Home »Menjawab Wahabi »Berpuasa Atau Berbuka Ketika Bepergian dan Hendak Berperang Berpuasa Atau Berbuka Ketika Bepergian dan Hendak Berperang Review By: aswj-rg.com Restoran: Menjawab Wahabi

Menanggapi tulisan Dr Maza tentang Nabi dan sahabat tidak berpuasa ketika berperang. Kesimpulan Dr Maza dalam tulisannya itu adalah :

 

– Ia atau penanya menuduh ada kalangan penceramah yang berkata, Nabi menyuruh sahabat berpuasa ketika berperang.

– Ia menyimpulkan bahawasanya Nabi dan sahabat tidak pernah berpuasa ketika berperang.

 

Tajuk yang ditulis Dr Maza adalah :

“ BENARKAH NABI S.A.W DAN SAHABAT BERPERANG DALAM KEADAAN BERPUASA? “

Lalu menyimpulkan :

“ Ertinya dakwaan Nabi s.a.w menyuruh sahabat-sahabat berpuasa semasa perang adalah tidak benar. “

 

Tajuk dengan penyimpulan sedikit tidak sesuai dengan susunan ucapan yang ia maksudkan. Seharusnya ia menyimpulkan : “ Maka jelas Nabi dan sahabat berperang dalam keadaan tidak berpuasa “. Ini yang seharusnya disimpukan oleh Dr Maza sesuai huraiannya.

 

Lalu kenapa Dr Maza menyimpulkan bahwa :  “dakwaan Nabi s.a.w menyuruh sahabat-sahabat berpuasa semasa perang adalah tidak benar. “ ??

 

Siapakah penceramah yang mendakwa Nabi menyuruh sahabat-sahabat berpuasa semasa perang ? jika tuduhan Dr Maza ditujukan kepada rival akidahnya (al-asy’ariyya), maka jelas tuduhan ini tidak benar, kerana tak ada satu pun ulama atau ustadz dari kalangan asy’ariyyah yang menyatakan dalam ceramahnya “ Nabi menyuruh sahabat bepuasa semasa perang “.

 

Jika ada dari kalangan kami yang berceramah berkata seperti itu, maka jelas dia awam soal hadits ini, kami pun setuju ia bersalah, kerana justru Nabi di suatu kesempatan pernah menyuruh sahabat berbuka (tidak puasa) ketika hendak berperang.

 

Adapun persoalan yang dihuraikan Dr Maza yang secara mafhum menyimpulkan bahwa Nabi dan sahabat tidak berpuasa semasa perang, maka sepatutnya Dr Maza mengkaji lebih luas dan melihat nash-nash hadits lainnya dengan lebih teliti dan cermat. Mari kita bahas berikut ini :

 

Dalam riwayat Muslim :

 

عن قزعة قال : أتيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه وهو مكسور عليه. فلما تفرق الناس عنه، قلت: إني لا أسألك عما يسألك هؤلاء عنه. سألته عن الصوم في السفر ؟ فقال: سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى مكة ونحن صيام. قال: فنزلنا منزلا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إنكم قد دنوتم من عدوكم والفطر أقوى لكم”. فكانت رخصة. فمنا من صام ومنا من أفطر. ثم نزلنا منزلا آخر. فقال: “إنكم مصبحوا عدوكم. والفطر أقوى لكم، فأفطروا” وكانت عزمة. فأفطرنا. ثم قال: رأيتنا نصوم، مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك، في السفر.

Dari Faza’ah ia berkata, “Aku pernah datang kepada Abu Said Al-Khudri ketika ia sedang menerima tamu yang banyak. Setelah para tamu sudah bubar, aku katakan kepada Abu Said, ‘Aku tidak menanyakan kepadamu apa yang ditanyakan oleh mereka tadi. Aku menanyakan perihal puasa ketika safar’.

 

Maka Abu Said berkata, “Kami pernah melakukan safar menuju Makkah bersama Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam ketika kami sedang berpuasa. Lalu kami berhenti di suatu tempat. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya kalian telah dekat dengan musuh kalian dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian’

 

Hal itu merupakan rukhshah (keringanan). Sebagian dari kami ada yang berpuasa, dan sebagian yang lain ada yang berbuka. Kemudian kami berhenti lagi di tempat lain. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda,

‘Sungguh, kalian besok pagi akan menghadapi musuh, dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian. Oleh karena itu, berbukalah kalian !’.

 

Lalu kami pun berbuka. Setelah peristiwa itu, aku ketahui bahwa kami berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika safar” (HR. Muslim no. 1120)

 

Suasana perang ketika berkecamuk boleh jadi memerlukan tenaga yang sangat besar. Oleh karena itu para mujahid boleh tidak puasa ketika bulan Ramadhan. Bahkan berbuka terkadang dianjurkan jika lebih menguatkan badan para mujahid.  Kondisi seperti inilah yang danjurkan untuk tidak berpuasa.

