSAQAHU IBNU HIBBAN “, Dan kita temukan al-Husaini di dalam kitab IKMAL AL-KAMAL mengatakan tentang Basyir bin Thalhah sbgai berikut “ QOOLA AL-IMAM AHMAD; LAITSA BIHI BA’TSUN “.

NAH, Apakah anda akan mengatakan kepada al-Husaini “ Bahwa Ibnu Hajar tidak menyebutkan sperti yang disebutkan al-Husaini tsb , dan tidak menyebutkan imam Ahmad “???

Abu Khaleed :Kedua:

Perkataan Yahya bin Ma’iin dalam tarikh beliau dari riwayat al Duury itu jelas dan terang benderang untuk abdurrahman bin sa’d maulaa ibnu umar, karena sebelumnya beliau menyebutkan atsar ibnu umar yang nyata2 diriwayatkan oleh abdurrahman bin sa’ad maulaa ibnu umar, bukan abdurrahman bin sa’ad al madany. penyebutan Abdurrahman bin sa’ad al madany yang dikatakan “laa a’rifuhu” oleh ibnu Ma’iin berlainan dengan riwayat tariikh dari Ad Duury, ia adalah riwayat al Daarimy. jadi jangan dicampuradukkan. 

Shofiyyah : Dari mana dapat dikatakan riwayat adduuri itu terang benderang ??
Justru riwayat adduri itu lemah dan penuh keraguan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, malah ada dua kelemahan; pertama adduri meriwayatkannya dengan shighat lemah yaitu “ WA QIILA “ (dan dikatakan), ini artinya adduri tidk meriwayatkan atau tidak mendengar langsung dr Ibnu Ma’in, ia hanya meriwayatkan melalu perantara.

Kedua ; Adduuri tidak dhobth (tdk kuat hafalannya) dlm mslah ini terbukti kalimatnya “ SYAKKAL ABBAASU SA’IID AM SA’AD “. Maka dengan ini periwayatan Adduuri tdk bisa dijadikan hujjah, terlebih banyak qorinah yg sangat kuat bahwa ketidak tahuan Ibnu Ma’in itu ditujukan kepada Abdurrahman bin sa’ad maula ibnu makhzum bukan Abdurrahman bin Sa’ad maula Ibnu Umar sprti yg udh saya jelaskan di atas. Dan ditegaskan pula oleh imam Ibnu Adi.

Maka sangat tidak beralsan sekali dr Sa’ad mengatakan hal itu apalagi dia senidiri pun tidk yakin alias masih ragu, coba perhatikan ucapannya “ AKHSYAA “ “ Saya Khawatir “, ini sudh jelas hnya sekedar praduga yang tidak kuat dengan hujjah yang lemah pula.

 

Abul Jauza : Semakin jelas bahwa orang yang bernama Shafiyyah ini tidak mengerti ilmu mushthalah. Bahkan bantahannya yang ditulis dengan susah payah di atas semakin menampakkan adanya idlthirab dalam riwayat Ibnu ‘Umar – kalau sadar sih. Contoh kecil saja, menulis Imam Ad-daaruquthniy saja dengan ejaan : Imam Dar al-Quthni. Sevariatif-variatifnya transliterasi dari kata الدارقطني, kayaknya terlalu jauh deh jika ditulis seperti itu. 

 
Pertama,… sebenarnya Anda ngerti gak si definisi majhuul dalam ilmu mushthalah ?. Majhul itu bukan terdefinisi bahwa ia tidak meriwayatkan dari siapa-siapa. Jadi penyebutan perkataan Ad-daaruquthniy, Al-’Iraqiy, Abu Nu’aim, dan ‘Abdurrazzaaq itu tidak mengangkat kemajhulan Al-Haitsam. Coba deh buka-bukan lagi kitab mushthalahnya, entar saya dikira bohong lagi….

[atau tolong, sebutkan definisi majhuul menurut Anda di kolom komentar ini].

Al-haitsam ini di kalangan mutaqaddimin, hanya Ibnu Hibbaan yang mentautsiqnya dengan memasukkannya dalam kitab Ats-tsiqaat. Bukankah Anda tahu – atau malah tidak tahu ? – bahwa Ibnu Hajar dan yang lainnya telah menjelaskan kebiasaan Ibnu Hibbaan yang bermudah-mudah mentautsiq para perawi majhuul ?. Sementara hanya ada 2 orang perawi tsiqah yang meriwayatkan darinya (yaitu Abu Ishaaq dan Salamah bin Kuhail). Lha kalau gini, mastur atau majhuul haal lah namanya. 

Jadi di sini permasalahannya bukan pada riwayat Al-Haitsam dari Ibnu ‘Umar. Kalau itu sih sudah ma’ruf lah, karena itu bukan yang menjadi sebab kemajhulannya.

Adapun tashhiih dari Al-Mughlathaaiy, maka ini perlu dicermati. Al-Haafidh Mughlathaaiy itu ulama muta’akhkhiriin (w. 762). Oleh karena itu, tashhiihnya harus dikembalikan pada kaedah-kaedah yang ada. Jika Al-Haitsam ini adalah majhuul – berdasarkan kaedah ilmu hadits yang telah ditetapkan para ulama – bagaimana bisa kita mengatakan riwayatnya shahih ?. 

Itu yang pertama…..

Kedua,… katanya, yang mendla’ifkan Muhammad bin Mush’ab itu sedikit. Anda ketika mengetik tulisan Anda itu sambil membuka kitab rijaal ataukah tidak ?. Berikut perkataan ulama tentangnya SECARA RINGKAS sebagai tambahan yang Anda sebutkan : 

Abu Ahmad Al-Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Al-Auza’iy hadits-hadits munkar. Dan ia tidak kuat menurut mereka (para ulama). Ibnu ‘Adiy berkata : “Riwayatnya tidak mengapa”. Al-’Uqailiy menyebutkannya dalam Adl-Dlu’afaa’. Abu Haatim : “Dla’iiful-hadiits, tidak kuat (laisa bi-qawiy)”. Ibnu Hibbaan : “Termasuk orang yang jelek hapalannya”. Abu Zur’ah memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ dan berkata : “Jujur dalam hadits, namun ia meriwayatkan hadits-hadits munkar…. Kami mengira ia telah melakukan kekeliruan di dalamnya”. Al-Haakim berkata : “Tsiqah”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Tidak mengapa dengannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Al-Bukhaariy berkata : “Yahyaa bin Ma’iin mempunyai pandangan buruk tentangnya”. Al-Khathiib berkata : “Banyak salahnya”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Bukan termasuk haafidh”. Shaalih bin Muhammad berkata : “Dla’iif dalam riwayat Al-Auzaa’iy”. Ibnu Khiraasy berkata : “Munkarul-hadiits”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya”.

Apakah ini yang Anda sebut SEDIKIT ?. 

Apakah jarh-jarh di atas merupakan jarh yang mubham ? bukankah ia jarh mufassar ? bukankah kaedah mengatakan : al-jarhul-mufassar muqaddamun ‘alalt-ta’diil al-’aam ?

=======

Seandainya Muhammad bin Mush’ab ini seorang yang tsiqah, maka ini menambah qarinah idlthiraab riwayat Abu Ishaaq. Satu waktu ia meriwayatkan dari ‘Abdurrahmaan, satu waktu meriwayatkan dari Al-Haitsam bin hanasy, satu waktu ia meriwayatkan dari orang yang mubham, dan satu waktu ia meriwayatkan dari Abu Syu’bah.

Ah,… jangan-jangan Anda juga gak paham apa itu hadits mudltharib ?

Abul Jauza : Sedikit nambah, dan hanya menunjukkan ketidakpahaman orang yang bernama Shafiyyah atas ilmu rijaal. Di atas ia membawakan perkataan Ibnu Abi Haatim (tapi Shafiyyah menuliskannys Ibnu Hatim – jelas beda lah antara dua orang ini – ) :

“Ibnu Hatim berkata :

قلت لأبي زرعةَ: محمدُ بن مُصعبٍ وعليُّ بن عاصمٍ أيُّهما أحبُّ إليك قال محمدُ بن مصعب.

“Aku bertanya kepada Abi Zar’ah “ Muhammad bin Mush’af dan Ali bin ‘Ashim siapakah yang engkau paling cintai ? Beliau menajwab “ Muhammad bin Mush’af” [selesai kutipan dari Shafiyyah].

[Abu Zar’ah atau Abu Zur’ah ni ?]

Tentu saja Shafiyyah menuliskan di atas untuk menunjukkan bahwa Abu Zur’ah mentautsiq Muhammad binMush’ab. Tapi dasar Shafiyyah, tampilan itu salah alamat, karena ia tidak memahami lafadh-lafadh jarh dan ta’dil di kalangan ulama. Kalimatg seperti itu bukan dimaksudkan untuk menjarh atau menta’dil seseorang. Untuk menentukan jarh dan ta’dil nya masih memerlukan tambahan keterangan. Perkataan Abu Zur’ah di atas hanyalah menunjukkan ia lebih mencintai Muhammad bin Mush’ab dibandingkan ‘Aliy bin ‘Aashim. Perkataan itu hanyalah menunjukkan satu perbandingan saja. Bisa jadi orang yang lebih dicintai itu adalah orang yang dla’iif, namun dengan kedla’ifan lebih ringan daripada yang lainnya. 

Harusnya Shafiyyah menurunkan perkataan Abu Zur’ah tentang ‘Aliy bin ‘Aashim sehingga bisa diketahui maksud dari perkataan Abu Zur’ah di atas. ‘Aliy bin ‘Aashim itu dijarh jumhur ulama sebagai orang yang jelek hapalannya dan banyak keliru. Abu Zur’ah sendiri mendla’ifkan ‘Aliy bin ‘Aashim. Apakah dengan data ini Anda buru-buru mengatakan bahwa Abu Zur’ah menta’dil Muhammad bin Mush’ab ?. Abu Zur’ah sendiri berkata tentang diri Muhammad bin Mush’ab (sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bardza’iy) : 

“Muhammad bin Mush’ab banyak salahnya dalam riwayat Al-Auza’iy dan selainnya……” [Al-Jaami’ fil-jarh wat-Ta’diil 3/92 no. 4168].

Walhasil kita mendapatkan keterangan tentang Shafiyyah, bahwa ia tidak paham tentang ilmu jarh wa ta’diil – sama seperti saya lah… he..he..he….

 

Shofiyyah menjawab : Om Donnie, sudh hatam belajar diroyah kan?? Atau Cuma browsing2 aja, sprti tradisi bid’ah salafi lainnya??
Pake bilang riwayat ibnu Umar idthirab lagi, idthirab dari hongkong ya om?? Makanya om, kalo mau meneliti jangan Cuma taqlid buta sama artikel2 ulama salafi om, kalo om pernh belajar scra mndalam ilmu diroyah, mending teliti sndiri jangan taqlid buta atau ikut2an bilang riwayat itu idthirab…aduh…parah nih masa perlu saya ajarin bab dasarnya om?…
Masalah Jahalah :

Om, belajar lagi om, apa om menyangka (atau Cuma tahu krna hanya taqlid) kalau majhul itu pasti tertolak secara muthlaq?? Gini om dony, om sudh belajar asbabul jahalah blom?? Om sudh tahu aqsamul jahalah blom??
Nah di sini nih, om yg perlu belajar dan perluu tahu, supaya gak komntar sprti di atas, malu om sm anak ibtida’ klo ada yg baca komntar om..dan ketahuan si om ini gak melihat komntar2 sy seblomnya…gmna tuh tanggapannya, masa yg trakhir doang??
Majhul secara RINGKASnya : Seorang perowi yg tdk dikenal jati dirinya atau dikenal orgnya tapi tdk dikenal identitasnya atau tdk dikenal sifat-sifat keadilan dank e-dhabith-annya.
Pertama : Jika dikatakan Haitsam MAJHUL ‘AIN, ternyata faktanya ada dua orang perowi yang meriwayatkan darinya yaitu Abu Ishaq dan Salmah bin Kuhail. Maka keliru jika beliau dinilai majhul ‘ain.
Kedua : Jika dikatakan Haitsam MAJHUL HAL, ternyata faktanya ada DUA orang TSIQAH yang meriwayatkan darinya, karena disebut majhul hal jika periwayatan diambil dari DUA orang perowi atau lebih tapi tidak ada yang tsiqah, buktinya dua perowi Haitsam adalah tsiqah semuanya dan Haitsam sndiri ditaustiq oleh Ibnu Hibban yang kapasitas ilmu jarh ta’dilnya jauh ktimbang albani.
Atau disebut majhul hal jika tdk ada yang menukil tntang jarh dan tadilnya dalam kata lain majhul adalah bathiniyyah, terbukti melihat dhahirnya beliau adalah org yang shalih, beliau haji bersama Ibnu Umar, sholat bersama beliau dan mngambil fiqih brsama beliau. Sedangkan riwayat-riwayatnya kita lihat menunjukkan dhabthnya yang sempurnya sprti yg tlh sy paparkan di atas.
Baca nih om biar gak taqlid buta dlm muqodiimah Ibn Sholah disebutkan :

. فقد قال بعض أئمتنا: المستور من يكون عدلاً في الظاهر، ولا نعرف، عدالة باطنه. فهذا المجهول يحتج بروايته

Tambah lg biar ngeeh di dlm ktb al-Baa’its al-Hatsits disebutkan…:

قال الخطيب البغدادي وغيره: وترتفع الجهالة عن الراوي بمعرفة العلماء له، أو برواية عدلين عنه.

Udah paham ka nom??

Ketiga : Imam Bukhari mnyebutkan Haitsam walaupun tdk menjarhnya, ini suatu TAQWIYAH (penguat dr beliau), ini sesuai kaidah diroyah sbgaimana disebutkan oleh imam Ibnu Abi Hatim di dlm Jarh wa Ta’dilnya :

باب في رواية الثقة عن غير المطعون عليه أنها تقويه وعن المطعون عليه انها لا تقويه
حدثنا عبد الرحمٰن قال سألت ابي عن رواية الثقاتِ عن رجلٍ غيرِ ثقةٍ مما يقويه؟ قال إذا كان معروفا بالضَعفِ لم تقوِّه روايتُه عنه، وإذا كان مجهولاً نفَعَه روايةُ الثقةِ عنه.

Renungkan om dan sy terjmhkan biar om lebih paham :

“ Bab tentang riwayat rowi tsiqah dari rowi yang Ghair Math’un ‘alaih, maka itu menjadi penguat sedangkan dari Rowi yang Math’un ‘alaihi maka tdk mnjdi penguat;
“ Telah memberitakan pada kami Abdurrahman, ia berkata “ Aku bertanya pada ayahku tentang Riwayat rowi2 tsiqah dari rowi yang tidak tsiqah yang menjadi penguatnya ? ayahku menjawab “ Jika sudah ma’ruf ke-dhaifannya, maka tidak bs menguatkan riwayat darinya, DAN JIKA IA MAJHUL, MAKA RIWAYAT ROWI YANG TSIQAH BISA MENJADIKANNYA MANFA’AT (KUAT) “.

 

Shofiyyah menjawab : Masalah Muhammad bin Mush’af: Amirul mukminin fil hadits ; Imam Bukhari mngtakan dlm Tarikh kabirnya :

كان يحيى بنُ معين يُسيءُ الرأي فيه

” Yahya bin Ma’in pandangannya salah terhadapnya “.

Ktika imam Bukhari mentaustiq Suhaim bin Hani’, imam Bukhari berhujjah dengan Muhammad Bin Mush’af :

سحيم بن هانئ، قال لي ابن أبي عتاب حدثني محمد بن مصعب القرقساني حدثنا سحيم بن هانئ وكان يجالس الاوزاعيَّ وكان ثقةً

Ini artinya beliau menetapkan ‘adalah Muhammad bin Mush’af, karna dalam ilmu jarh wa ta’dil, tautsiq dhaif itu tidak diterima, paham kan om Dony??

 

Abul Jauza alias Donnie :Sama halnya dengan Ibnu Hajar yang membagi perawi majhul menjadi dua, yaitu : majhuul ‘ain dan majhuul haal.

Majhuul haal menurut Ibnu Hajar dalam muqaddimah At-taqriib (hal. 81) adalah seorang rawi yang meriwayatkannya lebih dari satu orang dan tidak ada yang mentsiqahkannya (dari kalangan ulama mu’tabar). Ibnu Hajar menyebut juga dengan mastuur [Nuzhatun-Nadhar, hal. 126]. Perawi dengan predikat ini menduduki tingkatan ketujuh – yang masuk dalam tingkatan perawi dla’iif. Ibnu Hajar menyatakan riwayat perawi ini ditolak menurut jumhur. Kemudian beliau menjelaskan bahwa periwayatan perawi mastuur atau majhuul haal ini dapat diterima tergantung dari kejelasan keadaan dari si perawi tersebut [idem].

[Penjelasan tambahan : Perawi yang berpredikat majhuul dalam ‘adalah batinnya – atau yang disebut sebagian muhadditsiin : mastuur – , maka riwayatnya diterima menurut jumhur ulama selama tidak tetap sifat ‘adalahnya tersebut. Inilah pendapat Asy-Syaafi’iy].

Menurut penjelasan di atas, maka Al-Haitsam bin Hanasy masuk dalam klasifikasi ini.

 

Shofiyyah : Nah, jika kita dikatakan Haitsam ini masuk kategori Majhul Hal dalam ‘adalah batinnya atau mastur, maka menurut sebagian ulama syafi’iyyah periwayatannya dapat diterima.

(مسألة): مجهول العدالة ظاهراً وباطناً لا تُقبل روايته عند الجماهير ومن جُهلتْ عدالته باطناً، ولكنه عدل في الظاهر، وهو المستور، فقد قال بقبوله بعض الشافعيين، ورجَّح ذلك سليم بن أيوب الفقيه، ووافقه ابن الصلاح. وقد حررتُ البحثَ في ذلك في المقدمات. والله أعلم

“ Masalah; Majhul ‘adalah dahir dan batin periwayatannya tidak diterima menurut jumhur, dan perowi yang majhul batinnya akan tetapi ia ‘adil di dalam dahirnya atau disebut mastur, maka sungguh sebgian ulama syafi’iyyah menerimanya. Dan juga pendpt ini ditarjihkan oleh Sulaim bin Ayyub Al-Faqih, disepkati oleh Ibnu Shalah..” (Al-Ba’its al-Hatsits; Ibnu al-Qoyyim bukan karya Ibnu Katsir sprit yg disangka om Donie)

FAKTA :

Haitsam bin Hanasy adalah seorang rowi yang ‘adil sebgaimana bukti-bukti profil yang telah sy sebutkan dalam hadits-hadits sblomnya.

Sedikit sy tampilkan tambahan bukti ke ‘adalahan beliau :

Imam Thabrani di dalam kitab Mu’jam al-Kabirnya meriwayatkan :

: حدثنا علي بن عبد العزيز حدثنا أبو حذيفة ثنا سفيان عن سلمة بن كهيل “عن الهيثم بن حنش”: عن حنظلة الكاتب قال: كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكر الجنة والنار فكنا رأي عين فخرجتُ فأتيت أهلي فضحكت معهم فوقع في نفسي شىء فلقيت أبا بكر رحمه الله فقلت: إني نافقت قال: وما ذلك؟ فقلت: كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكر الجنة والنار وكنا كأَنَّا رأي عين فأتيت أهلي فضحكت معهم قال أبو بكر إنا لنفعل ذلك فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت ذلك له قال: يا حنظلة لو كنتم عند أهليكم كما تكونون عندي لصافحتكم الملائكة على فرشكم وفي الطريق يا حنظلة ساعة وساعة
Ini menunjukkan periwayatan Haitsam bin Hansy yang dhabthnya baik bahkan kuat.

Satu lagi biar ngeeh..

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abi Utsman an-Nahdi dari Handzalah al-Asidi penulis wahyu Nabi Saw :

كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرنا الجنة والنار حتى كأنّا رأيَ عين فأتيت أهلي وولدي فضحكت ولعبت وذكرت الذي كنا فيه فخرجت فلقيت أبا بكر فقلت نافقتُ نافقت فقال إنا لنفعله فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت ذلك له فقال يا حنظلة لو كنتم تكونون كما تكونون عندي لصافحتكم الملائكة على فرشكم أو في طرقكم – أو كلمةً نحو هذا – هكذا قال هو يعني سفيان يا حنظلة ساعة وساعة.
Ini menunjukkan dhabtnya Haitsam yang sempurna.

Dalam hadits lain yang sebagiannya saya telah sebutkan mnunjukkan bahwa beliau bersama Ibnu Umar, haji, sholat dan juga mengambil ilmu fiqih darinya..ini menjlaskan pada kita bahwa keadaan beliau itu shaleh dan baik juga kuat dhabthnya / hafalannya. Ini sudah cukup sebagai bukti ‘adalah dhahirnya meskipun batinnya mash tdk diketahui. Dan mastur sprt ini oleh sebagian ulama periwayatannya diterima.

 

Abul Jauza : Lihat poros sanadnya yang ada pada Abu Ishaaq dan kemudian akhir dari sanad yang berujung pada Ibnu ‘Umar. Inilah Idlthirab sanadnya. Jadi mbak,…. ini bukan penguat……tapi idlthirab sanad.

 

Shofiyyah : MASALAH IDHTHIRAB :

Om donnie yang bermodalkan taqlid buta atas artikel2 ulama salafi (paling mentoq ulama salafi jd ahli hadits sprti albani gak ada yang smpai muhaddtis apalagi hafidz), ia menuduh tanpa mau meneliti hanya krna taqlid bahwa riwayat tsb mudhtharib.

sya katakan, idhthirab dari HONGKONG ya om?? makanya om belajar diroyah jangan nanggung..apalagi cuma modal taqlid buta…jd malu nanti…
Om, paham gak definisi idhthirab dan hadits mudhtharib ??
Dari mana riwayat dari Abi Ishaq bisa dikatakan IDHTHIRAB ?? neletinya pake kacamata kuda ya om??

Menghukumi suatu hadits itu Idhthirab itu harus / wajib adanya nash yang MUKHOLIFAHNYA di sanad atau di matannya.

kemudian stlh ada NASH MUKHOLIFAHNYA, harus melalui proses berikut :

1. MENGKOMPROMIKAN antara nash yang mukholifah sebisa mungkin.
2. jika tdk bisa dikompromikan, maka diambil yang paling RAJIH.
3. jIKA tdk bisa ditarjih krna sama-sama kuat kualitasnya, maka diTAWAQQUFkan.
Nah pertama : Apa di dlm riwayat Abi Ishaq ada nash yang mukholifahnya ?? jwb : gak ada.
kedua : kalau ada, apa sudh dijalankan melalui proses ketrertibannya ??? jwb gk ada.

Maka jika ada salafi yang mngatakan hadits tsb mudhtharib, akalnya perlu dibenahi…atau memang sengaja berpura-pura bodoh utk mengelabui umat?? berdsuta sekuat mungkin utk menolak paham tawassul / istighatsah dngn Nabi Saw stlh wafatnya??

 

Abul Jauza : Lantas bagaimana dengan tautsiq Ibnu Hibbaan ?. Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan :

قلت : وهذا الذي ذهب إليه ابن حبان من أن الرجل إذا انتفت جهالة عينه كان على العدالة حتى يتبين جرحه مذهب عجيب ، والجمهور على خلافه ، وهذا مسلك ابن حبان في ” كتاب الثقات ” الذي ألفه ، فإنه يذكر خلقا نص عليهم أبو حاتم وغيره على أنهم مجهولون ، وكان عند ابن حبان أن جهالة العين ترتفع برواية واحد مشهور ، وهو مذهب شيخه ابن خزيمة ، ولكن جهالة حاله باقية عند غيره “

“Aku katakan : Pendapat Ibnu Hibban bahwa perawi yang hilang majhul ‘ain-nya berarti ‘adil adalah pendapat yang aneh. Kebanyakan (jumhur) ulama menentangnya. Jalan yang ditempuh Ibnu Hibban dalam kitab karangannya yaitu Kitaabuts-Tsiqaat menyebutkan sejumlah perawi yang dicatat oleh Abu Haatim dan yang lainnya sebagai majhul, dan seakan-akan Ibnu Hibban berpendapat bahwa majhul ‘ain itu akan terangkat oleh satu perawi terkenal. Ini adalah pendapat syaikhnya, yaitu Ibnu Khuzaimah. Namun para ulama lain (yaitu jumhur) menyatakan bahwa majhul haal itu TETAP ADA” [Lisaanul-Miizaan, 1/208].

 

Shofiyyah : Sbgaimana telah sy paparkan pada kenyataannya Haitsam bukan lah Rawi yang majhul ‘ain dan juga majhul hal dalam ‘adalah dahir dan batinnya, akan tetapi beliau majhul hal dlm ‘adalah batinnya saja, dan ini diterima oleh sebagian ulama syafi’iyyah, jadi tidak ada kaitannya dengan metode Ibnu Hibban malah sesuai dengan metode sebagian ulama ahli hadits.
Om donie, perlu kmu tahu, bahwa tidak semua rowi majhul itu ditolak, salah besar brkesimpulan sprti itu, belajar jangan nangung om..

 

Abul Jauza : Kembali saya katakan : Ini namanya memperbanyak cerita dan penukilan tapi gak paham apa yang ia ceritakan dan nukilkan tersebut.
Sudah menjadi pemakluman yang biasa bahwa banyak perawi yang disebutkan oleh Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh tanpa dsertai jarh maupun ta’diil-nya. Perawi yang seperti ini tidak bisa dikatakan telah dikuatkan atau ditautsiq Al-Bukhaariy, karena beliau tidak menyebutkan hal itu sebagai satu ketentuan dalam penulisan kitab Taariikh-nya. 
Kemudian berkaitan dengan perkataan Abu Haatim yang tidak dipahami Shafiyyah :

سألت ابي عن رواية الثقات عن رجل غير ثقة مما يقويه ؟ قال إذا كان معروفا بالضعف لم تقوه روايته عنه وإذا كان مجهولا نفعه رواية الثقة عنه

Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang riwayat para perawi tsiqaat dari seorang perawi yang tidak tsiqah yang menjadi penguatnya, maka ia (Abu Haatim) menjawab : “Apabila perawi tersebut ma’ruf dengan kedla’ifannya, maka riwayat perawi tsiqah tersebut tidak dapat menguatkannya. Namun bila perawi tersebut majhuul, maka riwayat perawi tsiqah tersebut darinya akan bermanfaat baginya” [selesai].

Perkataan di atas adalah benar. Bahkan sangat berkesesuaian dengan apa yang saya tulis sebelumnya. Periwayatan perawi tsiqah dari perawi majhuul memang bermanfaat untuk menguatkannya. Namun jika dikatakan ‘dapat bermanfaat baginya (perawi majhuul)’, apakah lantas dikatakan otomatis perawi tersebut menjadi shaduuq atau tsiqah dan/atau riwayatnya menjadi shahih atau hasan ?. Bo abo… mbok istiqraa’ dulu sama penjelasan ulama, jangan buru-buru menyimpulkan .

 

Shofiyyah : Om, om, kalo gak tahu dan bingung, jangan sok paham om?? Lebih baik Tanya…..
Apa kmu gak baca kmntar sy bahwa ulama ahli hadits mngtakan shighat jazm imam Bukhari itu dinilai sahih oleh merka. Buat apa imam Bukhari menampilkan riwayat dhoif dengan shighat JAZM?? Piker om, jangan ngelindur…mau bilang imam Bukhari wahm ?? kalau gak tahu lebih baik tanya om jangan merasa yakin gtu..

renungin apa kata imam al-Ibnasi di dalam kitabnya asy-Syadz al-Fayyah :

ولا نظن بالبخاري أن يجزم القول فيما ليس بصحيح عمن جزم به عنه.

” Dan kita tidak boleh menyangka bahwa Bukhari menggunakan shighat JAZM dalam periwayatannya itu dalam hadits yng bukan sahih dari orang yang beliau JAZM-kan “.

Artinya : Jika dalam ta’liq (sprti kitabnya Al-Adab al-Mufrad) imam Bukhari menngunakan shighat JAZM maka kita harus berkeyakinan bahwa itu riwayat yang sahih dan kuat.

paham gak om donie??

Ibnu Abdillah Al-Katibiy Biar tidak melenceng dari topik, saya ingin bertanya terkait tuduhan adanya IDHTHIRAB dalam riwayat Abu Ishaq di atas :

Ada petikan fatwa dari syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’nya berikut ini :

لأن أبا إسحاق كان الحديث يكون عنده عن جماعة يرويه عن هذا تارة وعن هذا تارة كما كان الزهري يروي الحديث تارة عن سعيد بن المسيب وتارة عن أبي سلمة وتارة يجمعهما فمن لا يعرفه فيحدث به تارة عن هذا وتارة عن هذا يظن بعض الناس أن ذلك غلط وكلاهما صحيح

” Karena Sesungguhnya Abu Ishaq hadits yang diriwayatkannya terkadang dari jama’ah yang ia riwayatkan dari fulan, terkadang dari fulan yang lainnya, sebagaimana az-Zuhri meriwayatkan hadits terkadang dari Sa’id bin al-Musayyab dan terkadang dari Abi Salamah dan terkadang menggabungkan keduanya, maka orang yang tidak mengetahuinya menyebutkan haditsnya terkadang dari fulan dan terkadang dari si fulan lainnya. Hal ini oleh sebagian orang disangka suatu kesalahan padahal keduanya sahih “.

Bagi yang tidak punya kitabnya bisa cek di sini :

http://islamport.com/d/2/ftw/1/30/2530.html

Pertanyaanya : Bagaimana tanggapan kalian terhadap fawta sayikh Ibnu Taimiyyah tersebut ?? samakah kasusnya dengan riwayat Abu Ishaq di atas tentang IDHTHIRAB??

Silakan dijawab bagi yang menilai adanya idhthirab atsar Ibnu Umar dari riwayat Abu Ishaq …

 

Dony Arif Wibowo  Biar tidak melenceng dari topik, tolong saya dibantu dulu agar dicontohkan satu atau dua hadits yang mengalami idlthirab dalam sanad sebagai starting pointnya, sehingga kita (saya khususnya) dan yang lainnya dapat mengetahui gambaran idlthirab sanad dalam suatu hadits dari Anda . Anda bisa mengambilnya beberapa contoh yang disebutkan para ulama, misalnya Ibnu Shalah, Ibnu Hajar, atau As-Suyuthiy dalam kitab-kitab mereka. Kemudian, kita cocokkan dengan kaedah yang disebutkan para ulama yang tercantum dalam kitab mushthalah dasar – meminjam perkataan ahli hadits Shafiyyah – mereka. Insya Allah itu lebih mudah daripada starting pointnya membahas satu perkataan ulama dalam kasus tertentu. 

Dan saya tahu kok mengapa Anda bersusah payah memilih contoh perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Mungkin Anda tahu – saya harap begitu – para ulama mempunyai kalam yang berbeda-beda dalam masalah penyikapan perselisihan dalam sanad satu hadits (antara marfu’-mauquf, mursal-maushul, dan yang lainnya). Ini penting untuk menyamakan persepsi dulu dalam satu permasalahan…..

Dan mohon diingat bahwa ketika atsar Ibnu ‘Umar saya katakan ada idlthirab dalam sanad itu dalam kondisi atau asumsi, saya menerima semua jalan riwayat yang ada sebagaimana dikatakan Shafiyyah, pemilik status (Ustadz Muhammad Makruf), dan rekan-rekan Anda yang lain yang berkesesuaian dengan keduanya.

 

Shofiyyah : om donie shrusnya bagi yang mengakui (al-mudda’i) itu menampilkan bayyinahnya dan mnjlaskannya sm kita org baru nnti kita menanggapi pnjsaln dr kmu…kok malah kita yg disueuh ngasih cntoh dl, apalgi cuma menampilkan contoh dr kmu sndiri kan paham dgn kitab2 yg udh kmu tentuin itu, mslh nti persepsi kita sama atau laen itu jd jalan diskusi om siapa yg sesuai persepsinya dgn jumhur muhadditsin tntang hadits mudhtharibnya…

ayoo kita tunggu om donie..

 

Kesimpulan intinya : Abul Jauza dan Abu Khaleed yang menuduh atsar Ibnu umar tersebut terjadi idhthirab, ternyata tidak paham makna idhthirab dalam hadits dan pembagiannya…terbukti dia minat diberikan contohnya terlebih dahulu. Debat Tentang Diroyah Atsar Ibnu Umar Yang Cuba Dilemahkan Oleh Wahabi | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published.