 

Al-Hafidz mengomentari hadits tersebut sebagai berikut :

 

وهذا الحديث نص في المسألة ، ومنه يؤخذ الجواب عن نسبته – صلى الله عليه وسلم – الصائمين إلى العصيان ؛ لأنه عزم عليهم فخالفوا ، وهو شاهد لما قلناه من أن الفطر أفضل لمن شق عليه الصوم ، ويتأكد ذلك إذا كان يحتاج إلى الفطر للتقوي به على لقاء العدو ، وروى الطبري في تهذيبه من طريق خيثمة سألت أنس بن مالك عن الصوم في السفر فقال : لقد أمرت غلامي أن يصوم ، قال فقلت له : فأين هذه الآية : فعدة من أيام أخر فقال : إنها نزلت ونحن نرتحل جياعا وننزل على غير شبع ، وأما اليوم فنرتحل شباعا وننزل على شبع   ، فأشار   أنس   إلى الصفة التي يكون فيها الفطر أفضل من الصوم

“ Hadits ini adalah nash dalam masalah, dari situ dapat diambil sebagai jawapan tentang penisbatan Nabi orang yang masih berpuasa dengan durhaka, karena Nabi memerintahkan pada mereka tapi mereka melanggarnya. Ini sebagai syahid terhadap apa yang telah kami katakan bahwa berbuka lebih utama bagi yang merasa berat atasnya berpuasa, dan menjadi ditekankan jika ia butuh berbuka untuk menguatkan badan ketika bertemu musuh. Ath-Thabari telah meriwayatkan di dalam tahdzibnya dari jalan Khaitsamah, aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang puasa di waktu bepergian, maka beliau menjawab : “ Aku memerintahkan pelayanku untuk berpuasa “, maka aku bertanya lagi, “ Lalu bagaimana dengan ayat ini, “ Maka bilangan di hari-hari yang lainnya “ ?, maka beliau menjawab, “ Ayat itu turun sedangkan kita bepergian dalam keadaan lapar dan turun dalam keadaan tidak kenyang, adapun hari ini, maka kita bepergian dalam keadaan kenyang dan turun dalam keadaan kenyang “. Maka Anas telah mengisyaratkan kepada sifat di mana berbuka lebih utama daripada berpuasa “.[1]

 

Kesimpulannya :

 

– Dalam keadaan bepergian, ketika kondisi tubuh masih kuat, maka boleh tetap berpuasa. Dan jika kondisi tubuh berat atau lemah, maka boleh tidak berpuasa.

– Dalam hadits itu, Nabi mengatakan agar para sahabat berbuka, maka para sahabat melihat itu anjuran dari Nabi, sehingga di kalangan sahabat ada yang berbuka (tidak puasa) dan ada yang tetap masih berpuasa. Kemudian berhenti kembali di suatu tempat, dan Nabi memerintahkan para sahabat untuk berbuka, maka sahabat memandangnya suatu perintah, sehingga mereka semua berbuka.

– Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar yang berusaha memadukan hadits-hadits yang secara zahir bertentangan sangatlah tepat. Yakni larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat ketika itu untuk tidak berpuasa, adalah bagi mereka yang keadaannya merasakan berat dengan berpuasa terutama ketika hendak bertemu dengan musuh untuk berperang. Adapun bagi mereka yang masih kuat, maka boleh untuk tetap berpuasa. Dan soal Nabi mengatakan mereka durhaka, mereka durhaka “, disebabkan sebagian mereka tetap berpuasa setelah Nabi memerintahkan untuk berbuka ketika melihat kondisi mereka lemah dan merasa berat/beban.

 

Sebagaimana hadits sahih berikut ini :

 

كنا نغزو مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في رمضان فمنا الصائم ومنا المفطر، فلا يجد الصائم على المفطر ولا المفطر على الصائم، يرون أن من وجد قوة فصام فإن ذلك حسن، ويرون أن من وجد ضعفا فأفطر فإن ذلك حسن

“ Kami pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Maka di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang berbuka, orang-orang yg berpuasa tidak mencela orang-orang yg berbuka begitu juga sebaliknya. Mereka semuanya berpendapat, siapa yg memiliki kekuatan lalu dia berpuasa, maka hal itu baik & siapa yg merasa lemah lalu berbuka, maka hal itu juga baik “.[HR. Tirmidzi No.647]. Abu ‘Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih.

 

Di hadits ini jelas, bahwasanya saat perang bersama Nabi saat itu, di antara sahabat ada yang berpuasa dan ada yang berbuka. Maka hadits di mana Nabi memerintahkan untuk berbuka dimungkinkan di waktu perang yang lainnya, di saat para sahabat merasakan berat dan lelah dalam berpuasa saat itu.

 

 

Dalam riwayat lain dari Anas ketika menjawab orang yang bertanya tentang puasa Ramdhan di dalam safar / bepergian :

سافرنا مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في رمضان فلم يعب الصائم على المفطر ولا المفطر على الصائم

“ Kami berpergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa “. (HR. Muslim :1117)

 

Dalam riwayat sahih yang lainnya :

 

خرجنا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – في شهر رمضان في حر شديد حتى إن كان أحدنا ليضع يده على رأسه من شدة الحر وما فينا صائم إلا رسول الله  صلى الله عليه وسلم وعبد الله بن رواحة

“ Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramahdan di cuaca yang sangat panas hingga salah satu kami meletakkan tangannya di kepalanya karena sangat panasnya, dan tidak seorang pun dari kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rawwahah “. (HR. Bukhari)

 

Dalam riwayat yang lain yang dikeluarkan oleh Imam Malik dalam Muwatha’nya dari Abu Bakar dari Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi, ia berkata :

 

رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أمر الناس في سفره عام الفتح بالفطر وقال : ” تقووا لعدوكم ” ، وصام رسول الله صلى الله عليه وسلم  

 “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia ketika safar di tahun pembukaan Makkah untuk berbuka dan bersabda, “ Berlaku kuatlah kalian untuk berjumpa musuh kalian “, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berpuasa “.(Hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Abdil Barr)

 

Wa Allahu A’lam bish Showaab..

 

Team ARG (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Research Group)

3 Ramadhan 1435 H / 2 Juli 2014 M

 

 

[1] Fath al-Bari, kitab ash-Shaum : 217 Berpuasa Atau Berbuka Ketika Bepergian dan Hendak Berperang | aswj-rg.com | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *